Di Inggris Utara, ada Underground Cafe yang khusus hanya untuk dracula. Di sana tersedia semua jenis darah dalam botol-botol minuman yang terdiri dari berbagai darah segala kalangan manusia.
Dracula dari Rusia masuk.
“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.
“Ya, beri saya sebotol darah bangsawan abad 17″
“Wah harganya seribu pounds, Tuan”
“No problem, saya punya Credit Card”
Begitu darah bangsawan diberikan, dia mengeluarkan Credit Card dari kantongnya dan meletakkannya di meja, lalu minum dengan santai.
Dracula dari Jepang masuk.
“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.
“Saya minta darah segar dari seorang perawan”
“Tiga ratus pounds, Tuan”
“No probrem, saya punya banyak uang”
Begitu darah segar diberikan, dia mengeluarkan uang kertas dari kantongnya dan meletakkannya di meja, lalu minum dengan santai.
Dracula dari Indonesia masuk.
“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.
“Mmmmmm saya minta segelas air hangat saja”
“Oh itu gratis, Tuan. Tapi dracula tidak minum air, Tuan”
“No problem, saya punya yang instant”
Begitu air hangat diberikan, dia mengeluarkan pembalut wanita bekas dari kantongnya dan mencelupkannya ke air hangat, lalu minum dengan santai…
Jumat, 04 Desember 2009
Jumat, 27 November 2009
HIKMAH IDUL ADHA
Idul Adha bisa kita maknai dari dua sisi. Yaitu dari sisi ajaran yang dibawa Rasulullah SAW dan dari sisi pengalaman Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dalam Alquran, keduanya digelari uswatun hasanah (Nabi yang menjadi teladan dalam kebaikan). Difirmankan, ''Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.'' (QS Al Ahzab [33]: 21). Juga, ''Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.'' (QS Al Mumtahanah [60]: 6).
Hikmah dari Rasulullah SAW
Dilihat dari sisi ajaran Rasulullah SAW, Idul Adha erat kaitannya dengan diturunkannya ayat ketiga dari QS Al Maa'idah [5]. Difirmankan, ''Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.''
Ayat ini adalah ayat Alquran terakhir yang diterima Rasulullah SAW Ada yang menarik, ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah tatkala beliau sedang wukuf di Arafah-saat menunaikan ibadah terakhir. Karena Allah SWT telah mengikrarkan kesempurnaan Islam, maka kita merayakan; mensyukuri; dan memperingatinya dengan hari raya Idul Adha. Dalam ayat ini Allah SAW "mengikrarkan" tiga hal, yaitu: (1) menyempurnakan bangunan agama Islam; (2) mencukupkan semua nikmat-Nya kepada Rasulullah SAW; dan (3) merelakan Islam sebagai dien (agama) terakhir dan terbaik.
Dalam bahasa Alquran, kata akmaltu berbeda dengan kata akmamtu. Satu kumpulan dari banyak hal yang sempurna dinamai "kusempurnakan". Dengan kata lain, semua unsur di dalamnya memiliki kesempurnaan. Tapi kalau akmamtu (Kucukupkan) bermakna kumpulan dari hal yang tidak sempurna. Ia baru sempurna bila semuanya berkumpul menjadi satu.
Kita perbandingkan dengan ajaran Islam. Allah SWT telah mensyariatkan banyak ibadah, misalnya shalat, zakat, haji, puasa, munakat, waris, jihad, dan lainnya. Semuanya telah sangat sempurna, aturan-aturannya telah dirancang dengan sangat jelas. Maka, kumpulan ajaran yang sempurna ini Allah SWT sebut dengan akhmaltu; "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu."
Lain halnya dengan nikmat? Sebesar apa pun nikmat dunia sangat jarang (bahkan tidak pernah) mencapai taraf sempurna. Saat kita dianugerahi sehat misalnya, maka kesehatan tersebut tidak pernah mencapai seratus persen, selalu saja ada yang kurang. Demikian pula nikmat harta. Sebesar apa pun harta yang kita miliki pasti akan selalu kurang. Andai pun kita dianugerahi kesehatan dan kekayaan, maka kekurangan akan tetap terasa bila kita tidak memiliki pasangan hidup, atau keturunan, atau persahabatan, atau rasa aman. Semua nikmat baru dikatakan sempurna apabila dipayungi agama.
