Senin, 14 September 2026

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibuk menghitung dosa orang lain. Shalatnya bagaimana? Jamaahnya bagaimana? Bajunya bagaimana? Masjidnya di mana?

Saya sendiri kadang berpikir, kalau urusan agama hanya dipakai untuk memeriksa orang lain, jangan-jangan kita lupa bahwa yang paling dekat untuk diperiksa sebenarnya adalah diri sendiri.

Sebab Rasulullah saw. pernah menyampaikan sebuah hadis yang membuat saya cukup lama merenung:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Perhatikan kalimatnya. Rasulullah tidak mengatakan tali Islam akan putus sekaligus. Satu demi satu. Perlahan-lahan. Seperti orang yang menarik benang dari kain. Mula-mula kita tidak terlalu memperhatikan. Lama-lama kainnya berubah bentuk.

Begitu pula kehidupan beragama.

Ada nilai yang mulai kita tinggalkan. Amanah tidak lagi dianggap penting. Kejujuran bisa dinegosiasikan. Keadilan tergantung siapa yang berperkara. Ilmu agama dipelajari untuk mendapatkan gelar, bukan untuk mendapatkan kebijaksanaan. Kekuasaan dicari dengan segala cara, lalu setelah mendapatkannya kita sibuk mencari pembenaran.

Yang menarik, manusia biasanya tidak merasa dirinya sedang kehilangan agama.

Ia masih memakai identitas agama.

Masih mengucapkan salam.

Masih datang ke pengajian.

Masih memasang ayat di dinding.

Masih marah kalau agamanya dikritik.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari kehidupannya.

Di sinilah hadis tadi terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.

Tali pertama bisa terlepas, lalu tali kedua. Kemudian tali ketiga. Namun manusia masih merasa aman karena masih memegang tali yang lain.

Sampai akhirnya tinggal shalat.

Rasulullah saw. juga bersabda:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلَاةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Kalau begitu, shalat sebenarnya adalah persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam.

Shalat adalah hubungan.

Hubungan manusia dengan Allah.

Dan dari hubungan itu seharusnya lahir hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia.

Saya sering merasa ada sesuatu yang lucu dalam kehidupan kita. Kita bisa berdebat berjam-jam mengenai hukum sesuatu, tetapi lima menit sebelum azan selesai kita masih sibuk mencari sandal.

Kita bisa sangat marah ketika orang lain dianggap merendahkan agama, tetapi kita sendiri kadang dengan ringan merendahkan manusia.

Kita rajin berbicara tentang masyarakat Islam yang ideal, tetapi tetangga sebelah rumah mungkin tidak pernah merasakan kebaikan kita.

Di sinilah agama menjadi menarik sekaligus menantang. Agama bukan hanya soal bagaimana kita berdiri di hadapan Allah. Agama juga menguji bagaimana kita berdiri di hadapan manusia.

Al-Qur’an menggambarkan pandangan orang yang menganggap hidup hanya berhenti di dunia:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Ayat ini membuat saya berpikir tentang zaman kita. Dunia modern memberi kita banyak hal. Teknologi berkembang. Informasi bergerak sangat cepat. Manusia bisa berbicara dengan orang di benua lain hanya dalam hitungan detik.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab oleh teknologi: untuk apa manusia hidup?

Telepon pintar semakin pintar. Manusia belum tentu.

Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.

Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia, tetapi kadang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati sendiri.

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik membayangkan agama hanya dalam bentuk slogan besar tentang hukum, politik, ekonomi, atau kekuasaan. Semua itu penting. Tetapi agama juga harus hadir dalam perkara yang lebih sederhana: apakah kita amanah, apakah kita adil, apakah kita jujur, apakah kita mampu menahan diri, dan apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh kehilangan rujukan moral. Kekuasaan membutuhkan amanah. Perbedaan membutuhkan kebijaksanaan. Perselisihan membutuhkan rujukan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi.

Tetapi saya kira ada satu hal yang perlu kita ingat. Jangan menjadikan pembicaraan tentang hukum Allah sebagai alasan untuk merasa diri paling suci. Kita boleh memperjuangkan nilai Islam. Kita boleh menginginkan masyarakat yang lebih religius. Tetapi cara memperjuangkannya tetap harus menunjukkan akhlak Islam.

