Senin, 14 September 2026

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibuk menghitung dosa orang lain. Shalatnya bagaimana? Jamaahnya bagaimana? Bajunya bagaimana? Masjidnya di mana?

Saya sendiri kadang berpikir, kalau urusan agama hanya dipakai untuk memeriksa orang lain, jangan-jangan kita lupa bahwa yang paling dekat untuk diperiksa sebenarnya adalah diri sendiri.

Sebab Rasulullah saw. pernah menyampaikan sebuah hadis yang membuat saya cukup lama merenung:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Perhatikan kalimatnya. Rasulullah tidak mengatakan tali Islam akan putus sekaligus. Satu demi satu. Perlahan-lahan. Seperti orang yang menarik benang dari kain. Mula-mula kita tidak terlalu memperhatikan. Lama-lama kainnya berubah bentuk.

Begitu pula kehidupan beragama.

Ada nilai yang mulai kita tinggalkan. Amanah tidak lagi dianggap penting. Kejujuran bisa dinegosiasikan. Keadilan tergantung siapa yang berperkara. Ilmu agama dipelajari untuk mendapatkan gelar, bukan untuk mendapatkan kebijaksanaan. Kekuasaan dicari dengan segala cara, lalu setelah mendapatkannya kita sibuk mencari pembenaran.

Yang menarik, manusia biasanya tidak merasa dirinya sedang kehilangan agama.

Ia masih memakai identitas agama.

Masih mengucapkan salam.

Masih datang ke pengajian.

Masih memasang ayat di dinding.

Masih marah kalau agamanya dikritik.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari kehidupannya.

Di sinilah hadis tadi terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.

Tali pertama bisa terlepas, lalu tali kedua. Kemudian tali ketiga. Namun manusia masih merasa aman karena masih memegang tali yang lain.

Sampai akhirnya tinggal shalat.

Rasulullah saw. juga bersabda:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلَاةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Kalau begitu, shalat sebenarnya adalah persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam.

Shalat adalah hubungan.

Hubungan manusia dengan Allah.

Dan dari hubungan itu seharusnya lahir hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia.

Saya sering merasa ada sesuatu yang lucu dalam kehidupan kita. Kita bisa berdebat berjam-jam mengenai hukum sesuatu, tetapi lima menit sebelum azan selesai kita masih sibuk mencari sandal.

Kita bisa sangat marah ketika orang lain dianggap merendahkan agama, tetapi kita sendiri kadang dengan ringan merendahkan manusia.

Kita rajin berbicara tentang masyarakat Islam yang ideal, tetapi tetangga sebelah rumah mungkin tidak pernah merasakan kebaikan kita.

Di sinilah agama menjadi menarik sekaligus menantang. Agama bukan hanya soal bagaimana kita berdiri di hadapan Allah. Agama juga menguji bagaimana kita berdiri di hadapan manusia.

Al-Qur’an menggambarkan pandangan orang yang menganggap hidup hanya berhenti di dunia:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Ayat ini membuat saya berpikir tentang zaman kita. Dunia modern memberi kita banyak hal. Teknologi berkembang. Informasi bergerak sangat cepat. Manusia bisa berbicara dengan orang di benua lain hanya dalam hitungan detik.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab oleh teknologi: untuk apa manusia hidup?

Telepon pintar semakin pintar. Manusia belum tentu.

Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.

Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia, tetapi kadang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati sendiri.

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik membayangkan agama hanya dalam bentuk slogan besar tentang hukum, politik, ekonomi, atau kekuasaan. Semua itu penting. Tetapi agama juga harus hadir dalam perkara yang lebih sederhana: apakah kita amanah, apakah kita adil, apakah kita jujur, apakah kita mampu menahan diri, dan apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh kehilangan rujukan moral. Kekuasaan membutuhkan amanah. Perbedaan membutuhkan kebijaksanaan. Perselisihan membutuhkan rujukan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi.

Tetapi saya kira ada satu hal yang perlu kita ingat. Jangan menjadikan pembicaraan tentang hukum Allah sebagai alasan untuk merasa diri paling suci. Kita boleh memperjuangkan nilai Islam. Kita boleh menginginkan masyarakat yang lebih religius. Tetapi cara memperjuangkannya tetap harus menunjukkan akhlak Islam.

Kalau kita berbicara tentang keadilan sambil berlaku tidak adil, orang akan bingung.

Kalau kita berbicara tentang kasih sayang sambil gemar mencaci, orang akan bertanya.

Kalau kita berbicara tentang Islam tetapi kehadiran kita membuat orang lain takut, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.

Agama seharusnya membuat manusia lebih manusiawi.

Mungkin itu pula sebabnya saya lebih suka memulai pembicaraan tentang shalat dari diri sendiri.

Bukan bertanya, “Mengapa mereka tidak shalat?”

Tetapi, “Mengapa saya masih sering menunda shalat?”

Bukan, “Mengapa mereka tidak berjamaah?”

Tetapi, “Apakah saya sudah merasakan kebutuhan untuk bertemu Allah?”

Bukan, “Mengapa masyarakat semakin jauh dari agama?”

Tetapi, “Apakah perilaku saya membuat agama terasa dekat bagi orang lain?”

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam.

Imam Ahmad juga memberikan peringatan yang senada. Orang yang meremehkan shalat berarti meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan shalat orang lain. Saya juga tidak ingin terlalu sibuk mengukurnya.

Yang saya tahu, saya sendiri masih harus banyak belajar.

Belajar agar shalat tidak hanya selesai dalam lima waktu, tetapi juga meninggalkan bekas dalam perilaku.

Belajar agar setelah mengucapkan salam, kita tidak kembali menjadi manusia yang suka menyakiti.

Belajar agar sujud tidak hanya membuat dahi menyentuh sajadah, tetapi juga membuat kesombongan sedikit turun.

Sebab mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan ketika kita kehilangan banyak hal sekaligus.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika kita kehilangan agama sedikit demi sedikit, sementara kita merasa semuanya masih baik-baik saja.

Sampai akhirnya tinggal satu tali.

Tali terakhir.

Namanya shalat.

Semoga tali itu tetap kita pegang.

Sebab kalau tali terakhir itu pun terlepas, kepada siapa lagi kita akan kembali?

