Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibuk menghitung dosa orang lain. Shalatnya bagaimana? Jamaahnya bagaimana? Bajunya bagaimana? Masjidnya di mana?
Saya sendiri kadang berpikir, kalau urusan agama hanya dipakai untuk memeriksa orang lain, jangan-jangan kita lupa bahwa yang paling dekat untuk diperiksa sebenarnya adalah diri sendiri.
Sebab Rasulullah saw. pernah menyampaikan sebuah hadis yang membuat saya cukup lama merenung:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ
“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”
(HR. Ahmad 5: 251)
Perhatikan kalimatnya. Rasulullah tidak mengatakan tali Islam akan putus sekaligus. Satu demi satu. Perlahan-lahan. Seperti orang yang menarik benang dari kain. Mula-mula kita tidak terlalu memperhatikan. Lama-lama kainnya berubah bentuk.
Begitu pula kehidupan beragama.
Ada nilai yang mulai kita tinggalkan. Amanah tidak lagi dianggap penting. Kejujuran bisa dinegosiasikan. Keadilan tergantung siapa yang berperkara. Ilmu agama dipelajari untuk mendapatkan gelar, bukan untuk mendapatkan kebijaksanaan. Kekuasaan dicari dengan segala cara, lalu setelah mendapatkannya kita sibuk mencari pembenaran.
Yang menarik, manusia biasanya tidak merasa dirinya sedang kehilangan agama.
Ia masih memakai identitas agama.
Masih mengucapkan salam.
Masih datang ke pengajian.
Masih memasang ayat di dinding.
Masih marah kalau agamanya dikritik.
Tetapi mungkin ada sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari kehidupannya.
Di sinilah hadis tadi terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.
Tali pertama bisa terlepas, lalu tali kedua. Kemudian tali ketiga. Namun manusia masih merasa aman karena masih memegang tali yang lain.
Sampai akhirnya tinggal shalat.
Rasulullah saw. juga bersabda:
أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلَاةُ
“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”
(HR. Al Hakim At Tirmidzi)
Kalau begitu, shalat sebenarnya adalah persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam.
Shalat adalah hubungan.
Hubungan manusia dengan Allah.
Dan dari hubungan itu seharusnya lahir hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia.
Saya sering merasa ada sesuatu yang lucu dalam kehidupan kita. Kita bisa berdebat berjam-jam mengenai hukum sesuatu, tetapi lima menit sebelum azan selesai kita masih sibuk mencari sandal.
Kita bisa sangat marah ketika orang lain dianggap merendahkan agama, tetapi kita sendiri kadang dengan ringan merendahkan manusia.
Kita rajin berbicara tentang masyarakat Islam yang ideal, tetapi tetangga sebelah rumah mungkin tidak pernah merasakan kebaikan kita.
Di sinilah agama menjadi menarik sekaligus menantang. Agama bukan hanya soal bagaimana kita berdiri di hadapan Allah. Agama juga menguji bagaimana kita berdiri di hadapan manusia.
Al-Qur’an menggambarkan pandangan orang yang menganggap hidup hanya berhenti di dunia:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
(QS. Al-Jatsiyah: 24)
Ayat ini membuat saya berpikir tentang zaman kita. Dunia modern memberi kita banyak hal. Teknologi berkembang. Informasi bergerak sangat cepat. Manusia bisa berbicara dengan orang di benua lain hanya dalam hitungan detik.
Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab oleh teknologi: untuk apa manusia hidup?
Telepon pintar semakin pintar. Manusia belum tentu.
Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.
Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia, tetapi kadang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati sendiri.
Karena itu, saya tidak terlalu tertarik membayangkan agama hanya dalam bentuk slogan besar tentang hukum, politik, ekonomi, atau kekuasaan. Semua itu penting. Tetapi agama juga harus hadir dalam perkara yang lebih sederhana: apakah kita amanah, apakah kita adil, apakah kita jujur, apakah kita mampu menahan diri, dan apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman.
Al-Qur’an mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh kehilangan rujukan moral. Kekuasaan membutuhkan amanah. Perbedaan membutuhkan kebijaksanaan. Perselisihan membutuhkan rujukan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi.
Tetapi saya kira ada satu hal yang perlu kita ingat. Jangan menjadikan pembicaraan tentang hukum Allah sebagai alasan untuk merasa diri paling suci. Kita boleh memperjuangkan nilai Islam. Kita boleh menginginkan masyarakat yang lebih religius. Tetapi cara memperjuangkannya tetap harus menunjukkan akhlak Islam.
Kalau kita berbicara tentang keadilan sambil berlaku tidak adil, orang akan bingung.
Kalau kita berbicara tentang kasih sayang sambil gemar mencaci, orang akan bertanya.
Kalau kita berbicara tentang Islam tetapi kehadiran kita membuat orang lain takut, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.
Agama seharusnya membuat manusia lebih manusiawi.
Mungkin itu pula sebabnya saya lebih suka memulai pembicaraan tentang shalat dari diri sendiri.
Bukan bertanya, “Mengapa mereka tidak shalat?”
Tetapi, “Mengapa saya masih sering menunda shalat?”
Bukan, “Mengapa mereka tidak berjamaah?”
Tetapi, “Apakah saya sudah merasakan kebutuhan untuk bertemu Allah?”
Bukan, “Mengapa masyarakat semakin jauh dari agama?”
Tetapi, “Apakah perilaku saya membuat agama terasa dekat bagi orang lain?”
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:
من ضيعها فهو لما سواها أضيع
“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”
Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam.
Imam Ahmad juga memberikan peringatan yang senada. Orang yang meremehkan shalat berarti meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.
Saya tidak tahu bagaimana keadaan shalat orang lain. Saya juga tidak ingin terlalu sibuk mengukurnya.
Yang saya tahu, saya sendiri masih harus banyak belajar.
Belajar agar shalat tidak hanya selesai dalam lima waktu, tetapi juga meninggalkan bekas dalam perilaku.
Belajar agar setelah mengucapkan salam, kita tidak kembali menjadi manusia yang suka menyakiti.
Belajar agar sujud tidak hanya membuat dahi menyentuh sajadah, tetapi juga membuat kesombongan sedikit turun.
Sebab mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan ketika kita kehilangan banyak hal sekaligus.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika kita kehilangan agama sedikit demi sedikit, sementara kita merasa semuanya masih baik-baik saja.
Sampai akhirnya tinggal satu tali.
Tali terakhir.
Namanya shalat.
Semoga tali itu tetap kita pegang.
Sebab kalau tali terakhir itu pun terlepas, kepada siapa lagi kita akan kembali?