Kalau kita berbicara tentang keadilan sambil berlaku tidak adil, orang akan bingung.

Kalau kita berbicara tentang kasih sayang sambil gemar mencaci, orang akan bertanya.

Kalau kita berbicara tentang Islam tetapi kehadiran kita membuat orang lain takut, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.

Agama seharusnya membuat manusia lebih manusiawi.

Mungkin itu pula sebabnya saya lebih suka memulai pembicaraan tentang shalat dari diri sendiri.

Bukan bertanya, “Mengapa mereka tidak shalat?”

Tetapi, “Mengapa saya masih sering menunda shalat?”

Bukan, “Mengapa mereka tidak berjamaah?”

Tetapi, “Apakah saya sudah merasakan kebutuhan untuk bertemu Allah?”

Bukan, “Mengapa masyarakat semakin jauh dari agama?”

Tetapi, “Apakah perilaku saya membuat agama terasa dekat bagi orang lain?”

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam.

Imam Ahmad juga memberikan peringatan yang senada. Orang yang meremehkan shalat berarti meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan shalat orang lain. Saya juga tidak ingin terlalu sibuk mengukurnya.

Yang saya tahu, saya sendiri masih harus banyak belajar.

Belajar agar shalat tidak hanya selesai dalam lima waktu, tetapi juga meninggalkan bekas dalam perilaku.

Belajar agar setelah mengucapkan salam, kita tidak kembali menjadi manusia yang suka menyakiti.

Belajar agar sujud tidak hanya membuat dahi menyentuh sajadah, tetapi juga membuat kesombongan sedikit turun.

Sebab mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan ketika kita kehilangan banyak hal sekaligus.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika kita kehilangan agama sedikit demi sedikit, sementara kita merasa semuanya masih baik-baik saja.

Sampai akhirnya tinggal satu tali.

Tali terakhir.

Namanya shalat.

Semoga tali itu tetap kita pegang.

Sebab kalau tali terakhir itu pun terlepas, kepada siapa lagi kita akan kembali?

Ketika Dua Dirham Menjadi Soal Besar: Pelajaran Rasulullah tentang Korupsi dan Amanah


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada kisah yang selalu membuat saya berhenti sejenak ketika membaca hadis tentang ghulul. Nilainya hanya dua dirham. Bukan harta dalam jumlah besar. Bukan pula kekayaan yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Hanya beberapa manik-manik yang nilainya sangat kecil. Tetapi Rasulullah ﷺ memandang persoalan itu dengan keseriusan yang luar biasa.

عن زيد لن خالد الوجهات رضي الله عنه قال،
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَٰلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيْهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ، مَا يَسْوِي دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

"Seorang sahabat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam wafat pada hari (perang) Khaibar, lalu hal itu diberitahukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Maka beliau bersabda:

'Shalatkanlah jenazah teman kalian!'

Wajah para sahabat pun berubah (keheranan/kecewa karena biasanya Rasulullah yang memimpin shalat jenazah).

Lalu beliau bersabda:

'Sesungguhnya teman kalian telah berkhianat di jalan Allah (ghulul).'

Kami pun memeriksa barang-barangnya, dan ternyata kami menemukan manik-manik milik Yahudi, yang nilainya tidak lebih dari dua dirham."

(HR. Abu Dawud, no. 2713; Ahmad, no. 16316)

Saya membaca hadis ini bukan sekadar sebagai cerita tentang seorang sahabat pada masa perang. Saya justru merasa hadis ini seperti cermin yang diarahkan kepada kehidupan kita hari ini. Sebab persoalan utama dalam hadis ini bukan manik-manik. Persoalannya adalah amanah.

Rasulullah ﷺ tidak sedang mengatakan bahwa benda seharga dua dirham itu dapat dibandingkan dengan korupsi bernilai miliaran rupiah. Yang hendak ditegaskan adalah sesuatu yang lebih mendasar. Harta yang bukan hak kita tetap bukan hak kita, berapa pun nilainya.

Di sinilah kadang-kadang kita mengalami persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan uang. Kita sering memiliki kemampuan untuk membenarkan kesalahan karena nilainya kecil. "Ah, cuma sedikit." "Tidak akan terasa." "Semua orang juga melakukan." Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sanalah kebiasaan buruk dapat memperoleh tempat.