Ketika Dua Dirham Menjadi Soal Besar: Pelajaran Rasulullah tentang Korupsi dan Amanah


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada kisah yang selalu membuat saya berhenti sejenak ketika membaca hadis tentang ghulul. Nilainya hanya dua dirham. Bukan harta dalam jumlah besar. Bukan pula kekayaan yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Hanya beberapa manik-manik yang nilainya sangat kecil. Tetapi Rasulullah ﷺ memandang persoalan itu dengan keseriusan yang luar biasa.

عن زيد لن خالد الوجهات رضي الله عنه قال،
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَٰلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيْهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ، مَا يَسْوِي دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

"Seorang sahabat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam wafat pada hari (perang) Khaibar, lalu hal itu diberitahukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Maka beliau bersabda:

'Shalatkanlah jenazah teman kalian!'

Wajah para sahabat pun berubah (keheranan/kecewa karena biasanya Rasulullah yang memimpin shalat jenazah).

Lalu beliau bersabda:

'Sesungguhnya teman kalian telah berkhianat di jalan Allah (ghulul).'

Kami pun memeriksa barang-barangnya, dan ternyata kami menemukan manik-manik milik Yahudi, yang nilainya tidak lebih dari dua dirham."

(HR. Abu Dawud, no. 2713; Ahmad, no. 16316)

Saya membaca hadis ini bukan sekadar sebagai cerita tentang seorang sahabat pada masa perang. Saya justru merasa hadis ini seperti cermin yang diarahkan kepada kehidupan kita hari ini. Sebab persoalan utama dalam hadis ini bukan manik-manik. Persoalannya adalah amanah.

Rasulullah ﷺ tidak sedang mengatakan bahwa benda seharga dua dirham itu dapat dibandingkan dengan korupsi bernilai miliaran rupiah. Yang hendak ditegaskan adalah sesuatu yang lebih mendasar. Harta yang bukan hak kita tetap bukan hak kita, berapa pun nilainya.

Di sinilah kadang-kadang kita mengalami persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan uang. Kita sering memiliki kemampuan untuk membenarkan kesalahan karena nilainya kecil. "Ah, cuma sedikit." "Tidak akan terasa." "Semua orang juga melakukan." Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sanalah kebiasaan buruk dapat memperoleh tempat.

Saya membayangkan betapa kerasnya pendidikan moral yang diberikan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak melarang para sahabat menyalatkan jenazah tersebut. Beliau hanya tidak ikut menjadi imam. Seolah-olah ada pesan yang sangat dalam: masyarakat tetap harus mengurus jenazah seorang Muslim, tetapi umat perlu mengetahui bahwa pengkhianatan terhadap amanah bukan perkara ringan.

Bagi saya, tindakan Rasulullah ﷺ itu memperlihatkan cara pendidikan yang sangat manusiawi. Beliau tidak sedang mempermalukan seseorang untuk memuaskan kemarahan. Beliau sedang mendidik masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan moral.

Kalau hari ini kita berbicara tentang korupsi, barangkali kita terlalu sering membayangkan angka-angka besar. Miliaran. Triliunan. Proyek besar. Anggaran negara. Jabatan tinggi. Padahal penyakitnya bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Mengambil uang kas sedikit demi sedikit. Memanfaatkan kendaraan lembaga untuk urusan keluarga tanpa izin. Mengubah angka laporan agar terlihat bagus. Memotong dana kegiatan dengan alasan "sekadar uang lelah". Semua mungkin terlihat kecil ketika berdiri sendiri.

Tetapi amanah memang tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal.

Al-Qur'an mengingatkan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Ada satu kata yang menurut saya penting dalam ayat tersebut: "أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ", sedang kamu mengetahui.

Artinya, persoalan pengkhianatan amanah sering kali bukan karena kita tidak tahu. Kita tahu bahwa itu salah. Kita tahu uang itu bukan milik kita. Kita tahu fasilitas itu diberikan untuk kepentingan lembaga. Kita tahu laporan itu seharusnya jujur. Tetapi pengetahuan tersebut kadang kalah oleh kesempatan dan kepentingan pribadi.

Di situlah hati manusia diuji.

Saya pernah melihat bahwa dalam kehidupan organisasi, persoalan yang paling sulit bukan selalu soal kemampuan seseorang. Kadang justru soal bagaimana seseorang bersikap ketika tidak ada yang melihat. Ketika memegang uang yang bukan miliknya. Ketika memiliki kewenangan yang tidak diawasi. Ketika mempunyai kesempatan mengambil sesuatu tanpa diketahui orang lain.

Karakter seseorang sering terlihat bukan ketika dia sedang diawasi, melainkan ketika dia merasa aman untuk berbuat apa saja.

Hadis tentang dua dirham ini membuat saya berpikir bahwa membangun budaya antikorupsi seharusnya dimulai dari pendidikan tentang amanah. Anak-anak perlu belajar bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya tetap salah meskipun kecil. Mahasiswa perlu memahami bahwa plagiarisme kecil tetap merupakan ketidakjujuran akademik. Pegawai perlu memahami bahwa manipulasi kecil dalam laporan tetap merupakan pengkhianatan. Pemimpin perlu menyadari bahwa menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi juga merupakan bentuk penyimpangan amanah.

Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat tinggi untuk belajar tentang integritas.

Mungkin justru di ruang-ruang kecil kehidupan kita, latihan itu dimulai. Mengembalikan uang kembalian yang berlebih. Tidak mengklaim pekerjaan orang lain. Tidak memalsukan kehadiran. Tidak menggunakan uang lembaga untuk kepentingan pribadi. Tidak mengambil hak orang lain hanya karena tidak ada yang mengetahui.

Perkara-perkara kecil itulah yang membentuk kebiasaan.

Saya juga belajar dari hadis ini bahwa ukuran dosa tidak selalu dapat dibaca dari harga barang. Dua dirham mungkin kecil secara ekonomi. Tetapi pengkhianatan yang menyertainya memiliki dimensi moral yang jauh lebih besar.

Karena yang rusak bukan hanya nilai barang. Yang rusak adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan rusak, sebuah organisasi dapat kehilangan fondasi. Sekolah kehilangan kepercayaan. Kampus kehilangan marwah. Lembaga sosial kehilangan simpati. Pemerintahan kehilangan legitimasi. Bahkan keluarga dapat retak ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi dapat saling percaya.