Ikrar ketiga adalah diridhainya Islam sebagai agama. "Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama (dien) bagimu". Dien dimaknai sebagai agama. Menurut ulama tafsir, kata dien terambil dari akar yang sama dengan kata daina atau utang. Allah telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Maka, secara tidak langsung kita berhutang budi kepada-Nya. Bagaimana sikap orang berhutang? Kalau mampu ia wajib membayar. Namun, kalau tidak mampu ia harus datang kepada yang memberi utang untuk meminta maaf atau menyerahkan sesuatu yang dimilikinya. Kalau tidak punya apa-apa, ia layak menyerahkan diri untuk "diapa-apakan" oleh yang memberi utang. Karena kemurahan-Nya, Allah rela kita tidak membayar utang-utang kita kepada-Nya, asal kita rela menyerahkan jiwa raga kita kepada-Nya.
Disempurnakannya ajaran Islam, dicukupkannya curahan nikmat, dan "dibebaskannya" kita dari utang, adalah anugerah terbesar yang Allah karuniakan kepada kita. Maka, tidak ada yang pantas kita lakukan selain mensyukurinya. Syukur dimaknai dengan menggunakan semua nikmat untuk mendekat kepada Allah. Dengan demikian, Idul Adha menjadi momentum tepat bagi kita untuk: (1) berusaha memahami makna syukur yang hakiki; (2) mengevaluasi kualitas syukur kita kepada Allah; dan (3) menjadikan setiap aktivitas kita sebagai cerminan rasa syukur kepada Allah. Idul Adha bisa pula dijadikan momentum untuk menumbuhkan kesadaran akan sempurnanya ajaran Islam. Ujung dari kesadaran ini adalah lahirnya kebanggaan menjadi seorang Muslim, rela diatur hukum Islam, dan berkorban demi kejayaan Islam.
Hikmah dari Nabi Ibrahim AS
Dilihat dari sisi Nabi Ibrahim, materinya sudah sangat jelas. Idul Adha (Idul Qurban) adalah refleksi pengalaman Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Pengalaman ayah dan anak terekam jelas dalam Alquran (QS Ash Shaaffaat [37]: 99-113). ''Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar''.'' (QS 37: 102). Karena kesabaran dan ketaatan keduanya, Allah SWT berkenan mengganti Ismail dengan seekor domba. Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang. Setiap tahun kita berkurban domba, sapi, atau unta, dan mengabadikannya menjadi hari raya Idul Adha (Idul Kurban).
Apa hikmahnya bagi kita? Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksankan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
Idul Adha adalah momentum menumbuhsuburkan rasa rasa kasih sayang di antara sesama. Idul Adha harus kita manfaatkan sebagai momentum menyambungkan tali silaturahmi, melatih kepekaan, empati, dan mengikis kebencian di hati. Inilah pesan indah yang dicanangkan dua manusia agung; Ibrahim Khalilullah dan Muhammad SAW.
Kesimpulan
Tentunya ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa agung tersebut, diantaranya adalah :
untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran: “… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Haj, 22:36)
Berkurban adalah mempersembahkan dan memberikan nikmat (yang kita senangi ) kepada orang lain ,dan sebaliknya kita tidak diperkenankan memberikan atau mempersembahkan nikmat (yang tidak kita senangi ) kepada orang lain.
Ketika kita diberi nikmat oleh Allah SWT ,apakah berupa harta,jabatan ,dan kepentingan anak dan keluarga sekalipun,kalau telah datang perintah Allah untuk mempesembahkan nikmat itu menurut kehendak PemilikNya (yaitu Allah SWT ) maka tidak bisa ditawar –tawar lagi.Dia harus kita persembahkan sebagai tanda bakti dan setia kepada Allah SWT dan untuk mendekatkan diri kepadaNya.karena pada hakikatnya kita ini adalah milik Allah SWT dan segala sesuatu yang melekat pada diri kita harus kembali kepada Allah SWT untuk dimintai pertanggung jawaban.di hadapan allah .(Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun)Jadi hak milik kita semua hakikatnya adalah milik allah ,dan kita hanya mempunyai hak pakai,sehingga dalam memakai diri kita dan segala sesuatu yang melekat pada diri kita harus sesuai dengan kehendak Pemiliknya yakni Allah .