Saya membayangkan betapa kerasnya pendidikan moral yang diberikan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak melarang para sahabat menyalatkan jenazah tersebut. Beliau hanya tidak ikut menjadi imam. Seolah-olah ada pesan yang sangat dalam: masyarakat tetap harus mengurus jenazah seorang Muslim, tetapi umat perlu mengetahui bahwa pengkhianatan terhadap amanah bukan perkara ringan.

Bagi saya, tindakan Rasulullah ﷺ itu memperlihatkan cara pendidikan yang sangat manusiawi. Beliau tidak sedang mempermalukan seseorang untuk memuaskan kemarahan. Beliau sedang mendidik masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan moral.

Kalau hari ini kita berbicara tentang korupsi, barangkali kita terlalu sering membayangkan angka-angka besar. Miliaran. Triliunan. Proyek besar. Anggaran negara. Jabatan tinggi. Padahal penyakitnya bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Mengambil uang kas sedikit demi sedikit. Memanfaatkan kendaraan lembaga untuk urusan keluarga tanpa izin. Mengubah angka laporan agar terlihat bagus. Memotong dana kegiatan dengan alasan "sekadar uang lelah". Semua mungkin terlihat kecil ketika berdiri sendiri.

Tetapi amanah memang tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal.

Al-Qur'an mengingatkan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Ada satu kata yang menurut saya penting dalam ayat tersebut: "أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ", sedang kamu mengetahui.

Artinya, persoalan pengkhianatan amanah sering kali bukan karena kita tidak tahu. Kita tahu bahwa itu salah. Kita tahu uang itu bukan milik kita. Kita tahu fasilitas itu diberikan untuk kepentingan lembaga. Kita tahu laporan itu seharusnya jujur. Tetapi pengetahuan tersebut kadang kalah oleh kesempatan dan kepentingan pribadi.

Di situlah hati manusia diuji.

Saya pernah melihat bahwa dalam kehidupan organisasi, persoalan yang paling sulit bukan selalu soal kemampuan seseorang. Kadang justru soal bagaimana seseorang bersikap ketika tidak ada yang melihat. Ketika memegang uang yang bukan miliknya. Ketika memiliki kewenangan yang tidak diawasi. Ketika mempunyai kesempatan mengambil sesuatu tanpa diketahui orang lain.

Karakter seseorang sering terlihat bukan ketika dia sedang diawasi, melainkan ketika dia merasa aman untuk berbuat apa saja.

Hadis tentang dua dirham ini membuat saya berpikir bahwa membangun budaya antikorupsi seharusnya dimulai dari pendidikan tentang amanah. Anak-anak perlu belajar bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya tetap salah meskipun kecil. Mahasiswa perlu memahami bahwa plagiarisme kecil tetap merupakan ketidakjujuran akademik. Pegawai perlu memahami bahwa manipulasi kecil dalam laporan tetap merupakan pengkhianatan. Pemimpin perlu menyadari bahwa menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi juga merupakan bentuk penyimpangan amanah.

Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat tinggi untuk belajar tentang integritas.

Mungkin justru di ruang-ruang kecil kehidupan kita, latihan itu dimulai. Mengembalikan uang kembalian yang berlebih. Tidak mengklaim pekerjaan orang lain. Tidak memalsukan kehadiran. Tidak menggunakan uang lembaga untuk kepentingan pribadi. Tidak mengambil hak orang lain hanya karena tidak ada yang mengetahui.

Perkara-perkara kecil itulah yang membentuk kebiasaan.

Saya juga belajar dari hadis ini bahwa ukuran dosa tidak selalu dapat dibaca dari harga barang. Dua dirham mungkin kecil secara ekonomi. Tetapi pengkhianatan yang menyertainya memiliki dimensi moral yang jauh lebih besar.

Karena yang rusak bukan hanya nilai barang. Yang rusak adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan rusak, sebuah organisasi dapat kehilangan fondasi. Sekolah kehilangan kepercayaan. Kampus kehilangan marwah. Lembaga sosial kehilangan simpati. Pemerintahan kehilangan legitimasi. Bahkan keluarga dapat retak ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi dapat saling percaya.

Barangkali karena itu Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran yang begitu tegas. Jangan meremehkan sesuatu hanya karena nilainya kecil. Jangan menganggap pelanggaran amanah sebagai perkara sepele hanya karena jumlahnya sedikit.

