Minggu, 13 Juli 2025
Seri 2. *Api yang Memimpin: Kepemimpinan Pendidikan Islam dalam Sorotan Cak Nur*
Seri 1 *Mengenang Cak Nur: Membaca Kembali Api Intelektual untuk Pendidikan Islam Masa Kini*
(2) Ketika Kharisma Menyembunyikan Bahaya: Mengungkap Sisi Gelap Kepemimpinan Narsistik
Hijrah: Ketika manusia berproses untuk lebih menjadi Manusia
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Setiap kali memasuki bulan Muharram, saya teringat satu pertanyaan lama yang entah siapa yang pertama kali lontarkan: kenapa kalender Islam dimulai dari hijrah, bukan dari kelahiran Nabi Muhammad, atau turunnya wahyu pertama? Orang-orang sering menjawab dengan bahasa yang sangat agamis—simbol perjuangan, awal peradaban, dan seterusnya. Tapi saya punya jawaban sederhana: karena orang Islam, dari dulu sampai sekarang, memang suka pindah-pindah. Cuma sayangnya, sering lupa tujuan.
Hijrah itu memang penting. Tapi jangan buru-buru membayangkan sesuatu yang berat dan dramatis. Kita ini kadang terlalu sibuk mengurusi hijrah orang lain: “Wah, dia udah hijrah tuh... pakai gamis... Pakai hijab....jenggotan... mantap!” Tapi lupa ngaca—sudah hijrah dari nyinyir ke berpikir belum? Sudah hijrah dari gampang tersinggung ke gampang tertawa belum?
Saya tidak sedang mengecilkan makna hijrah. Tapi justru ingin mengingatkan bahwa makna hijrah itu sangat luas, bahkan bisa sangat pribadi. Nabi Muhammad saja, waktu hijrah ke Madinah, tidak bawa bala tentara. Beliau hanya ditemani Abu Bakar. Itu pun sembunyi-sembunyi. Tidak ada status Instagram bertuliskan “Bismillah, hijrah.” Jadi, kalau ada orang berubah pelan-pelan, jangan buru-buru bilang belum hijrah. Bisa jadi dia justru sedang dalam proses paling dalam.
Orang suka lupa, bahwa hijrah juga bisa berarti: berhenti menyakiti orang lain. Berhenti merasa paling benar. Berhenti merasa surga itu milik kelompok sendiri. Itu juga hijrah, meskipun tidak kelihatan dari pakaian luar. Hijrah adalah berpindah dari sempit ke lapang, dari keras ke lembut, dari sok tahu ke tahu diri.
Saya pernah bilang dalam satu ceramah santai, yang kadang lebih banyak ketawanya daripada isinya“Agama itu untuk membebaskan manusia, bukan menakut-nakutinya.” Jadi kalau cara kita beragama justru bikin orang takut, cemas, dan merasa makin jauh dari Tuhan, ya kita perlu hijrah. Bukan dari agama, tapi dari cara memahaminya.
Di masa seperti sekarang, hijrah bukan cuma soal pribadi. Bangsa ini juga perlu hijrah. Dari kebisingan debat tak berujung menuju suasana saling mendengar. Dari saling curiga ke saling memahami. Dari kata-kata kasar di kolom komentar ke tindakan nyata di dunia nyata. Percuma status sosial media panjang-panjang kalau di warung masih enggan antri dan buang sampah sembarangan.
Kadang saya berpikir, kita ini terlalu serius dalam hal-hal yang tak penting, dan terlalu santai dalam hal-hal yang genting. Hijrah itu artinya tahu mana yang perlu ditertawakan, dan mana yang harus disikapi dengan hati-hati. Jangan semua masalah dianggap urusan iman, tapi juga jangan semua urusan iman dianggap bahan candaan.
Kalau kita mau jujur, hidup ini memang penuh perubahan. Bahkan tubuh kita pun berubah tanpa kita sadari. Maka pertanyaannya bukan “mau berubah atau tidak?”, tapi “mau berubah ke arah mana?” Orang bisa berubah jadi lebih keras, lebih kejam, lebih egois. Maka hijrah adalah upaya sadar untuk berubah menjadi lebih manusia—lebih pengertian, lebih lembut, lebih bisa tertawa.
Satu hal yang saya pelajari dari banyak orang bijak: orang yang makin dalam ilmunya, justru makin tenang. Tidak mudah marah, tidak mudah menghakimi. Maka saya kira, hijrah juga berarti berpindah dari dangkal ke dalam. Bukan cuma paham ayat, tapi paham makna. Bukan cuma fasih berdoa, tapi juga lembut hatinya.
Kalau mau jujur lagi, sebagian dari kita ini sudah terlalu lama hidup dalam rutinitas. Bangun, kerja, pulang, rebahan, scroll medsos, lalu tidur. Begitu terus. Kita perlu hijrah, bukan ke tempat lain, tapi ke versi diri kita yang lebih sadar. Sadar bahwa hidup ini singkat, dan terlalu berharga untuk diisi dengan marah-marah tiap hari.