Semoga dengan mempringati hari idul adha atau idul kurban ini, hikmah yang ada didalamnya dapat terinternalisasikan dalam pribadi-pribadi kita semua. Menjadi insan yang selalu bertaqarrub kepadaNya, bersungguh-sungguh dalam meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, Mengembangkan sikap saling rela berkorban baik harta, fikiran dan tenaga dan berjiwa sosial.
Hikmah dari Rasulullah SAW
Dilihat dari sisi ajaran Rasulullah SAW, Idul Adha erat kaitannya dengan diturunkannya ayat ketiga dari QS Al Maa'idah [5]. Difirmankan, ''Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.''
Ayat ini adalah ayat Alquran terakhir yang diterima Rasulullah SAW Ada yang menarik, ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah tatkala beliau sedang wukuf di Arafah-saat menunaikan ibadah terakhir. Karena Allah SWT telah mengikrarkan kesempurnaan Islam, maka kita merayakan; mensyukuri; dan memperingatinya dengan hari raya Idul Adha. Dalam ayat ini Allah SAW "mengikrarkan" tiga hal, yaitu: (1) menyempurnakan bangunan agama Islam; (2) mencukupkan semua nikmat-Nya kepada Rasulullah SAW; dan (3) merelakan Islam sebagai dien (agama) terakhir dan terbaik.
Dalam bahasa Alquran, kata akmaltu berbeda dengan kata akmamtu. Satu kumpulan dari banyak hal yang sempurna dinamai "kusempurnakan". Dengan kata lain, semua unsur di dalamnya memiliki kesempurnaan. Tapi kalau akmamtu (Kucukupkan) bermakna kumpulan dari hal yang tidak sempurna. Ia baru sempurna bila semuanya berkumpul menjadi satu.
Kita perbandingkan dengan ajaran Islam. Allah SWT telah mensyariatkan banyak ibadah, misalnya shalat, zakat, haji, puasa, munakat, waris, jihad, dan lainnya. Semuanya telah sangat sempurna, aturan-aturannya telah dirancang dengan sangat jelas. Maka, kumpulan ajaran yang sempurna ini Allah SWT sebut dengan akhmaltu; "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu."
Lain halnya dengan nikmat? Sebesar apa pun nikmat dunia sangat jarang (bahkan tidak pernah) mencapai taraf sempurna. Saat kita dianugerahi sehat misalnya, maka kesehatan tersebut tidak pernah mencapai seratus persen, selalu saja ada yang kurang. Demikian pula nikmat harta. Sebesar apa pun harta yang kita miliki pasti akan selalu kurang. Andai pun kita dianugerahi kesehatan dan kekayaan, maka kekurangan akan tetap terasa bila kita tidak memiliki pasangan hidup, atau keturunan, atau persahabatan, atau rasa aman. Semua nikmat baru dikatakan sempurna apabila dipayungi agama.
Ikrar ketiga adalah diridhainya Islam sebagai agama. "Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama (dien) bagimu". Dien dimaknai sebagai agama. Menurut ulama tafsir, kata dien terambil dari akar yang sama dengan kata daina atau utang. Allah telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Maka, secara tidak langsung kita berhutang budi kepada-Nya. Bagaimana sikap orang berhutang? Kalau mampu ia wajib membayar. Namun, kalau tidak mampu ia harus datang kepada yang memberi utang untuk meminta maaf atau menyerahkan sesuatu yang dimilikinya. Kalau tidak punya apa-apa, ia layak menyerahkan diri untuk "diapa-apakan" oleh yang memberi utang. Karena kemurahan-Nya, Allah rela kita tidak membayar utang-utang kita kepada-Nya, asal kita rela menyerahkan jiwa raga kita kepada-Nya.
Disempurnakannya ajaran Islam, dicukupkannya curahan nikmat, dan "dibebaskannya" kita dari utang, adalah anugerah terbesar yang Allah karuniakan kepada kita. Maka, tidak ada yang pantas kita lakukan selain mensyukurinya. Syukur dimaknai dengan menggunakan semua nikmat untuk mendekat kepada Allah. Dengan demikian, Idul Adha menjadi momentum tepat bagi kita untuk: (1) berusaha memahami makna syukur yang hakiki; (2) mengevaluasi kualitas syukur kita kepada Allah; dan (3) menjadikan setiap aktivitas kita sebagai cerminan rasa syukur kepada Allah. Idul Adha bisa pula dijadikan momentum untuk menumbuhkan kesadaran akan sempurnanya ajaran Islam. Ujung dari kesadaran ini adalah lahirnya kebanggaan menjadi seorang Muslim, rela diatur hukum Islam, dan berkorban demi kejayaan Islam.