Saya tidak sedang menunjuk siapa-siapa ketika menulis ini. Justru hadis ini pertama-tama saya rasakan sebagai teguran kepada diri sendiri. Sebab amanah tidak hanya berada di tangan pejabat, bendahara, pemimpin, atau pengelola anggaran. Setiap orang memiliki amanahnya sendiri.

Guru memiliki amanah. Dosen memiliki amanah. Orang tua memiliki amanah. Pemimpin memiliki amanah. Pengurus organisasi memiliki amanah. Bahkan seseorang terhadap waktu, ilmu, jabatan, dan kepercayaan orang lain juga memiliki amanah.

Mungkin kita tidak pernah mengambil manik-manik seharga dua dirham. Tetapi pertanyaannya lebih dalam: apakah pernah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita lalu berkata dalam hati, "Tidak apa-apa, toh kecil"?

Hadis ini mengajak saya untuk lebih takut pada kalimat tersebut.

Sebab korupsi yang besar mungkin bermula dari keberanian terhadap kesalahan yang kecil. Dan integritas yang besar juga bermula dari keberanian mengembalikan sesuatu yang sebenarnya bisa saja kita ambil.

Dua dirham akhirnya menjadi pelajaran yang jauh lebih mahal. Ia mengingatkan bahwa amanah tidak memiliki ukuran kecil atau besar. Amanah hanya mengenal satu pertanyaan: apakah sesuatu itu hak kita atau bukan?

Jika bukan hak kita, maka meninggalkannya adalah bentuk kejujuran.

Dan mungkin di situlah agama bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar membuat kita takut kepada hukuman, tetapi membuat kita malu mengambil sesuatu yang bukan milik kita, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Karena boleh jadi manusia tidak melihat.

Tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan pandangan.

Ketika Tali Terakhir Itu Bernama Shalat

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sesuatu yang sering kita anggap sederhana, padahal sesungguhnya sangat menentukan arah hidup seorang Muslim. Namanya shalat. Lima kali sehari. Waktunya sudah ditentukan. Gerakannya juga sudah diajarkan. Anehnya, sesuatu yang begitu rutin justru sering menjadi perkara yang paling mudah ditunda.

Saya teringat sebuah hadis yang menggambarkan keadaan umat manusia dengan sangat tajam. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Hadis ini membuat saya merenung. Rasulullah tidak menggambarkan runtuhnya kehidupan beragama sebagai sebuah peristiwa yang terjadi sekaligus. Ia menggambarkannya seperti tali yang terurai satu per satu. Ada sesuatu yang hilang, kemudian sesuatu yang lain menyusul.

Dalam kehidupan nyata, kita mungkin pernah menyaksikan proses semacam itu. Mula-mula seseorang mulai menganggap nilai agama tidak terlalu penting. Kemudian amanah mulai longgar. Kejujuran dianggap sebagai pilihan. Keadilan menjadi slogan. Ilmu agama dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan berjalan tanpa ruh. Ekonomi mengejar keuntungan tanpa memperhatikan halal dan haram. Politik kehilangan etika. Budaya lebih sibuk mengejar popularitas daripada membangun martabat manusia.

Tetapi selama shalat masih dilakukan, masih ada satu tali yang dipegang.

Itulah sebabnya hadis tersebut terasa begitu kuat. Shalat disebut sebagai tali yang terakhir terlepas. Artinya, dalam keadaan paling jauh sekalipun, masih ada pintu untuk kembali. Masih ada hubungan yang belum sepenuhnya putus antara manusia dan Tuhannya.

Saya kira di sinilah kita perlu berhati-hati. Hadis ini jangan dijadikan alat untuk mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu perjalanan batin seseorang. Ada orang yang shalatnya masih berantakan, tetapi hatinya sedang berjuang kembali. Ada pula orang yang tampak sangat religius, tetapi masih bergulat dengan kejujuran, kesombongan, dan kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, persoalan shalat sebaiknya pertama-tama kita tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah shalat kita masih menjadi kebutuhan atau sekadar kewajiban administratif kepada Tuhan?

Ada hadis lain yang semakin menguatkan renungan ini:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Saya membaca hadis ini bukan sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Justru sebaliknya. Ia seperti cermin. Kalau shalat adalah sesuatu yang terakhir tersisa, maka kita harus bertanya: ketika yang lain mulai hilang dari kehidupan kita, apakah shalat masih benar-benar kita jaga?