Barangkali karena itu Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran yang begitu tegas. Jangan meremehkan sesuatu hanya karena nilainya kecil. Jangan menganggap pelanggaran amanah sebagai perkara sepele hanya karena jumlahnya sedikit.

Saya tidak sedang menunjuk siapa-siapa ketika menulis ini. Justru hadis ini pertama-tama saya rasakan sebagai teguran kepada diri sendiri. Sebab amanah tidak hanya berada di tangan pejabat, bendahara, pemimpin, atau pengelola anggaran. Setiap orang memiliki amanahnya sendiri.

Guru memiliki amanah. Dosen memiliki amanah. Orang tua memiliki amanah. Pemimpin memiliki amanah. Pengurus organisasi memiliki amanah. Bahkan seseorang terhadap waktu, ilmu, jabatan, dan kepercayaan orang lain juga memiliki amanah.

Mungkin kita tidak pernah mengambil manik-manik seharga dua dirham. Tetapi pertanyaannya lebih dalam: apakah pernah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita lalu berkata dalam hati, "Tidak apa-apa, toh kecil"?

Hadis ini mengajak saya untuk lebih takut pada kalimat tersebut.

Sebab korupsi yang besar mungkin bermula dari keberanian terhadap kesalahan yang kecil. Dan integritas yang besar juga bermula dari keberanian mengembalikan sesuatu yang sebenarnya bisa saja kita ambil.

Dua dirham akhirnya menjadi pelajaran yang jauh lebih mahal. Ia mengingatkan bahwa amanah tidak memiliki ukuran kecil atau besar. Amanah hanya mengenal satu pertanyaan: apakah sesuatu itu hak kita atau bukan?

Jika bukan hak kita, maka meninggalkannya adalah bentuk kejujuran.

Dan mungkin di situlah agama bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar membuat kita takut kepada hukuman, tetapi membuat kita malu mengambil sesuatu yang bukan milik kita, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Karena boleh jadi manusia tidak melihat.

Tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan pandangan.

Ketika Tali Terakhir Itu Bernama Shalat

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sesuatu yang sering kita anggap sederhana, padahal sesungguhnya sangat menentukan arah hidup seorang Muslim. Namanya shalat. Lima kali sehari. Waktunya sudah ditentukan. Gerakannya juga sudah diajarkan. Anehnya, sesuatu yang begitu rutin justru sering menjadi perkara yang paling mudah ditunda.

Saya teringat sebuah hadis yang menggambarkan keadaan umat manusia dengan sangat tajam. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Hadis ini membuat saya merenung. Rasulullah tidak menggambarkan runtuhnya kehidupan beragama sebagai sebuah peristiwa yang terjadi sekaligus. Ia menggambarkannya seperti tali yang terurai satu per satu. Ada sesuatu yang hilang, kemudian sesuatu yang lain menyusul.

Dalam kehidupan nyata, kita mungkin pernah menyaksikan proses semacam itu. Mula-mula seseorang mulai menganggap nilai agama tidak terlalu penting. Kemudian amanah mulai longgar. Kejujuran dianggap sebagai pilihan. Keadilan menjadi slogan. Ilmu agama dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan berjalan tanpa ruh. Ekonomi mengejar keuntungan tanpa memperhatikan halal dan haram. Politik kehilangan etika. Budaya lebih sibuk mengejar popularitas daripada membangun martabat manusia.

Tetapi selama shalat masih dilakukan, masih ada satu tali yang dipegang.

Itulah sebabnya hadis tersebut terasa begitu kuat. Shalat disebut sebagai tali yang terakhir terlepas. Artinya, dalam keadaan paling jauh sekalipun, masih ada pintu untuk kembali. Masih ada hubungan yang belum sepenuhnya putus antara manusia dan Tuhannya.

Saya kira di sinilah kita perlu berhati-hati. Hadis ini jangan dijadikan alat untuk mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu perjalanan batin seseorang. Ada orang yang shalatnya masih berantakan, tetapi hatinya sedang berjuang kembali. Ada pula orang yang tampak sangat religius, tetapi masih bergulat dengan kejujuran, kesombongan, dan kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, persoalan shalat sebaiknya pertama-tama kita tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah shalat kita masih menjadi kebutuhan atau sekadar kewajiban administratif kepada Tuhan?

Ada hadis lain yang semakin menguatkan renungan ini:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Saya membaca hadis ini bukan sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Justru sebaliknya. Ia seperti cermin. Kalau shalat adalah sesuatu yang terakhir tersisa, maka kita harus bertanya: ketika yang lain mulai hilang dari kehidupan kita, apakah shalat masih benar-benar kita jaga?

Sebab shalat seharusnya tidak berhenti di atas sajadah.

Kalau seseorang rajin shalat tetapi masih mudah mengambil hak orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Kalau seseorang tekun beribadah tetapi mudah memfitnah, mungkin ada yang belum selesai dalam penghayatan shalatnya. Kalau kita berdiri menghadap Allah, lalu setelah salam kembali menzalimi manusia, tentu ada jarak antara ritual dan kesadaran.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan tentang cara pandang manusia yang kehilangan orientasi akhirat:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mungkin problem terbesar manusia modern bukan karena tidak memiliki agama. Problemnya adalah agama sering berhenti sebagai identitas. Kita punya nama Islam, tetapi belum tentu nilai Islam menjadi cara berpikir dan cara hidup.

Kita bisa melihatnya dalam banyak bidang. Ketika hukum kehilangan keadilan, ekonomi kehilangan etika, politik kehilangan amanah, pendidikan kehilangan keteladanan, dan kebudayaan kehilangan adab, agama akhirnya tinggal menjadi ornamen.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Namun, saya juga belajar bahwa membicarakan agama tidak cukup dengan mengatakan bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan slogan. Kehidupan jauh lebih rumit. Yang kita perlukan adalah menghadirkan nilai agama dalam keadilan, amanah, kejujuran, kasih sayang, ilmu, dan tanggung jawab.

Di sinilah shalat mempunyai makna yang sangat penting. Ia mengingatkan manusia berkali-kali dalam sehari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta. Ada Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan.

Karena itu, jangan sampai tali terakhir itu pun kita lepaskan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Imam Ahmad juga mengingatkan bahwa orang yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan nasihat kepada orang lain. Rasanya lebih pantas jika saya menutupnya dengan pertanyaan kepada diri sendiri.

