Senin, 14 September 2026

Ketika Dua Dirham Menjadi Soal Besar: Pelajaran Rasulullah tentang Korupsi dan Amanah


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada kisah yang selalu membuat saya berhenti sejenak ketika membaca hadis tentang ghulul. Nilainya hanya dua dirham. Bukan harta dalam jumlah besar. Bukan pula kekayaan yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Hanya beberapa manik-manik yang nilainya sangat kecil. Tetapi Rasulullah ﷺ memandang persoalan itu dengan keseriusan yang luar biasa.

عن زيد لن خالد الوجهات رضي الله عنه قال،
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَٰلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيْهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ، مَا يَسْوِي دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

"Seorang sahabat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam wafat pada hari (perang) Khaibar, lalu hal itu diberitahukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Maka beliau bersabda:

'Shalatkanlah jenazah teman kalian!'

Wajah para sahabat pun berubah (keheranan/kecewa karena biasanya Rasulullah yang memimpin shalat jenazah).

Lalu beliau bersabda:

'Sesungguhnya teman kalian telah berkhianat di jalan Allah (ghulul).'

Kami pun memeriksa barang-barangnya, dan ternyata kami menemukan manik-manik milik Yahudi, yang nilainya tidak lebih dari dua dirham."

(HR. Abu Dawud, no. 2713; Ahmad, no. 16316)

Saya membaca hadis ini bukan sekadar sebagai cerita tentang seorang sahabat pada masa perang. Saya justru merasa hadis ini seperti cermin yang diarahkan kepada kehidupan kita hari ini. Sebab persoalan utama dalam hadis ini bukan manik-manik. Persoalannya adalah amanah.

Rasulullah ﷺ tidak sedang mengatakan bahwa benda seharga dua dirham itu dapat dibandingkan dengan korupsi bernilai miliaran rupiah. Yang hendak ditegaskan adalah sesuatu yang lebih mendasar. Harta yang bukan hak kita tetap bukan hak kita, berapa pun nilainya.

Di sinilah kadang-kadang kita mengalami persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan uang. Kita sering memiliki kemampuan untuk membenarkan kesalahan karena nilainya kecil. "Ah, cuma sedikit." "Tidak akan terasa." "Semua orang juga melakukan." Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sanalah kebiasaan buruk dapat memperoleh tempat.

Saya membayangkan betapa kerasnya pendidikan moral yang diberikan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak melarang para sahabat menyalatkan jenazah tersebut. Beliau hanya tidak ikut menjadi imam. Seolah-olah ada pesan yang sangat dalam: masyarakat tetap harus mengurus jenazah seorang Muslim, tetapi umat perlu mengetahui bahwa pengkhianatan terhadap amanah bukan perkara ringan.

Bagi saya, tindakan Rasulullah ﷺ itu memperlihatkan cara pendidikan yang sangat manusiawi. Beliau tidak sedang mempermalukan seseorang untuk memuaskan kemarahan. Beliau sedang mendidik masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan moral.

Kalau hari ini kita berbicara tentang korupsi, barangkali kita terlalu sering membayangkan angka-angka besar. Miliaran. Triliunan. Proyek besar. Anggaran negara. Jabatan tinggi. Padahal penyakitnya bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Mengambil uang kas sedikit demi sedikit. Memanfaatkan kendaraan lembaga untuk urusan keluarga tanpa izin. Mengubah angka laporan agar terlihat bagus. Memotong dana kegiatan dengan alasan "sekadar uang lelah". Semua mungkin terlihat kecil ketika berdiri sendiri.

Tetapi amanah memang tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal.

Al-Qur'an mengingatkan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Ada satu kata yang menurut saya penting dalam ayat tersebut: "أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ", sedang kamu mengetahui.

Artinya, persoalan pengkhianatan amanah sering kali bukan karena kita tidak tahu. Kita tahu bahwa itu salah. Kita tahu uang itu bukan milik kita. Kita tahu fasilitas itu diberikan untuk kepentingan lembaga. Kita tahu laporan itu seharusnya jujur. Tetapi pengetahuan tersebut kadang kalah oleh kesempatan dan kepentingan pribadi.

Di situlah hati manusia diuji.