Sebab shalat seharusnya tidak berhenti di atas sajadah.

Kalau seseorang rajin shalat tetapi masih mudah mengambil hak orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Kalau seseorang tekun beribadah tetapi mudah memfitnah, mungkin ada yang belum selesai dalam penghayatan shalatnya. Kalau kita berdiri menghadap Allah, lalu setelah salam kembali menzalimi manusia, tentu ada jarak antara ritual dan kesadaran.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan tentang cara pandang manusia yang kehilangan orientasi akhirat:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mungkin problem terbesar manusia modern bukan karena tidak memiliki agama. Problemnya adalah agama sering berhenti sebagai identitas. Kita punya nama Islam, tetapi belum tentu nilai Islam menjadi cara berpikir dan cara hidup.

Kita bisa melihatnya dalam banyak bidang. Ketika hukum kehilangan keadilan, ekonomi kehilangan etika, politik kehilangan amanah, pendidikan kehilangan keteladanan, dan kebudayaan kehilangan adab, agama akhirnya tinggal menjadi ornamen.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Namun, saya juga belajar bahwa membicarakan agama tidak cukup dengan mengatakan bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan slogan. Kehidupan jauh lebih rumit. Yang kita perlukan adalah menghadirkan nilai agama dalam keadilan, amanah, kejujuran, kasih sayang, ilmu, dan tanggung jawab.

Di sinilah shalat mempunyai makna yang sangat penting. Ia mengingatkan manusia berkali-kali dalam sehari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta. Ada Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan.

Karena itu, jangan sampai tali terakhir itu pun kita lepaskan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Imam Ahmad juga mengingatkan bahwa orang yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan nasihat kepada orang lain. Rasanya lebih pantas jika saya menutupnya dengan pertanyaan kepada diri sendiri.

Apakah saya masih menjaga shalat ketika tidak ada yang melihat?

Apakah shalat sudah membuat saya lebih jujur?

Apakah setelah salam saya menjadi manusia yang lebih aman bagi orang lain?

Sebab mungkin persoalannya bukan sekadar apakah kita masih shalat. Persoalannya adalah apakah shalat masih menjaga kita.

Jika suatu hari banyak tali dalam kehidupan kita mulai terlepas, semoga tali terakhir itu tidak ikut putus.

Semoga ia tetap bernama shalat.

Menjadi Perantara Kebaikan, Tanpa Ribet Jadi Pahlawan

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

,عن أَبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أتاهُ طَالِبُ حَاجَةٍ أقبَلَ عَلَى جُلَسَائِهِ، فَقَالَ: ((اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي الله عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا أحبَّ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., berkata:
"Rasulullah Saw. itu apabila didatangi oleh seseorang yang meminta hajat, maka beliau menghadap semua kawan-kawan duduknya, kemudian bersabda:
"Berilah pertolongan padanya, nescayalah engkau semua mendapatkan pahala dan Allah Swt akan memutuskan apa-apa yang disenanginya atas lisan nabiNya."
(Muttafaq 'alaih)

Ada satu kebiasaan kecil dalam hidup kita yang sering dianggap sepele. Kita membantu orang lain dengan cara yang sangat sederhana. Kadang hanya menyampaikan pesan. Kadang sekadar mengenalkan seseorang kepada orang lain. Kadang hanya bilang, “coba hubungi si A, mungkin dia bisa bantu.” Selesai. Tidak ada seremoni. Tidak ada tepuk tangan.

Padahal, dalam hadis ini, Nabi justru mengangkat hal sederhana itu menjadi sesuatu yang besar. Bukan karena hasilnya. Tapi karena keberanian untuk ikut ambil bagian dalam kebaikan.

Menariknya, Nabi tidak mengatakan, “pastikan masalahnya selesai.” Nabi hanya mengatakan, “berilah pertolongan, kalian akan mendapat pahala.” Artinya jelas. Yang dihitung bukan sukses atau gagal. Tapi kemauan untuk terlibat.

Di sini kita sering keliru. Kita terlalu sibuk menimbang hasil. Kalau kira-kira tidak berhasil, kita mundur. Kalau tidak yakin bisa membantu, kita diam. Bahkan kadang pura-pura tidak tahu. Padahal bisa jadi, justru di situlah ladang pahala yang sedang lewat.