Apakah saya masih menjaga shalat ketika tidak ada yang melihat?

Apakah shalat sudah membuat saya lebih jujur?

Apakah setelah salam saya menjadi manusia yang lebih aman bagi orang lain?

Sebab mungkin persoalannya bukan sekadar apakah kita masih shalat. Persoalannya adalah apakah shalat masih menjaga kita.

Jika suatu hari banyak tali dalam kehidupan kita mulai terlepas, semoga tali terakhir itu tidak ikut putus.

Semoga ia tetap bernama shalat.

Menjadi Perantara Kebaikan, Tanpa Ribet Jadi Pahlawan

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

,عن أَبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أتاهُ طَالِبُ حَاجَةٍ أقبَلَ عَلَى جُلَسَائِهِ، فَقَالَ: ((اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي الله عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا أحبَّ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., berkata:
"Rasulullah Saw. itu apabila didatangi oleh seseorang yang meminta hajat, maka beliau menghadap semua kawan-kawan duduknya, kemudian bersabda:
"Berilah pertolongan padanya, nescayalah engkau semua mendapatkan pahala dan Allah Swt akan memutuskan apa-apa yang disenanginya atas lisan nabiNya."
(Muttafaq 'alaih)

Ada satu kebiasaan kecil dalam hidup kita yang sering dianggap sepele. Kita membantu orang lain dengan cara yang sangat sederhana. Kadang hanya menyampaikan pesan. Kadang sekadar mengenalkan seseorang kepada orang lain. Kadang hanya bilang, “coba hubungi si A, mungkin dia bisa bantu.” Selesai. Tidak ada seremoni. Tidak ada tepuk tangan.

Padahal, dalam hadis ini, Nabi justru mengangkat hal sederhana itu menjadi sesuatu yang besar. Bukan karena hasilnya. Tapi karena keberanian untuk ikut ambil bagian dalam kebaikan.

Menariknya, Nabi tidak mengatakan, “pastikan masalahnya selesai.” Nabi hanya mengatakan, “berilah pertolongan, kalian akan mendapat pahala.” Artinya jelas. Yang dihitung bukan sukses atau gagal. Tapi kemauan untuk terlibat.

Di sini kita sering keliru. Kita terlalu sibuk menimbang hasil. Kalau kira-kira tidak berhasil, kita mundur. Kalau tidak yakin bisa membantu, kita diam. Bahkan kadang pura-pura tidak tahu. Padahal bisa jadi, justru di situlah ladang pahala yang sedang lewat.

Nabi memberi pelajaran yang sangat manusiawi. Kita tidak diminta jadi penyelesai semua masalah. Kita hanya diminta jadi jembatan. Itu saja.

Dan jembatan itu tidak pernah ditanya apakah dia sampai ke tujuan atau tidak. Dia hanya menjalankan fungsinya, menghubungkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang sebenarnya punya akses, punya relasi, punya kemampuan, tapi memilih diam. Alasannya sederhana. Takut repot. Takut tidak berhasil. Atau takut disalahkan kalau ternyata gagal.

Padahal, kalau kita renungkan, kegagalan itu bukan urusan kita. Itu wilayah Allah.

“Dan Allah Swt pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya.”

Kalimat ini seperti mengingatkan kita. Ada batas antara usaha manusia dan keputusan Tuhan. Kita bergerak di wilayah usaha. Hasil bukan milik kita.

Lalu Al-Qur’an menguatkan prinsip ini:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

"Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.
(QS. An-Nisa : 85)

Ayat ini tidak menyebutkan bahwa syafaat itu harus berhasil. Yang disebut hanya satu, “memberikan syafaat yang baik.” Maka ia mendapat bagian. Selesai.

Ini menarik. Karena dalam logika modern, kita sering diajari berpikir efektif. Semua harus terukur. Semua harus ada hasil. Bahkan kebaikan pun kadang dihitung dengan angka.

Padahal agama mengajarkan sesuatu yang lebih halus. Ada nilai pada proses. Ada pahala pada niat yang bergerak. Ada keberkahan pada langkah kecil yang mungkin tidak terlihat.

Di sisi lain, ada juga pesan yang cukup halus tapi penting. Islam tidak mendorong budaya meminta-minta. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.
(QS. Al Baqoroh : 273)

Ayat ini seperti memberi gambaran. Ada orang yang butuh, tapi tidak meminta. Mereka menjaga harga diri. Di sinilah peran kita menjadi penting. Kita tidak menunggu diminta. Kita peka.

Di titik ini, menjadi perantara kebaikan bukan lagi soal membantu orang yang datang. Tapi juga mencari orang yang tidak datang.

Ini pekerjaan sunyi. Tidak viral. Tidak banyak yang melihat. Tapi justru di situlah letak keikhlasannya.

Gaya hidup hari ini sering membuat kita sibuk dengan urusan sendiri. Kita punya alasan. Pekerjaan banyak. Target menumpuk. Waktu terbatas. Tapi di tengah itu, sebenarnya selalu ada ruang kecil untuk menjadi jembatan.

Kadang hanya butuh satu kalimat.
Kadang hanya butuh satu nomor telepon.
Kadang hanya butuh satu rekomendasi.

Selesai.

Tidak perlu jadi tokoh besar. Tidak perlu punya jabatan tinggi. Tidak perlu dikenal banyak orang. Cukup punya kepedulian.

Dan yang menarik, ketika kita mulai terbiasa membantu dengan cara seperti ini, kita sedang melatih diri. Melatih kepekaan. Melatih keberanian. Melatih keikhlasan.

Karena tidak semua bantuan itu terlihat hasilnya. Tidak semua usaha itu langsung berbuah. Tapi setiap langkah itu dicatat.

Dalam banyak kasus, justru orang yang sering menjadi perantara kebaikan ini hidupnya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya sedikit. Tapi karena hatinya tidak sempit.

Ia tahu satu hal. Hidup ini bukan soal menjadi pusat segalanya. Tapi menjadi bagian dari aliran kebaikan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, dari langkah kecil itu Allah membuka pintu-pintu lain. Pertemuan baru. Rezeki baru. Kemudahan yang tidak kita rencanakan.

Bukan karena kita hebat. Tapi karena kita mau ikut dalam arus kebaikan.

