Senin, 14 September 2026

Menjadi Perantara Kebaikan, Tanpa Ribet Jadi Pahlawan

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

,عن أَبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أتاهُ طَالِبُ حَاجَةٍ أقبَلَ عَلَى جُلَسَائِهِ، فَقَالَ: ((اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي الله عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا أحبَّ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., berkata:
"Rasulullah Saw. itu apabila didatangi oleh seseorang yang meminta hajat, maka beliau menghadap semua kawan-kawan duduknya, kemudian bersabda:
"Berilah pertolongan padanya, nescayalah engkau semua mendapatkan pahala dan Allah Swt akan memutuskan apa-apa yang disenanginya atas lisan nabiNya."
(Muttafaq 'alaih)

Ada satu kebiasaan kecil dalam hidup kita yang sering dianggap sepele. Kita membantu orang lain dengan cara yang sangat sederhana. Kadang hanya menyampaikan pesan. Kadang sekadar mengenalkan seseorang kepada orang lain. Kadang hanya bilang, “coba hubungi si A, mungkin dia bisa bantu.” Selesai. Tidak ada seremoni. Tidak ada tepuk tangan.

Padahal, dalam hadis ini, Nabi justru mengangkat hal sederhana itu menjadi sesuatu yang besar. Bukan karena hasilnya. Tapi karena keberanian untuk ikut ambil bagian dalam kebaikan.

Menariknya, Nabi tidak mengatakan, “pastikan masalahnya selesai.” Nabi hanya mengatakan, “berilah pertolongan, kalian akan mendapat pahala.” Artinya jelas. Yang dihitung bukan sukses atau gagal. Tapi kemauan untuk terlibat.

Di sini kita sering keliru. Kita terlalu sibuk menimbang hasil. Kalau kira-kira tidak berhasil, kita mundur. Kalau tidak yakin bisa membantu, kita diam. Bahkan kadang pura-pura tidak tahu. Padahal bisa jadi, justru di situlah ladang pahala yang sedang lewat.

Nabi memberi pelajaran yang sangat manusiawi. Kita tidak diminta jadi penyelesai semua masalah. Kita hanya diminta jadi jembatan. Itu saja.

Dan jembatan itu tidak pernah ditanya apakah dia sampai ke tujuan atau tidak. Dia hanya menjalankan fungsinya, menghubungkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang sebenarnya punya akses, punya relasi, punya kemampuan, tapi memilih diam. Alasannya sederhana. Takut repot. Takut tidak berhasil. Atau takut disalahkan kalau ternyata gagal.

Padahal, kalau kita renungkan, kegagalan itu bukan urusan kita. Itu wilayah Allah.

“Dan Allah Swt pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya.”

Kalimat ini seperti mengingatkan kita. Ada batas antara usaha manusia dan keputusan Tuhan. Kita bergerak di wilayah usaha. Hasil bukan milik kita.

Lalu Al-Qur’an menguatkan prinsip ini:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

"Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.
(QS. An-Nisa : 85)

Ayat ini tidak menyebutkan bahwa syafaat itu harus berhasil. Yang disebut hanya satu, “memberikan syafaat yang baik.” Maka ia mendapat bagian. Selesai.

Ini menarik. Karena dalam logika modern, kita sering diajari berpikir efektif. Semua harus terukur. Semua harus ada hasil. Bahkan kebaikan pun kadang dihitung dengan angka.

Padahal agama mengajarkan sesuatu yang lebih halus. Ada nilai pada proses. Ada pahala pada niat yang bergerak. Ada keberkahan pada langkah kecil yang mungkin tidak terlihat.

Di sisi lain, ada juga pesan yang cukup halus tapi penting. Islam tidak mendorong budaya meminta-minta. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.
(QS. Al Baqoroh : 273)

Ayat ini seperti memberi gambaran. Ada orang yang butuh, tapi tidak meminta. Mereka menjaga harga diri. Di sinilah peran kita menjadi penting. Kita tidak menunggu diminta. Kita peka.

Di titik ini, menjadi perantara kebaikan bukan lagi soal membantu orang yang datang. Tapi juga mencari orang yang tidak datang.

Ini pekerjaan sunyi. Tidak viral. Tidak banyak yang melihat. Tapi justru di situlah letak keikhlasannya.

Gaya hidup hari ini sering membuat kita sibuk dengan urusan sendiri. Kita punya alasan. Pekerjaan banyak. Target menumpuk. Waktu terbatas. Tapi di tengah itu, sebenarnya selalu ada ruang kecil untuk menjadi jembatan.

Kadang hanya butuh satu kalimat.
Kadang hanya butuh satu nomor telepon.
Kadang hanya butuh satu rekomendasi.

Selesai.

Tidak perlu jadi tokoh besar. Tidak perlu punya jabatan tinggi. Tidak perlu dikenal banyak orang. Cukup punya kepedulian.

Dan yang menarik, ketika kita mulai terbiasa membantu dengan cara seperti ini, kita sedang melatih diri. Melatih kepekaan. Melatih keberanian. Melatih keikhlasan.

Karena tidak semua bantuan itu terlihat hasilnya. Tidak semua usaha itu langsung berbuah. Tapi setiap langkah itu dicatat.

Dalam banyak kasus, justru orang yang sering menjadi perantara kebaikan ini hidupnya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya sedikit. Tapi karena hatinya tidak sempit.

Ia tahu satu hal. Hidup ini bukan soal menjadi pusat segalanya. Tapi menjadi bagian dari aliran kebaikan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, dari langkah kecil itu Allah membuka pintu-pintu lain. Pertemuan baru. Rezeki baru. Kemudahan yang tidak kita rencanakan.

Bukan karena kita hebat. Tapi karena kita mau ikut dalam arus kebaikan.

Hadis ini sederhana. Tapi kalau dijalankan, dampaknya luas. Ia mengubah cara kita melihat bantuan. Ia mengubah cara kita menilai peran diri.

Kita tidak lagi menunggu jadi orang penting untuk berbuat baik. Kita cukup jadi orang yang mau bergerak.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan ajaran ini. Tidak rumit. Tidak berat. Tapi dalam.

Menjadi perantara kebaikan, ternyata tidak butuh jadi siapa-siapa. Cukup jadi manusia yang peduli.

Tidak ada komentar:

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...