Jadi ya sudah, tak usah muluk-muluk. Tahun baru hijriyah ini, mari kita hijrah pelan-pelan. Dari kebiasaan menunda ke disiplin. Dari mulut yang tajam ke hati yang hangat. Dari semangat membenci ke semangat memperbaiki. Kalau pun belum bisa semua, ya tidak apa-apa. Yang penting terus berjalan. Karena seperti kata Gus Dur: “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dan hijrah, pada akhirnya, adalah cara kita belajar menjadi manusia yang lebih baik.
---
Bio Penulis:
Mulyawan Safwandy Nugraha
Akademisi yang percaya bahwa humor, akal sehat, dan sedikit ngopi bisa membuat hidup lebih ringan. Fokus kajian pada manajemen, kepemimpinan, Pendidikan dan Pembelajaran. Menulis untuk menyampaikan yang berat dengan cara yang bersahabat. Sesekali menulis di antara tugas sebagai editor dan reviewer Jurnal utk mengoreksi artikel ilmiah serta sebagai ayah yang menemani anak-anaknya yang makin dewasa.
Minggu, 25 September 2022
Benar Ternyata, Menulis itu butuh Konsistensi
Bagi sebagian orang mungkin menulis bukan hal yang penting. Bahkan boleh jadi, bukan sesuatu yang harus jadi prioritas. Bagi Aku, menulis itu kehidupan. Menulis itu membangun peradaban. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menjadi bermanfaat sebalin melahirkan warisan yang everlasting.
Saya kehilangan tahun 2021 untuk menulis di blog ini. Dan itu tercatat di blog ini. Duh...kemana aja selama ini ya.. Ternyata, untuk kasusku, alasannya hilang arah, tidak fokus, sibuk ngurusi yang boleh jadi ga penting.
Akhirnya, harus diakui. Memang Menulis itu butuk Konsistensi. Bukan hanya kata-kata penuh retorika tanpa karya nyata. Semoga, Aku bisa lanjutkan menulis ini jadi tradisi baik.
Aamiin
Minggu, 06 Desember 2020
Menjaga integritas ASN Kementerian Agama di Era New Normal
Integritas adalah mantra utama
bagi tiap ASN Kementerian Agama. Kata Integritas menjadi bagian penting untuk
menunjukkan bagaimana ASN Kementerian Agama berproses menjalankan Tusi (Tugas
dan Fungsi)-nya. Integritas pula yang dijadikan nilai dasar pertama dalam Nilai
Budaya Kerja Kementerian Agama. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika setiap
ASN Kementerian Agama harus benar-benar memperhatikan dan menginternalisasi
nilai Integritas tersebut dalam berbagai suasana dan zaman, termasuk di Era New
Normal.
Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan manusia dalam berbagai aspek nilai,
peradaban dan budaya manusia. Ada yang bergeser dan secara massif mulai ada
kebiasaan baru di sekitar kita. Penggunaan masker, jaga jarak, rajin mencuci
tangan, menghindari kerumunan, dll adalah hal-hal baru yang seharusnya menjadi
kebiasaan dan budaya baru. Dalam aktivitas belajar dan bekerja, penggunaan Zoom
Cloud Meeting, Webex, Google Meet dll, telah menjadi media aplikasi yang biasa
digunakan selama era pandemi Covid-19.
Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengantisipasi dan
menanggulangi dampak Covid-19 ini. Termasuk di antaranya kebijakan Work From
Office (WFO) dan Work From Home (WFH). Belum lagi dengan kebijakan Menteri
Agama untuk tiap Eselon 1 dan II agar serapan anggaran yang teruang dalam DIPA
bisa mencapai 75%. Hal ini tentu menuntut semua pihak di internal Kementerian
Agama untuk betul-betul peduli dan sigap dengan tidak abai terhadap nilai-nilai
integritas sebagai ASN.
Di era kenormalan baru, ASN Kementerian Agama dituntut mengaktualisasikan nilai
integritas dengan mengembangkan tiga hal. Pertama, penguatan dan internalisasi
nilai Iman dan takwa. Nilai integritas merupakan nilai pertama dan menjadi
pondasi bagi nilai lainnya dari Nilai-Nilai Kementerian Agama. Dengan
memperkuat keimanan dan ketakwaan, seorang ASN akan selalu diingatan bahwa
bekerja adalah bagian dari ibadah. Setiap ibadah harus diniatkan dengan
ketulusan hati untuk mengabdi. Bukan hanya persoalan gaji atau reputasi. Telah
banyak penelitian yang membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual agama
memengaruhi gaya kepemimpinan, peningkatan motivasi berprestasi, turunnya
korupsi dan meningkatnya kinerja. Walaupun tidak dipungkiri, ada juga kasus
yang anomali ketika berbicara implementasi agama dan kehidupan sosial. Tapi,
sebagai warga negara yang memegang teguh Pancasila dan seorang yang beragama,
sudah seharusnya nilai-nilai agama yang mewujud dalam keimanan dan ketakwaan,
harus tetap hidup dan terjaga di setiap masa.
kedua, kapasitas dan kompetensi digital dalam penggunaan IT dengan nilai2-nilai
yang ada di dalamnya. Saat ini, orientasi nilai integritas akan lebih kuat jika
tiap ASN menggunakan teknologi dengan efektif, efisien, bijak dan produktif.