Hadis ini sederhana. Tapi kalau dijalankan, dampaknya luas. Ia mengubah cara kita melihat bantuan. Ia mengubah cara kita menilai peran diri.

Kita tidak lagi menunggu jadi orang penting untuk berbuat baik. Kita cukup jadi orang yang mau bergerak.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan ajaran ini. Tidak rumit. Tidak berat. Tapi dalam.

Menjadi perantara kebaikan, ternyata tidak butuh jadi siapa-siapa. Cukup jadi manusia yang peduli.

Jumat, 21 November 2025

10 SDGs | Budaya Kerja Positif yang Dimulai dari Kepemimpinan Kuat



Oleh: Mulyawan Safwandy NugrahaK

etua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi

Direktur Research and Literacy Institute (RLI)

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung



Saya masih ingat, suatu pagi beberapa tahun lalu, saya tiba di sebuah madrasah di Sukabumi. Jam baru menunjukkan pukul tujuh, tapi halaman sekolah sudah ramai. Guru-guru menyambut siswa di gerbang, beberapa sedang memeriksa kebersihan kelas, sementara kepala sekolah berdiri di tengah lapangan dengan sapu di tangan. Ia tidak memberi perintah, tapi ikut bekerja. Ia menyapu halaman yang masih basah karena embun.

Pemandangan itu sederhana, tapi saya tahu itu bukan hal biasa. Banyak kepala sekolah memimpin dari ruangannya. Tapi di sini, pemimpin hadir di lapangan. Bukan hanya memberi instruksi, tapi menjadi contoh hidup tentang arti bekerja dengan hati. Di situlah saya belajar satu hal penting: budaya kerja positif tidak dimulai dari aturan atau slogan di dinding, tapi dari teladan seorang pemimpin.


Budaya kerja adalah ruh yang menggerakkan lembaga. Ia tidak tertulis di papan visi-misi, tapi hidup dalam perilaku sehari-hari. Dalam lembaga pendidikan Islam, budaya kerja seharusnya mencerminkan nilai-nilai dasar Islam: kejujuran, tanggung jawab, ketekunan, dan kasih sayang. Namun sering kali, nilai itu hanya menjadi retorika. Di atas kertas semua tampak ideal, tapi di lapangan, semangatnya tidak terasa.

Saya pernah mengunjungi sekolah lain yang fasilitasnya lengkap dan dikelola secara modern, tapi suasananya kaku. Guru datang terlambat, rapat dimulai molor, dan koordinasi antarbagian tidak terbangun. Kepala sekolahnya pandai berbicara tentang visi besar, tapi jarang turun ke lapangan. Sekolah itu terlihat rapi dari luar, tapi di dalamnya tidak ada energi positif. Semua berjalan karena kewajiban, bukan kesadaran.

Dari pengalaman itu saya belajar, budaya kerja positif tidak akan tumbuh bila pemimpinnya tidak konsisten memberi contoh. Dalam Islam, konsep kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang tanggung jawab moral. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, kepemimpinan bukan hak istimewa, tapi amanah.


Kepemimpinan yang kuat bukan berarti keras atau dominan. Kekuatan sejati justru terletak pada kejelasan arah, integritas, dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan. Pemimpin yang kuat tahu kapan harus tegas, dan kapan harus mendengar. Ia tidak membangun kekuasaan dengan rasa takut, tapi dengan rasa percaya.

Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, kepala sekolah atau pimpinan yayasan adalah pusat gravitasi. Ia mempengaruhi seluruh dinamika kerja, dari cara guru mengajar hingga semangat staf kebersihan menjalankan tugas. Seorang pemimpin yang datang tepat waktu, menghargai rapat, dan menepati janji, tanpa perlu bicara banyak pun sudah menanamkan budaya kerja positif.

Saya pernah berbicara dengan seorang guru di madrasah yang cukup maju di Jawa Tengah. Ia berkata, “Kami disiplin bukan karena takut, tapi karena malu pada kepala sekolah.” Saya tanya kenapa. Ia menjawab, “Karena beliau selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.” Bagi saya, itu kepemimpinan yang kuat. Tidak banyak bicara, tapi berpengaruh besar.


Budaya kerja positif tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh sistem, tapi dipelihara oleh manusia. Pemimpin yang ingin membangun budaya kerja sehat perlu memahami tiga hal penting: nilai, komunikasi, dan keteladanan.

Pertama, menegaskan nilai yang menjadi dasar bersama.
Lembaga pendidikan Islam harus berani menentukan nilai-nilai inti yang akan menjadi panduan perilaku. Misalnya, kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai ini tidak cukup hanya diumumkan di awal tahun ajaran, tapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Misalnya, guru yang terlambat tidak langsung ditegur, tapi diajak memahami makna amanah. Atau staf administrasi yang bekerja cepat diberi apresiasi terbuka agar yang lain terinspirasi.

Kedua, membangun komunikasi yang manusiawi.
Saya sering menemukan sekolah yang semua komunikasi bersifat satu arah. Kepala sekolah bicara, guru mendengarkan. Akibatnya, suasana kerja terasa seperti instruksi, bukan kolaborasi. Padahal, budaya kerja positif tumbuh dari percakapan yang jujur. Kepala sekolah perlu membuka ruang dialog, mendengar aspirasi guru, dan memberi umpan balik tanpa menghakimi.

Di satu sekolah Islam di Surabaya, setiap Jumat sore kepala sekolah mengadakan “ngopi bareng” dengan guru. Tidak ada agenda formal. Mereka bercerita tentang pengalaman di kelas, kadang juga curhat tentang beban kerja. Dari situ muncul banyak ide kecil yang kemudian menjadi inovasi besar. Kepala sekolahnya berkata, “Kalau kita mau sekolah sehat, mulai dari ngobrol yang sehat.”

Ketiga, menjadi teladan dalam hal etika dan semangat kerja.
Tidak ada budaya kerja positif tanpa keteladanan. Pemimpin yang ingin menegakkan disiplin harus terlebih dulu menunjukkan kedisiplinan. Pemimpin yang ingin menumbuhkan kejujuran harus berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-16 tentang tata kelola yang adil, transparan, dan berintegritas.

Kepemimpinan pendidikan Islam yang kuat sejalan dengan semangat SDGs: menciptakan institusi yang tangguh dan berkeadilan. Jika lembaga pendidikan Islam mampu menerapkan prinsip kepemimpinan yang transparan, akuntabel, dan partisipatif, maka budaya kerja positif akan tumbuh alami.


