Senin, 14 September 2026

Ketika Tali Terakhir Itu Bernama Shalat

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sesuatu yang sering kita anggap sederhana, padahal sesungguhnya sangat menentukan arah hidup seorang Muslim. Namanya shalat. Lima kali sehari. Waktunya sudah ditentukan. Gerakannya juga sudah diajarkan. Anehnya, sesuatu yang begitu rutin justru sering menjadi perkara yang paling mudah ditunda.

Saya teringat sebuah hadis yang menggambarkan keadaan umat manusia dengan sangat tajam. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Hadis ini membuat saya merenung. Rasulullah tidak menggambarkan runtuhnya kehidupan beragama sebagai sebuah peristiwa yang terjadi sekaligus. Ia menggambarkannya seperti tali yang terurai satu per satu. Ada sesuatu yang hilang, kemudian sesuatu yang lain menyusul.

Dalam kehidupan nyata, kita mungkin pernah menyaksikan proses semacam itu. Mula-mula seseorang mulai menganggap nilai agama tidak terlalu penting. Kemudian amanah mulai longgar. Kejujuran dianggap sebagai pilihan. Keadilan menjadi slogan. Ilmu agama dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan berjalan tanpa ruh. Ekonomi mengejar keuntungan tanpa memperhatikan halal dan haram. Politik kehilangan etika. Budaya lebih sibuk mengejar popularitas daripada membangun martabat manusia.

Tetapi selama shalat masih dilakukan, masih ada satu tali yang dipegang.

Itulah sebabnya hadis tersebut terasa begitu kuat. Shalat disebut sebagai tali yang terakhir terlepas. Artinya, dalam keadaan paling jauh sekalipun, masih ada pintu untuk kembali. Masih ada hubungan yang belum sepenuhnya putus antara manusia dan Tuhannya.

Saya kira di sinilah kita perlu berhati-hati. Hadis ini jangan dijadikan alat untuk mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu perjalanan batin seseorang. Ada orang yang shalatnya masih berantakan, tetapi hatinya sedang berjuang kembali. Ada pula orang yang tampak sangat religius, tetapi masih bergulat dengan kejujuran, kesombongan, dan kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, persoalan shalat sebaiknya pertama-tama kita tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah shalat kita masih menjadi kebutuhan atau sekadar kewajiban administratif kepada Tuhan?

Ada hadis lain yang semakin menguatkan renungan ini:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Saya membaca hadis ini bukan sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Justru sebaliknya. Ia seperti cermin. Kalau shalat adalah sesuatu yang terakhir tersisa, maka kita harus bertanya: ketika yang lain mulai hilang dari kehidupan kita, apakah shalat masih benar-benar kita jaga?

Sebab shalat seharusnya tidak berhenti di atas sajadah.

Kalau seseorang rajin shalat tetapi masih mudah mengambil hak orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Kalau seseorang tekun beribadah tetapi mudah memfitnah, mungkin ada yang belum selesai dalam penghayatan shalatnya. Kalau kita berdiri menghadap Allah, lalu setelah salam kembali menzalimi manusia, tentu ada jarak antara ritual dan kesadaran.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan tentang cara pandang manusia yang kehilangan orientasi akhirat:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mungkin problem terbesar manusia modern bukan karena tidak memiliki agama. Problemnya adalah agama sering berhenti sebagai identitas. Kita punya nama Islam, tetapi belum tentu nilai Islam menjadi cara berpikir dan cara hidup.

Kita bisa melihatnya dalam banyak bidang. Ketika hukum kehilangan keadilan, ekonomi kehilangan etika, politik kehilangan amanah, pendidikan kehilangan keteladanan, dan kebudayaan kehilangan adab, agama akhirnya tinggal menjadi ornamen.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Namun, saya juga belajar bahwa membicarakan agama tidak cukup dengan mengatakan bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan slogan. Kehidupan jauh lebih rumit. Yang kita perlukan adalah menghadirkan nilai agama dalam keadilan, amanah, kejujuran, kasih sayang, ilmu, dan tanggung jawab.

Di sinilah shalat mempunyai makna yang sangat penting. Ia mengingatkan manusia berkali-kali dalam sehari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta. Ada Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan.

Karena itu, jangan sampai tali terakhir itu pun kita lepaskan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Imam Ahmad juga mengingatkan bahwa orang yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan nasihat kepada orang lain. Rasanya lebih pantas jika saya menutupnya dengan pertanyaan kepada diri sendiri.

Apakah saya masih menjaga shalat ketika tidak ada yang melihat?

Apakah shalat sudah membuat saya lebih jujur?

Apakah setelah salam saya menjadi manusia yang lebih aman bagi orang lain?

Sebab mungkin persoalannya bukan sekadar apakah kita masih shalat. Persoalannya adalah apakah shalat masih menjaga kita.

Jika suatu hari banyak tali dalam kehidupan kita mulai terlepas, semoga tali terakhir itu tidak ikut putus.

Semoga ia tetap bernama shalat.

Tidak ada komentar:

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...