Hikmah dari Nabi Ibrahim AS
Dilihat dari sisi Nabi Ibrahim, materinya sudah sangat jelas. Idul Adha (Idul Qurban) adalah refleksi pengalaman Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Pengalaman ayah dan anak terekam jelas dalam Alquran (QS Ash Shaaffaat [37]: 99-113). ''Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar''.'' (QS 37: 102). Karena kesabaran dan ketaatan keduanya, Allah SWT berkenan mengganti Ismail dengan seekor domba. Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang. Setiap tahun kita berkurban domba, sapi, atau unta, dan mengabadikannya menjadi hari raya Idul Adha (Idul Kurban).
Apa hikmahnya bagi kita? Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksankan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
Idul Adha adalah momentum menumbuhsuburkan rasa rasa kasih sayang di antara sesama. Idul Adha harus kita manfaatkan sebagai momentum menyambungkan tali silaturahmi, melatih kepekaan, empati, dan mengikis kebencian di hati. Inilah pesan indah yang dicanangkan dua manusia agung; Ibrahim Khalilullah dan Muhammad SAW.
Kesimpulan
Tentunya ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa agung tersebut, diantaranya adalah :
untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran: “… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Haj, 22:36)
Berkurban adalah mempersembahkan dan memberikan nikmat (yang kita senangi ) kepada orang lain ,dan sebaliknya kita tidak diperkenankan memberikan atau mempersembahkan nikmat (yang tidak kita senangi ) kepada orang lain.
Ketika kita diberi nikmat oleh Allah SWT ,apakah berupa harta,jabatan ,dan kepentingan anak dan keluarga sekalipun,kalau telah datang perintah Allah untuk mempesembahkan nikmat itu menurut kehendak PemilikNya (yaitu Allah SWT ) maka tidak bisa ditawar –tawar lagi.Dia harus kita persembahkan sebagai tanda bakti dan setia kepada Allah SWT dan untuk mendekatkan diri kepadaNya.karena pada hakikatnya kita ini adalah milik Allah SWT dan segala sesuatu yang melekat pada diri kita harus kembali kepada Allah SWT untuk dimintai pertanggung jawaban.di hadapan allah .(Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun)Jadi hak milik kita semua hakikatnya adalah milik allah ,dan kita hanya mempunyai hak pakai,sehingga dalam memakai diri kita dan segala sesuatu yang melekat pada diri kita harus sesuai dengan kehendak Pemiliknya yakni Allah .
Semoga dengan mempringati hari idul adha atau idul kurban ini, hikmah yang ada didalamnya dapat terinternalisasikan dalam pribadi-pribadi kita semua. Menjadi insan yang selalu bertaqarrub kepadaNya, bersungguh-sungguh dalam meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, Mengembangkan sikap saling rela berkorban baik harta, fikiran dan tenaga dan berjiwa sosial.
Rabu, 28 Oktober 2009
Senin, 19 Oktober 2009
Proposal Seminar Pendidikan dan Pelatihan PGM
Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan yang terencana, terpola dan terarah untuk membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan juga merupakan suatu upaya yang bersifat eksistensial. Sifat eksistensial pendidikan bagi manusia merujuk pada suatu kenyataan, bahwa sekalipun manusia lahir sebagai manusia, namun untuk mengukuhkan eksistensinya agar hidup secara manusiawi sesuai dengan kodrat kemanusiaannya, manusia harus menjalani proses pendidikan. Proses ini tidak hanya berhubungan dengan benda-benda fisik, tetapi juga dapat memberi makna bagi kehidupannya. Inilah yang menjadi kehendak mendasar dari pendidikan.
Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Di samping itu, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Hasil penelitian para pakar pendidikan menyatakan bahwa dalam semua ikhtiar pendidikan, guru mempunyai peranan kunci, di samping faktor-faktor lain seperti sarana dan prasarana, biaya, kurikulum, sistem pengelolaan, dan peserta didik sendiri. Apa yang kita siapkan dalam pendidikan berupa sarana dan prasarana, biaya dan kurikulum, hanya akan berarti jika diberi arti oleh guru.