Tentu, membangun budaya kerja positif tidak terjadi dalam semalam. Ia butuh waktu dan konsistensi. Ada masa-masa di mana perubahan terasa lambat, bahkan menimbulkan resistensi. Guru bisa saja merasa lelah, staf bisa merasa diabaikan, dan kepala sekolah pun mungkin kehilangan semangat. Di saat seperti itu, pemimpin perlu kembali pada niat awal: untuk apa ia memimpin.

Saya pernah berbincang dengan seorang kepala madrasah yang hampir menyerah. Ia berkata, “Saya sudah berusaha menegakkan disiplin, tapi selalu ada yang melanggar. Saya jadi capek.” Saya menatapnya dan berkata pelan, “Mungkin karena mereka belum melihat makna di balik disiplin itu.” Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali ke madrasah itu. Ada perubahan kecil tapi nyata. Ia mulai mengganti cara pendekatannya. Setiap rapat ia mengawali dengan cerita inspiratif, bukan teguran. Ia berbagi kisah tentang nilai kerja keras, tentang niat, tentang barakah dalam pekerjaan. Perlahan, suasana kerja membaik. Guru mulai datang lebih awal, siswa lebih tertib, dan senyum lebih sering terlihat di wajah mereka.

Saya belajar dari situ, bahwa budaya kerja positif tidak dibangun dengan tekanan, tapi dengan makna. Ketika orang memahami alasan di balik aturan, mereka akan bekerja bukan karena takut, tapi karena sadar.


Ada satu kalimat yang saya suka dari John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan. Ia berkata, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Pemimpin bukan hanya tahu arah, tapi juga berjalan dan menunjukkan jalan. Dalam lembaga pendidikan Islam, prinsip ini sangat relevan. Kepala sekolah bukan hanya pengelola, tapi juga pembentuk karakter lembaga.

Ia harus berani menegakkan nilai-nilai, menjaga keadilan, dan menginspirasi semua pihak untuk bekerja lebih baik. Kepemimpinan yang kuat tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, tapi seberapa dalam pengaruhnya terhadap perilaku orang-orang di sekitarnya.

Ketika pemimpin menjadi sumber energi positif, budaya kerja pun ikut bergerak. Guru bekerja dengan senang hati, staf administratif bekerja dengan rasa bangga, dan siswa belajar dalam suasana yang hangat. Semua itu tidak bisa dibeli atau diperintah. Ia tumbuh dari kepercayaan.


Saya percaya, lembaga pendidikan Islam yang ingin maju harus menempatkan pembangunan budaya kerja sebagai prioritas utama. Karena budaya kerja yang positif akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan. Sekolah yang memiliki semangat kolektif, disiplin yang manusiawi, dan komunikasi yang terbuka akan jauh lebih tangguh menghadapi tantangan zaman.

Apalagi di era pasca-pandemi ini, tantangan lembaga pendidikan semakin kompleks. Guru dituntut beradaptasi dengan teknologi, siswa menghadapi tekanan sosial yang lebih tinggi, dan orang tua menuntut hasil yang cepat. Di tengah tekanan itu, hanya budaya kerja yang positif yang bisa menjaga semangat kebersamaan.

SDGs menekankan pentingnya kerja layak dan pertumbuhan ekonomi (Goal 8), serta lembaga yang kuat dan damai (Goal 16). Dua poin itu bisa dimulai dari sekolah. Jika lembaga pendidikan Islam bisa membangun ekosistem kerja yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai, maka ia bukan hanya menjalankan ajaran Islam, tapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.


Saya sering merenung, bahwa inti dari budaya kerja positif adalah rasa memiliki. Ketika guru merasa sekolahnya adalah bagian dari dirinya, ia akan menjaga dengan sepenuh hati. Ketika pemimpin memperlakukan stafnya dengan hormat, mereka akan bekerja dengan semangat.

Dan semua itu bermula dari satu hal: kepemimpinan yang kuat, bukan dalam arti berkuasa, tapi dalam arti berjiwa besar. Pemimpin yang kuat adalah yang mampu menyalakan semangat, bukan sekadar menegakkan aturan. Ia hadir tidak untuk menaklukkan, tapi untuk menggerakkan.

Dalam pendidikan Islam, kekuatan sejati pemimpin tidak terletak pada posisi, tapi pada pengaruh kebaikannya. Karena sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Nilai seseorang diukur dari apa yang ia lakukan dengan kekuasaan yang dimilikinya.”

Maka, jika seorang kepala sekolah mampu menggunakan kekuasaannya untuk menumbuhkan budaya kerja yang positif, ia tidak hanya berhasil sebagai manajer, tapi juga sebagai pendidik sejati.

Dan mungkin, di sanalah letak keberkahan sebuah lembaga pendidikan Islam: ketika semua orang bekerja bukan karena takut, tapi karena cinta.

11 SDGs | Mewujudkan Madrasah ramah anak untuk semua

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 

Saya masih ingat satu pagi ketika saya datang lebih awal ke sebuah madrasah di pinggiran kota. Udara masih lembap. Suara anak-anak mulai terdengar dari kejauhan. Saya melihat seorang siswa duduk sendirian di pojok halaman. Ia memegang tasnya dengan erat seakan sedang menahan sesuatu. 

Ketika saya menghampirinya, ia hanya berkata pelan bahwa ia malas masuk kelas hari itu. Tidak ada penjelasan lain. Tatapannya cukup untuk membuat saya berpikir panjang tentang arti sebuah tempat belajar yang benar-benar aman dan nyaman bagi anak seusianya.

Saya kemudian mengobrol dengan beberapa guru. Mereka bilang anak itu memang sering menyendiri. Tidak pernah bermasalah. Tidak pernah membuat gaduh. Tetapi ia sering menjadi sasaran ejekan kecil yang sering dianggap sepele oleh teman-temannya.

 Mendengar itu saya terdiam. Saya sadar bahwa madrasah bisa tampak baik-baik saja dari luar. Namun bagi sebagian siswa, ruang kelas bisa terasa seperti tempat yang membuat mereka menahan napas sepanjang hari.