Saya pernah melihat bahwa dalam kehidupan organisasi, persoalan yang paling sulit bukan selalu soal kemampuan seseorang. Kadang justru soal bagaimana seseorang bersikap ketika tidak ada yang melihat. Ketika memegang uang yang bukan miliknya. Ketika memiliki kewenangan yang tidak diawasi. Ketika mempunyai kesempatan mengambil sesuatu tanpa diketahui orang lain.

Karakter seseorang sering terlihat bukan ketika dia sedang diawasi, melainkan ketika dia merasa aman untuk berbuat apa saja.

Hadis tentang dua dirham ini membuat saya berpikir bahwa membangun budaya antikorupsi seharusnya dimulai dari pendidikan tentang amanah. Anak-anak perlu belajar bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya tetap salah meskipun kecil. Mahasiswa perlu memahami bahwa plagiarisme kecil tetap merupakan ketidakjujuran akademik. Pegawai perlu memahami bahwa manipulasi kecil dalam laporan tetap merupakan pengkhianatan. Pemimpin perlu menyadari bahwa menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi juga merupakan bentuk penyimpangan amanah.

Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat tinggi untuk belajar tentang integritas.

Mungkin justru di ruang-ruang kecil kehidupan kita, latihan itu dimulai. Mengembalikan uang kembalian yang berlebih. Tidak mengklaim pekerjaan orang lain. Tidak memalsukan kehadiran. Tidak menggunakan uang lembaga untuk kepentingan pribadi. Tidak mengambil hak orang lain hanya karena tidak ada yang mengetahui.

Perkara-perkara kecil itulah yang membentuk kebiasaan.

Saya juga belajar dari hadis ini bahwa ukuran dosa tidak selalu dapat dibaca dari harga barang. Dua dirham mungkin kecil secara ekonomi. Tetapi pengkhianatan yang menyertainya memiliki dimensi moral yang jauh lebih besar.

Karena yang rusak bukan hanya nilai barang. Yang rusak adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan rusak, sebuah organisasi dapat kehilangan fondasi. Sekolah kehilangan kepercayaan. Kampus kehilangan marwah. Lembaga sosial kehilangan simpati. Pemerintahan kehilangan legitimasi. Bahkan keluarga dapat retak ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi dapat saling percaya.

Barangkali karena itu Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran yang begitu tegas. Jangan meremehkan sesuatu hanya karena nilainya kecil. Jangan menganggap pelanggaran amanah sebagai perkara sepele hanya karena jumlahnya sedikit.

Saya tidak sedang menunjuk siapa-siapa ketika menulis ini. Justru hadis ini pertama-tama saya rasakan sebagai teguran kepada diri sendiri. Sebab amanah tidak hanya berada di tangan pejabat, bendahara, pemimpin, atau pengelola anggaran. Setiap orang memiliki amanahnya sendiri.

Guru memiliki amanah. Dosen memiliki amanah. Orang tua memiliki amanah. Pemimpin memiliki amanah. Pengurus organisasi memiliki amanah. Bahkan seseorang terhadap waktu, ilmu, jabatan, dan kepercayaan orang lain juga memiliki amanah.

Mungkin kita tidak pernah mengambil manik-manik seharga dua dirham. Tetapi pertanyaannya lebih dalam: apakah pernah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita lalu berkata dalam hati, "Tidak apa-apa, toh kecil"?

Hadis ini mengajak saya untuk lebih takut pada kalimat tersebut.

Sebab korupsi yang besar mungkin bermula dari keberanian terhadap kesalahan yang kecil. Dan integritas yang besar juga bermula dari keberanian mengembalikan sesuatu yang sebenarnya bisa saja kita ambil.

Dua dirham akhirnya menjadi pelajaran yang jauh lebih mahal. Ia mengingatkan bahwa amanah tidak memiliki ukuran kecil atau besar. Amanah hanya mengenal satu pertanyaan: apakah sesuatu itu hak kita atau bukan?

Jika bukan hak kita, maka meninggalkannya adalah bentuk kejujuran.

Dan mungkin di situlah agama bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar membuat kita takut kepada hukuman, tetapi membuat kita malu mengambil sesuatu yang bukan milik kita, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Karena boleh jadi manusia tidak melihat.

Tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan pandangan.

Tidak ada komentar:

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...