Dalam Educational Leadership (Maret 1993), Ronald Brandt menyatakan, "Hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan seperti pembaruan kurikulum dan penerapan metode mengajar baru akhirnya tergantung kepada guru. Tanpa mereka menguasai bahan pelajaran dan strategi belajar-mengajar, tanpa mereka dapat mendorong siswanya untuk belajar sungguh-sungguh guna mencapai prestasi yang tinggi, maka segala upaya peningkatan mutu pendidik¬an tidak akan mencapai hasil yang maksimal".
Studi Heyneman dan Loxley (1983) di 29 negara menemukan bahwa di antara berbagai masukan (inputs) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa), lebih dari sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana dialami oleh negara-negara sedang berkembang, dan bagi anak-anak kurang beruntung yang tinggal di lingkungan yang kurang menunjang bagi proses belajarnya.
Lengkapnya hasil studi itu ialah: di 16 negara sedang berkem¬bang (India, Mesir, Botswana, Thailand, Chile, El Salvador, Kolombia, Meksiko, Brazil, Argentina, Peru, Uganda, Hongaria, Paraguay, Iran, Bolivia), guru memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18%, dan sarana fisik 26%. Di 13 negara industri (Amerika Serikat, Inggris, Skotlandia, Belanda, Jerman, Swedia, Belgia yang meliputi tiga kelompok etnis, Selandia Baru, Australia, Italia, Jepang) kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu belajar 22%, dan sarana fisik 19%.
Di Indonesia, tantangan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan semakin berkembang jika dikaitkan dengan mutu guru terutama menyangkut keterampilan mengajar dan memanfaatkan waktu belajar dengan sebaik-baiknya. Akibat nyata dari keadaan ini ialah: guru kurang mampu mengelola waktu, dan sedikit waktu dicurahkan untuk bekerja (time-on-task) dalam arti yang sesungguhnya.
Studi Aria Djalil (1984) mengungkapkan bahwa "academic learning time" guru di SD hanya 36% dari jumlah waktu yang dialo¬kasikan. Selebihnya untuk tugas-tugas administratis upacara, atau kegiatan lain. Jadi persoalan di kita bukan hanya banyak hilangnya hari belajar efektif akibat berbagai macam kegiatan dan liburan resmi, melainkan juga penggunan waktu yang nyata-nyata telah tersedia dalam jadwal pelajaran.
Seiring dengan itu, meningkat pula harapan masyarakat terhadap guru. Peningkatan kemampuan guru selalu berkejaran dengan harapan masyarakat yang semakin hari semakin besar. Kalau dahulu guru merupakan satu-satunya dan sumber utama pengetahuan bagi peserta didiknya, maka sekarang sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik semakin beragam. Dalam kondisi demikian, guru dipacu untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya. Guru masa kini bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan materi pelajaran, melainkan menjadi pembina moral dan teladan bagi peserta didiknya.
Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya pening¬katan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan profesionalisme dan kompetensi guru merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pen¬didikan bukan hanya ditentukan oleh guru, melainkan juga oleh mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya, banyak tergantung kepada kepiawaian guru dalam membelajarkan siswa.
Uraian tersebut menunjukan urgensi peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan dalam rangka meningkkatkan mutu pendidikan. Hal ini telah direspon dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional , PP NO. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dan UU 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Dalam kenyataannya, melahirkan tenaga pendidik dan kependidikan yang professional dan memiliki kompetensi yang handal tidaklah mudah. Diperlukan kerja sama berbagai pihak yang secara sinergis melakukan upaya proaktif dalam menghadapi hal tersebut. Keterpaduan berbagai pihak tersebut diharapkan akan menumbuhkan suatu sinergi dan akselerasi (percepatan) yang dinamis, efektif dan efisien dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Seiring dengan itu, meningkat pula harapan masyarakat terhadap guru. Peningkatan kemampuan guru selalu berkejaran dengan harapan masyarakat yang semakin hari semakin besar. Kalau dahulu guru merupakan satu-satunya dan sumber utama pengetahuan bagi peserta didiknya, maka sekarang sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik semakin beragam. Dalam kondisi demikian, guru dipacu untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya. Guru masa kini bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan materi pelajaran, melainkan menjadi pembina moral dan teladan bagi peserta didiknya.
Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya pening¬katan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan profesionalisme dan kompetensi guru merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pen¬didikan bukan hanya ditentukan oleh guru, melainkan juga oleh mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya, banyak tergantung kepada kepiawaian guru dalam membelajarkan siswa.
Uraian tersebut menunjukan urgensi peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan dalam rangka meningkkatkan mutu pendidikan. Hal ini telah direspon dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional , PP NO. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dan UU 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Dalam kenyataannya, melahirkan tenaga pendidik dan kependidikan yang professional dan memiliki kompetensi yang handal tidaklah mudah. Diperlukan kerja sama berbagai pihak yang secara sinergis melakukan upaya proaktif dalam menghadapi hal tersebut. Keterpaduan berbagai pihak tersebut diharapkan akan menumbuhkan suatu sinergi dan akselerasi (percepatan) yang dinamis, efektif dan efisien dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Menjadi guru, apalagi di Madrasah, merupakan pilihan yang mulia. Relevansi pencapaian tujuan dunia dan akhirat, ada pada pundak guru madrasah. Namun, perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah belum begitu maksimal dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru madrasah. Apalagi di era otonomi daerah, cenderung nasib guru madrasah kian tidak menentu.
Hal tersebut menunjukkan urgensi pemahaman tentang eksistensi guru madrasah di era otonomi daerah. Dengan harapan para pengambil kebijakan di negeri ini menjadi “terbuka mata, telinga dan hati”nya, untuk memperhatikan nasib dan posisi guru madrasah sebagai elemen penting negeri ini dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Yayasan Baitul Hikmah dan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Guru Madrasah (DPD-PGM) Kab.Sukabumi sebagai wadah yang menampung aspirasi guru madrasah merasa berkewajiban menjalankan peranannya sebagai wahana yang memiliki perangkat. Hal ini diwujudkan dengan aktivitas dan partisipasi aktif dengan merealisasikan berbagai program kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Dilandasai oleh keyakinan dan kemurnian hati bahwa tekad dan komitmen tersebut dapat terlaksana dengan usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan, maka Yayasan Baitul Hikmah bekerjasama dengan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Guru Madrasah (DPD-PGM) Kabupaten Sukabumi bermaksud melaksanakan Seminar Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Nasional.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Seminar dan Diklat ini adalah pada :
Hari, Tanggal :Selasa-Kamis, 20-22 Oktober 2009
Waktu :Pukul 08.00 WIB s.d. selesai
Tempat :Gedung qolbun Salim Kota Sukabumi
Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Di samping itu, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Hasil penelitian para pakar pendidikan menyatakan bahwa dalam semua ikhtiar pendidikan, guru mempunyai peranan kunci, di samping faktor-faktor lain seperti sarana dan prasarana, biaya, kurikulum, sistem pengelolaan, dan peserta didik sendiri. Apa yang kita siapkan dalam pendidikan berupa sarana dan prasarana, biaya dan kurikulum, hanya akan berarti jika diberi arti oleh guru.
Dalam Educational Leadership (Maret 1993), Ronald Brandt menyatakan, "Hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan seperti pembaruan kurikulum dan penerapan metode mengajar baru akhirnya tergantung kepada guru. Tanpa mereka menguasai bahan pelajaran dan strategi belajar-mengajar, tanpa mereka dapat mendorong siswanya untuk belajar sungguh-sungguh guna mencapai prestasi yang tinggi, maka segala upaya peningkatan mutu pendidik¬an tidak akan mencapai hasil yang maksimal".
Studi Heyneman dan Loxley (1983) di 29 negara menemukan bahwa di antara berbagai masukan (inputs) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa), lebih dari sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana dialami oleh negara-negara sedang berkembang, dan bagi anak-anak kurang beruntung yang tinggal di lingkungan yang kurang menunjang bagi proses belajarnya.
Lengkapnya hasil studi itu ialah: di 16 negara sedang berkem¬bang (India, Mesir, Botswana, Thailand, Chile, El Salvador, Kolombia, Meksiko, Brazil, Argentina, Peru, Uganda, Hongaria, Paraguay, Iran, Bolivia), guru memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18%, dan sarana fisik 26%. Di 13 negara industri (Amerika Serikat, Inggris, Skotlandia, Belanda, Jerman, Swedia, Belgia yang meliputi tiga kelompok etnis, Selandia Baru, Australia, Italia, Jepang) kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu belajar 22%, dan sarana fisik 19%.