Saya berjalan menyusuri koridor sambil mencoba membayangkan apa yang dirasakan anak-anak yang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Di koridor itu saya melihat beberapa guru tersenyum pada siswa yang lewat. Ada juga yang sedang terburu-buru menuju kelas. Suasana itu menenangkan. Tetapi saya tahu kenyamanan tidak hanya datang dari senyum guru. Kenyamanan lahir dari budaya yang mampu membuat anak merasa dirinya aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Saya percaya bahwa kepemimpinan madrasah memegang kunci utama. Kepala madrasah yang peka biasanya mampu menangkap sinyal kecil sebelum masalah terjadi. Ia hadir bukan hanya di ruang rapat. Ia hadir di tengah anak-anak. Ia menyapa mereka seperti orang tua yang ingin memastikan semua anak baik-baik saja. Kehadiran seperti itu menular. Guru menjadi lebih hangat. Anak-anak lebih berani bercerita.

Saya pernah melihat perubahan besar di sebuah madrasah hanya karena kepala sekolahnya rutin mengadakan waktu khusus mendengarkan siswa. Sederhana saja. Sepuluh menit setiap pagi sebelum kelas dimulai. Siswa yang ingin bercerita boleh datang tanpa membuat janji. Saya menyaksikan bagaimana ruang kecil itu mengubah cara anak memandang sekolah. Banyak anak merasa lebih dihargai karena ada tempat untuk suara mereka.

Saya juga melihat betapa pentingnya membangun lingkungan fisik yang mendukung kenyamanan. Madrasah tidak harus megah. Tidak harus penuh ornament. Cukup bersih. Cukup terang. Cukup teratur. Ruang kelas yang rapi membuat anak lebih tenang. Taman kecil di pojok sekolah bisa menjadi tempat anak melepas penat. Hal-hal sederhana ini sering terabaikan, padahal dampaknya sangat besar untuk kesehatan mental siswa.

Ada satu kelas yang saya kunjungi pernah terasa begitu bising meski gurunya sudah berusaha keras mengatur. Setelah berdiskusi, kami mencoba menata ulang letak meja dan kursi. Ternyata perubahan kecil itu membuat anak lebih mudah fokus. Guru juga lebih mudah berinteraksi. Saya belajar bahwa rasa aman kadang muncul dari hal-hal teknis sederhana. Tidak selalu harus lewat regulasi besar.

SDG’s mengingatkan kita bahwa pendidikan berkualitas hanya bisa tercapai bila anak berada dalam lingkungan yang aman. Aman dari kekerasan. Aman dari perundungan. Aman dari tekanan sosial yang tidak seharusnya mereka tanggung. Banyak lembaga pendidikan Islam sudah memahami ini. Namun sering kali mereka berhenti pada aturan tertulis. Padahal siswa membaca bahasa tubuh. Mereka melihat contoh. Mereka menilai suasana dengan intuisi yang lebih tajam dari yang kita bayangkan.

Saya pernah berbincang dengan seorang siswi yang awalnya sering menangis sepulang sekolah. Ternyata ia tidak nyaman dengan teman sebangkunya. Bukan karena konflik besar. Hanya karena temannya sering mengambil barangnya tanpa izin. Guru mengira itu hanya candaan. Namun bagi anak itu, hal kecil itu menimbulkan kecemasan yang terus menumpuk. Setelah guru memindahkan tempat duduknya, ia terlihat jauh lebih tenang. Dari situ saya belajar bahwa rasa aman bersifat sangat personal. Satu siswa mungkin baik-baik saja. Siswa yang lain mungkin sedang menahan sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Madrasah bisa membangun rasa aman dengan memperkuat budaya saling menghormati. Guru perlu memberi contoh bagaimana berbicara dengan lembut. Teman sebaya perlu belajar melihat perasaan orang lain. Lingkungan seperti ini tidak tercipta dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan. Dari rutinitas yang dibentuk pelan-pelan. Dari keputusan sehari-hari yang menghargai martabat setiap anak.

Saya percaya lembaga pendidikan Islam memiliki modal spiritual yang kuat untuk membangun kenyamanan. Nilai kasih dan amanah sudah tertanam dalam ajaran agama. Kita hanya perlu menerjemahkannya menjadi tindakan yang konsisten. Misalnya dengan membiasakan guru membuka kelas dengan satu menit hening. Atau dengan mengajak siswa menutup pelajaran dengan doa yang membuat mereka merasa diperhatikan oleh guru.

Saya sering melihat perubahan besar datang dari guru yang mampu melihat lebih dalam. Guru yang sabar mendengarkan. Guru yang berani menegur dengan cara yang tidak melukai. Guru yang tahu kapan harus menahan suara dan kapan harus merangkul siswa yang rapuh. Guru seperti ini membuat madrasah terasa seperti rumah kedua.

Ketika madrasah berhasil menciptakan budaya aman, maka pembelajaran jadi lebih hidup. Anak-anak lebih aktif bertanya. Mereka lebih mudah bekerja sama. Mereka berani mencoba hal baru tanpa takut ditertawakan. Lingkungan yang nyaman memberi mereka kesempatan untuk berkembang secara utuh. Tidak hanya dalam aspek akademik. Tapi juga dalam karakter.

Saya selalu percaya bahwa madrasah bisa menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Nilai adab. Nilai saling menghormati. Nilai tanggung jawab. Tetapi semua itu butuh ruang yang aman. Tidak mungkin anak belajar tentang kasih sayang jika setiap hari mereka takut salah. Tidak mungkin mereka belajar percaya diri jika lingkungan tidak memberi kesempatan untuk tumbuh.

SDG’s menempatkan keamanan dan kenyamanan sebagai bagian penting dari pendidikan yang berkualitas. Madrasah yang aman berarti madrasah yang tidak menutup mata terhadap masalah kecil. Madrasah yang nyaman berarti madrasah yang menyiapkan ruang tumbuh bagi setiap anak tanpa terkecuali.

Saya membayangkan generasi muda yang tumbuh dari madrasah seperti itu. Mereka membawa lembutnya pengalaman belajar. Mereka membawa kemampuan memahami orang lain. Mereka tumbuh dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri karena mereka pernah berada di ruang yang menerima mereka apa adanya.