Nabi memberi pelajaran yang sangat manusiawi. Kita tidak diminta jadi penyelesai semua masalah. Kita hanya diminta jadi jembatan. Itu saja.

Dan jembatan itu tidak pernah ditanya apakah dia sampai ke tujuan atau tidak. Dia hanya menjalankan fungsinya, menghubungkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang sebenarnya punya akses, punya relasi, punya kemampuan, tapi memilih diam. Alasannya sederhana. Takut repot. Takut tidak berhasil. Atau takut disalahkan kalau ternyata gagal.

Padahal, kalau kita renungkan, kegagalan itu bukan urusan kita. Itu wilayah Allah.

“Dan Allah Swt pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya.”

Kalimat ini seperti mengingatkan kita. Ada batas antara usaha manusia dan keputusan Tuhan. Kita bergerak di wilayah usaha. Hasil bukan milik kita.

Lalu Al-Qur’an menguatkan prinsip ini:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

"Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.
(QS. An-Nisa : 85)

Ayat ini tidak menyebutkan bahwa syafaat itu harus berhasil. Yang disebut hanya satu, “memberikan syafaat yang baik.” Maka ia mendapat bagian. Selesai.

Ini menarik. Karena dalam logika modern, kita sering diajari berpikir efektif. Semua harus terukur. Semua harus ada hasil. Bahkan kebaikan pun kadang dihitung dengan angka.

Padahal agama mengajarkan sesuatu yang lebih halus. Ada nilai pada proses. Ada pahala pada niat yang bergerak. Ada keberkahan pada langkah kecil yang mungkin tidak terlihat.

Di sisi lain, ada juga pesan yang cukup halus tapi penting. Islam tidak mendorong budaya meminta-minta. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.
(QS. Al Baqoroh : 273)

Ayat ini seperti memberi gambaran. Ada orang yang butuh, tapi tidak meminta. Mereka menjaga harga diri. Di sinilah peran kita menjadi penting. Kita tidak menunggu diminta. Kita peka.

Di titik ini, menjadi perantara kebaikan bukan lagi soal membantu orang yang datang. Tapi juga mencari orang yang tidak datang.

Ini pekerjaan sunyi. Tidak viral. Tidak banyak yang melihat. Tapi justru di situlah letak keikhlasannya.

Gaya hidup hari ini sering membuat kita sibuk dengan urusan sendiri. Kita punya alasan. Pekerjaan banyak. Target menumpuk. Waktu terbatas. Tapi di tengah itu, sebenarnya selalu ada ruang kecil untuk menjadi jembatan.

Kadang hanya butuh satu kalimat.
Kadang hanya butuh satu nomor telepon.
Kadang hanya butuh satu rekomendasi.

Selesai.

Tidak perlu jadi tokoh besar. Tidak perlu punya jabatan tinggi. Tidak perlu dikenal banyak orang. Cukup punya kepedulian.

Dan yang menarik, ketika kita mulai terbiasa membantu dengan cara seperti ini, kita sedang melatih diri. Melatih kepekaan. Melatih keberanian. Melatih keikhlasan.

Karena tidak semua bantuan itu terlihat hasilnya. Tidak semua usaha itu langsung berbuah. Tapi setiap langkah itu dicatat.

Dalam banyak kasus, justru orang yang sering menjadi perantara kebaikan ini hidupnya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya sedikit. Tapi karena hatinya tidak sempit.

Ia tahu satu hal. Hidup ini bukan soal menjadi pusat segalanya. Tapi menjadi bagian dari aliran kebaikan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, dari langkah kecil itu Allah membuka pintu-pintu lain. Pertemuan baru. Rezeki baru. Kemudahan yang tidak kita rencanakan.

Bukan karena kita hebat. Tapi karena kita mau ikut dalam arus kebaikan.

Hadis ini sederhana. Tapi kalau dijalankan, dampaknya luas. Ia mengubah cara kita melihat bantuan. Ia mengubah cara kita menilai peran diri.

Kita tidak lagi menunggu jadi orang penting untuk berbuat baik. Kita cukup jadi orang yang mau bergerak.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan ajaran ini. Tidak rumit. Tidak berat. Tapi dalam.

Menjadi perantara kebaikan, ternyata tidak butuh jadi siapa-siapa. Cukup jadi manusia yang peduli.

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...