Di Indonesia, tantangan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan semakin berkembang jika dikaitkan dengan mutu guru terutama menyangkut keterampilan mengajar dan memanfaatkan waktu belajar dengan sebaik-baiknya. Akibat nyata dari keadaan ini ialah: guru kurang mampu mengelola waktu, dan sedikit waktu dicurahkan untuk bekerja (time-on-task) dalam arti yang sesungguhnya.
Studi Aria Djalil (1984) mengungkapkan bahwa "academic learning time" guru di SD hanya 36% dari jumlah waktu yang dialo¬kasikan. Selebihnya untuk tugas-tugas administratis upacara, atau kegiatan lain. Jadi persoalan di kita bukan hanya banyak hilangnya hari belajar efektif akibat berbagai macam kegiatan dan liburan resmi, melainkan juga penggunan waktu yang nyata-nyata telah tersedia dalam jadwal pelajaran.
Seiring dengan itu, meningkat pula harapan masyarakat terhadap guru. Peningkatan kemampuan guru selalu berkejaran dengan harapan masyarakat yang semakin hari semakin besar. Kalau dahulu guru merupakan satu-satunya dan sumber utama pengetahuan bagi peserta didiknya, maka sekarang sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik semakin beragam. Dalam kondisi demikian, guru dipacu untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya. Guru masa kini bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan materi pelajaran, melainkan menjadi pembina moral dan teladan bagi peserta didiknya.
Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya pening¬katan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan profesionalisme dan kompetensi guru merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pen¬didikan bukan hanya ditentukan oleh guru, melainkan juga oleh mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya, banyak tergantung kepada kepiawaian guru dalam membelajarkan siswa.
Uraian tersebut menunjukan urgensi peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan dalam rangka meningkkatkan mutu pendidikan. Hal ini telah direspon dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional , PP NO. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dan UU 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Dalam kenyataannya, melahirkan tenaga pendidik dan kependidikan yang professional dan memiliki kompetensi yang handal tidaklah mudah. Diperlukan kerja sama berbagai pihak yang secara sinergis melakukan upaya proaktif dalam menghadapi hal tersebut. Keterpaduan berbagai pihak tersebut diharapkan akan menumbuhkan suatu sinergi dan akselerasi (percepatan) yang dinamis, efektif dan efisien dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Seiring dengan itu, meningkat pula harapan masyarakat terhadap guru. Peningkatan kemampuan guru selalu berkejaran dengan harapan masyarakat yang semakin hari semakin besar. Kalau dahulu guru merupakan satu-satunya dan sumber utama pengetahuan bagi peserta didiknya, maka sekarang sumber-sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik semakin beragam. Dalam kondisi demikian, guru dipacu untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya. Guru masa kini bukan hanya dituntut untuk mampu menyampaikan materi pelajaran, melainkan menjadi pembina moral dan teladan bagi peserta didiknya.
Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya pening¬katan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan profesionalisme dan kompetensi guru merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pen¬didikan bukan hanya ditentukan oleh guru, melainkan juga oleh mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya, banyak tergantung kepada kepiawaian guru dalam membelajarkan siswa.
Uraian tersebut menunjukan urgensi peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan dalam rangka meningkkatkan mutu pendidikan. Hal ini telah direspon dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional , PP NO. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dan UU 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Dalam kenyataannya, melahirkan tenaga pendidik dan kependidikan yang professional dan memiliki kompetensi yang handal tidaklah mudah. Diperlukan kerja sama berbagai pihak yang secara sinergis melakukan upaya proaktif dalam menghadapi hal tersebut. Keterpaduan berbagai pihak tersebut diharapkan akan menumbuhkan suatu sinergi dan akselerasi (percepatan) yang dinamis, efektif dan efisien dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Menjadi guru, apalagi di Madrasah, merupakan pilihan yang mulia. Relevansi pencapaian tujuan dunia dan akhirat, ada pada pundak guru madrasah. Namun, perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah belum begitu maksimal dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru madrasah. Apalagi di era otonomi daerah, cenderung nasib guru madrasah kian tidak menentu.