Saya yakin madrasah bisa menjadi tempat yang seperti itu. Tempat yang menjaga hati. Tempat yang memberi rasa aman. Tempat yang membuat anak datang setiap pagi dengan langkah yang ringan. Sebab ketika anak merasa aman, mereka akan belajar dengan penuh ketulusan. Dan ketika itu terjadi, pendidikan Islam benar-benar menjadi cahaya bagi kehidupan mereka.


____________
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2012. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Pahlawan Baru di Tengah Riuh Zaman


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 


Hari Pahlawan lahir dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Hari itu, rakyat melawan pasukan bersenjata lengkap. Kota terbakar oleh keberanian. Banyak yang gugur, tapi semangat mereka menyalakan nyala yang tak padam: bahwa kemerdekaan hanya berarti jika ada keberanian untuk menjaganya. Karena itu, Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan ajakan untuk menyalakan kembali nilai-nilai pengorbanan, keberanian, dan tanggung jawab.


Namun zaman berubah. Medan perjuangan tidak lagi di medan perang. Kini musuh bangsa tidak berbentuk tentara penjajah. Ia hadir dalam rupa yang lebih halus: korupsi kecil yang dianggap lumrah, berita palsu yang memecah warga, ketidakpedulian sosial, dan keengganan untuk berbuat baik tanpa pamrih. Di sinilah nilai kepahlawanan diuji dalam bentuk baru. Tidak dengan senjata, melainkan dengan kejujuran, kepedulian, dan konsistensi dalam hal-hal kecil.


Anda bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang memilih antre ketika banyak yang ingin diserobot. Ada yang menolak “uang pelicin” meski butuh. Ada yang tetap disiplin bekerja walau tidak diawasi. Tindakan kecil seperti itu mungkin tidak viral, tapi di situlah letak keberanian moral. Menjadi pahlawan kini berarti mampu melawan godaan untuk curang, sekalipun sistem seolah membiarkannya.


Di sisi lain, kepahlawanan masa kini juga hidup dalam gerakan merawat bumi. Anak muda membersihkan sungai, menanam pohon, atau mengurangi sampah plastik. Mereka sadar bumi sedang sakit, dan tanggung jawab memperbaikinya tidak bisa ditunda. Keberanian mereka adalah bentuk baru dari cinta tanah air. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa sekop, sapu, dan kesadaran.


Lihat juga guru-guru di pelosok negeri. Mereka berjalan jauh, mengajar dengan alat seadanya, kadang tanpa listrik, tapi tetap datang setiap pagi. Mereka menyalakan harapan di mata anak-anak. Mereka mungkin tak masuk berita, tapi dari ruang kelas sederhana itulah masa depan bangsa disemai. Dalam ketulusan itu, Anda bisa melihat makna sejati dari pengabdian.


Tenaga kesehatan di puskesmas kecil pun menjalani hari-hari panjang dengan fasilitas terbatas. Mereka menambal luka, menenangkan pasien, dan menjaga kehidupan. Di tengah sistem yang kadang tidak adil, mereka memilih tetap bertahan. Keberanian seperti ini tidak heboh, tapi nyata.


Relawan bencana datang ke lokasi ketika yang lain menjauh. Mereka bekerja di tengah debu, banjir, atau longsor. Mereka tak selalu punya cukup logistik, tapi mereka punya niat untuk menolong. Mereka hadir sebagai wajah kemanusiaan. Setiap kali bencana datang, mereka menunjukkan bahwa bangsa ini masih punya hati yang hidup.


Di rumah, orang tua menjadi pelindung anak dari banjir informasi digital. Mereka mendampingi, mendengar, dan mengarahkan. Mereka tidak hanya menjaga anak agar pintar, tapi juga agar tetap manusiawi. Di tengah dunia yang sibuk mengejar kesuksesan, tugas seperti ini sering luput dari perhatian, padahal sangat menentukan.


Peneliti energi bersih bekerja dalam senyap di laboratorium. Mereka meneliti panel surya, baterai, dan teknologi ramah lingkungan. Mereka tahu bahwa kemandirian bangsa ditentukan oleh kemandirian energi. Mereka mungkin tidak memakai seragam tempur, tapi kerja keras mereka menentukan masa depan.


Anak muda yang melawan hoaks juga bagian dari barisan pahlawan baru. Mereka memeriksa data, meluruskan kabar palsu, dan menjaga agar masyarakat tetap rasional. Di tengah banjir informasi dan polarisasi politik, mereka menjaga api kebenaran agar tidak padam.


Pelaku UMKM berjuang tanpa banyak dukungan. Mereka membuka usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menopang ekonomi keluarga. Dalam kesederhanaan, mereka menolak menyerah. Mereka menunjukkan bahwa keberanian bukan hanya soal perang, tapi juga soal bertahan hidup dengan jujur.


Pegiat literasi membuka ruang baca di kampung. Mereka meminjamkan buku, mengajak anak berdiskusi, dan menyalakan rasa ingin tahu. Mereka tahu perubahan besar dimulai dari kemampuan membaca dan berpikir. Dari ruang sempit itu, masa depan sedang disiapkan.


Nilai kepahlawanan di era sekarang bukanlah sesuatu yang jauh. Ia hidup di sekitar Anda. Di ruang kelas, puskesmas, laboratorium, warung kecil, dan perpustakaan sederhana. Kepahlawanan bukan lagi milik yang mati di medan perang, tapi milik mereka yang tetap hidup untuk memperbaiki keadaan, sedikit demi sedikit.


Peringatan Hari Pahlawan bukan ajakan untuk bernostalgia, melainkan undangan untuk introspeksi. Apakah Anda masih punya keberanian untuk jujur ketika mudah untuk menipu? Apakah Anda masih peduli ketika lingkungan rusak? Apakah Anda masih mau menolong tanpa disorot kamera?


Kepahlawanan sejati tidak memerlukan seremoni. Ia tumbuh dalam kesadaran bahwa hidup ini bernilai jika memberi manfaat. Jadi, di tengah riuh zaman, ketika segala hal bergerak cepat dan banyak orang sibuk mencari perhatian, Anda bisa memilih jalan sebaliknya. Jalan yang tenang, sederhana, tapi penuh makna. Jalan orang-orang yang bekerja tanpa pamrih, berbuat tanpa suara, dan mencintai tanpa syarat.


Mereka inilah pahlawan baru di tengah riuh zaman. Dan siapa pun bisa menjadi bagian dari mereka, mulai dari langkah kecil yang Anda ambil hari ini.

----

Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...