Tidak dipungkiri, godaan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang berbau
'having fun', hedonisme, atau ukuran prestise sangat kental terjadi.
Alih-alih
digunakan untuk mengerjakan tugas kantor, malah terlena waktu untuk hal-hal
yang tidak penting dan tidak perlu. Sebagai ASN Kementerian Agama, perlu
kiranya memperhatikan integritas diri dengan menjaga kapasitas dan kualitas
diri di era teknologi. Namun, teknologi hanya alat. Penentunya tetap manusia.
Akan dibawa kemana Teknologi itu dimanfaatkan dan digunakan, akan sangat
tergantung preferensi, nilai, dan orientasi manusia itu sendiri. sebagai
seorang ASN, teknologi harus bisa mendukung kinerja dan penuntasan beban kerja.
Sehingga kediriannya sebagai seorang ASN yang berintegritas tidak luntur, hanya
karena dampak teknologi yang kadang atau cenderung menggoda kita untuk tidak
sesuai dengan tujuan awalnya.
Ketiga, penguatan dan konsisten terhadap nilai dan budaya bangsa. Untuk bagian
ketiga ini, era kenormalan baru merupakan batu ujian yang harus dihadapi oleh
kita. Jangan sampai terjadi, integritas ASN Kementerian Agama dipertanyakan;
hanya karena memiliki sikap dan pandangan yang ambigu. ASN Kementerian Agama
seharusnya tetap fokus pada tugas dan fungsi kita sebagai ASN yang
berintegritas. Hindari sikap dan praktik kerja yang tidak sejalan dengan pemerintah
secara vertikal. Jaga dan rawat nilai dan budaya bangsa untuk menjadi nilai
seorang ASN yang moderat terhadap perubahan dan perkembangan zaman.
Di era new
normal ini, diperlukan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat secara kolektif
dalam mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker ketika keluar rumah,
menghindari kerumuman, jaga jarak aman (physical distancing), cuci tangan
menggunakan sabun dengan air yang mengalir atau hand sanitizer, dan mengonsumsi
vitamin dan makanan yang bergizi.
Adanya
kesadaran mematuhi berbagai ketentuan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah
dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum Mengikuti perkembangan
berita terkait dengan kasus pandemi Covid-19 yang mengenai jumlah korban yang
terpapar, sembuh dan meninggal pemberitaannya terus di-update oleh media TV dan
media cetak. Hal-hal tersebut adalah ilustrasi tentang aktualiasasi nilai
integritas di era New Normal dalam konteks nilai-nilai nasionalisme dan
patriotisme.
Menjadi ASN
di Kemenag haruslah disyukuri dengan penghayatan yang benar. Menjaga integritas
di kementerian ini tidak mudah. Saat ini, saudara-saudara kita ada yang harus
kerja keras bertahan hidup karena di PHK dari pekerjaannya. Di era new normal
ada saudara-saudara kita yang tidak normal kehidupannya.
Di saat
saudara kita banyak yang dirumahkan dari pekerjaannya karena Pandemic Covid-19,
kita masih bisa menikmati pekerjaan sebagai ASN dengan nyaman. Mungkin jika ada
pilihan, maka lebih baik kita lelah bekerja, daripada lelah mencari kerja. Dan,
jika masih ada yang mengeluh dengan status ASN ini, entah karena kecilnya gaji,
pangkat yang rendah, padatnya volume kerja, atau apapun itu, semoga bukan kita.
MSN
Minggu, 24 Mei 2020
Lebaran tahun ini memang beda
10 SDGs | Budaya Kerja Positif yang Dimulai dari Kepemimpinan Kuat
Oleh: Mulyawan Safwandy NugrahaK etua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi Direktur Research and Literacy Institute (RLI) Dosen UIN Sunan Gunung D...
-
We all share the same destination We all work together as one In this place there’s only one vision And that’s to be the NUMBER ONE We all h...
-
Identitas Pribadi N a m a : Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd. Tempat Tanggal Lahir : Sukabumi, ...
-
Dalam dunia perencanaan keuangan, nama Safir Senduk sangatlah dikenal. Barangkali, dialah orang pertama yang mempopulerkan istilah perencana...