Hal tersebut menunjukkan urgensi pemahaman tentang eksistensi guru madrasah di era otonomi daerah. Dengan harapan para pengambil kebijakan di negeri ini menjadi “terbuka mata, telinga dan hati”nya, untuk memperhatikan nasib dan posisi guru madrasah sebagai elemen penting negeri ini dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Yayasan Baitul Hikmah dan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Guru Madrasah (DPD-PGM) Kab.Sukabumi sebagai wadah yang menampung aspirasi guru madrasah merasa berkewajiban menjalankan peranannya sebagai wahana yang memiliki perangkat. Hal ini diwujudkan dengan aktivitas dan partisipasi aktif dengan merealisasikan berbagai program kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Dilandasai oleh keyakinan dan kemurnian hati bahwa tekad dan komitmen tersebut dapat terlaksana dengan usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan, maka Yayasan Baitul Hikmah bekerjasama dengan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Guru Madrasah (DPD-PGM) Kabupaten Sukabumi bermaksud melaksanakan Seminar Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Nasional.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Seminar dan Diklat ini adalah pada :
Hari, Tanggal :Selasa-Kamis, 20-22 Oktober 2009
Waktu :Pukul 08.00 WIB s.d. selesai
Tempat :Gedung qolbun Salim Kota Sukabumi
Sabtu, 17 Oktober 2009
Meninggalnya Putri pa Mukhsin
harini, sabtu, 177 Oktober 2009 jam 6 putra ke 4 pa mukhsin meninggal di rumah sakit al Islam Bandung.. mudah2an disabarkan menghadapi cobaan ini.. amin
Selasa, 29 September 2009
Pelatihan Guru Madrasah Diniyah
senin, 28 September 2009, Tepatnya di Gg. Djuli Ciaul diadakan kegiatan pelatihan guru madrasah diniyah. jujur, aku sangat respek dengan kegiatan semacam ini. bagiku, bila Allah berkenan maka diantara sekian banyak golongan yang masuk syurga kelak, maka Guru MD adalah golongan pertama yang akan melakukannya. bagaimana tidak? perjuangan, dedikasi dan upayanya dalam mencerdaskan anak bangsa, juga menuntun mereka kepada akhlak mulia dan dasar pemahaman agama yang mumpuni.... semoga ke depan ada kebijakan yang berpihak padamu agar kehidupanmu menjadi sejahter, tidak seperti sekarang.. Amin..
Kamis, 24 September 2009
Yang Meninggal, ada pengganti ma' empat...
Ayahanda Pa Dasep, kolegaku di STAI, meninggal. Bosku< ketua dan PK 2 nelp. aku ga bisa berangkat. maklum mesti jaga anak-anak sekaligus beres-beres rumah....pembantu belum datang. rencana hari ini..
saat di D'Green, aku sempatkan sms istri, apa orang yang berencana mau datang ke rumah udah nyampe atau belum. yang datang itu adalah orang yang mau membantu keluargaku dalam urusah pekerjaan "keras" di rumah. Bagiku, punya anak 3 adalah berkah dan kebanggaan tersendiri.
namanya ternyata Ma' Dedeh. seorang perempuan beranak enam, 2 laki-laki dan 4 perempuan. kini tengah dikaruniai 3 orang cucu.
malam ini Adikku yang bungsu tidur dirumah. mudah-mudahan anak yang sedang dikandungnya, disehatkan, selamat dan lahir dengan sempurna dengan kemudahan. amin....
saat di D'Green, aku sempatkan sms istri, apa orang yang berencana mau datang ke rumah udah nyampe atau belum. yang datang itu adalah orang yang mau membantu keluargaku dalam urusah pekerjaan "keras" di rumah. Bagiku, punya anak 3 adalah berkah dan kebanggaan tersendiri.
namanya ternyata Ma' Dedeh. seorang perempuan beranak enam, 2 laki-laki dan 4 perempuan. kini tengah dikaruniai 3 orang cucu.
malam ini Adikku yang bungsu tidur dirumah. mudah-mudahan anak yang sedang dikandungnya, disehatkan, selamat dan lahir dengan sempurna dengan kemudahan. amin....
Langganan:
Postingan (Atom)
Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...
-
Anda disebut hebat jika Anda mencapai keberhasilan dengan menggunakan seadanya kemampuan dan sarana yang ada pada diri Anda sendiri. Janganl...
-
We all share the same destination We all work together as one In this place there’s only one vision And that’s to be the NUMBER ONE We all h...
-
https://jabar.kemenag.go.id/opini-470-akreditasi-dan-tantangan-madrasah-menuju-hebat-bermartabat