Minggu, 13 Juli 2025

Seri 2. *Api yang Memimpin: Kepemimpinan Pendidikan Islam dalam Sorotan Cak Nur*



Oleh: *Mulyawan Safwandy Nugraha*

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, Pendidik, Peneliti dan Pengabdi yang saat ini menjadi Dosen UIN SGD Bandung, Institut KH Ahmad Sanusi Sukabumi, STAI Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi.


*Awwalan*
Kadang-kadang, kita lupa bahwa lembaga pendidikan Islam bukan hanya tempat menghafal ayat dan menanamkan kedisiplinan. Ia adalah ruang hidup tempat ide, semangat, dan nilai tumbuh atau layu. Dalam ruang itu, siapa yang memimpin—dan bagaimana cara ia memimpin—menentukan arah dan napas lembaga tersebut.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan satu pengakuan sederhana: saya merindukan pemimpin lembaga pendidikan yang tidak hanya bisa mengelola rapat dan absen guru, tapi yang punya api. Api berpikir, api batin, dan api keberanian untuk berjalan di jalan yang sulit, demi satu hal: memanusiakan manusia lewat pendidikan.

Dan ketika saya menyebut “api”, saya teringat kepada seorang tokoh yang dalam banyak hal jauh dari dunia teknis pendidikan, tapi justru mewariskan semangat yang relevan bagi kepemimpinan pendidikan Islam saat ini: Nurcholish Madjid, atau Cak Nur.

*Bukan Soal Gaya, Tapi Soal Pandangan Dunia*

Cak Nur tidak pernah menjadi kepala sekolah. Ia juga tidak pernah mengelola yayasan pendidikan. Ia Pernah menjadi Rektor di universitas Paramadina, sebuah kampus dengan ciri khas cakNur, excellent. Tapi pemikirannya tentang Islam yang membebaskan, mencerahkan, dan memanusiakan justru terasa sangat menyentuh jantung persoalan pendidikan Islam hari ini.

Ia pernah berkata: “Agama itu harus menjadi sumber pencerahan, bukan kegelapan; pembebas, bukan penindas.” Lalu, saya bertanya dalam hati: berapa banyak pemimpin lembaga pendidikan Islam yang sungguh-sungguh menjadikan diri mereka sebagai sumber cahaya? Berapa banyak yang tidak sekadar mengelola bangunan fisik dan agenda tahunan, tapi juga menjaga nyala batin lembaga yang ia pimpin?

Kepemimpinan dalam pendidikan Islam, dalam semangat Cak Nur, bukanlah soal karisma, sertifikat, atau jabatan. Ia adalah amanah. Dan amanah itu harus dijiwai oleh niat untuk melayani, bukan menguasai; membimbing, bukan menaklukkan.

*Kepemimpinan Adalah Ibadah*

Sayangnya, kita masih menjumpai pemimpin lembaga pendidikan Islam yang mendefinisikan kepemimpinan seperti manajer pabrik: mengatur, mengawasi, dan menekan target. Lembaga dijalankan seperti mesin. Guru dianggap operator. Murid adalah produk. Dan yang paling sering diabaikan: nilai.

Padahal dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah bentuk ibadah. Nabi Muhammad SAW sendiri menggambarkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab besar: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”

Ini bukan ungkapan untuk menakut-nakuti. Tapi pengingat bahwa memimpin sekolah berarti memimpin kehidupan banyak orang, dari guru, staf, hingga murid-murid yang mungkin di rumahnya tidak pernah punya ruang untuk tumbuh. Maka, jika seorang kepala sekolah tidak punya kesadaran spiritual, ia akan mudah tergelincir dalam formalitas dan kekuasaan yang hampa.

*Cak Nur dan Pemimpin yang Tidak Gagap Zaman*

Salah satu warisan besar dari Cak Nur adalah keberaniannya untuk tidak gagap zaman. Ia membaca dunia modern bukan dengan kecurigaan, tapi dengan keterbukaan. Ia tidak menolak Barat mentah-mentah, tapi memilah: mana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan mana yang tidak.

Ini penting dalam konteks pendidikan Islam hari ini. Pemimpin lembaga pendidikan Islam harus berhenti alergi pada perubahan. Mereka harus siap berdialog dengan teknologi, metode pembelajaran baru, dan tuntutan zaman. Tapi dengan satu syarat: tidak kehilangan akar.

Kepemimpinan yang baik bukanlah yang hanya bisa berkata “kita harus berubah”, tapi yang bisa menjelaskan mengapa harus berubah dan bagaimana tetap menjaga nilai-nilai Islam di tengah perubahan itu. Ini bukan perkara mudah, tapi sangat mungkin jika pemimpinnya punya “api berpikir” seperti yang Cak Nur wariskan.

*Memimpin Dengan Hati yang Tumbuh*

Barangkali, salah satu kutipan Cak Nur yang paling dalam maknanya bagi saya adalah ini: “Agama, bagi saya, adalah keikhlasan total.” Dan dari sana saya belajar bahwa memimpin lembaga pendidikan Islam dengan ikhlas berarti memimpin dengan hati yang terus tumbuh.

Bukan hati yang keras dan mudah menghakimi. Tapi hati yang peka, yang tahu kapan harus mendengar, kapan harus mengambil keputusan, dan kapan harus memaafkan.

Karena pada akhirnya, yang paling diingat dari seorang pemimpin bukan target tahunan, bukan akreditasi, bukan pembangunan aula. Tapi apakah ia pernah sungguh-sungguh menjadi teladan, memberi ruang tumbuh bagi bawahannya, dan membuat lembaganya menjadi tempat yang hidup.

*Akhir Kata*

Kita tidak kekurangan pemimpin formal di lembaga pendidikan Islam. Tapi kita sering kekurangan pemimpin yang berani membawa cahaya, bukan hanya menyalakan lampu.

Kepemimpinan bukan soal besar kecilnya lembaga, tapi soal besar kecilnya niat, gagasan, dan keberanian untuk menyalakan api. Dan dari Cak Nur, kita belajar: yang dibutuhkan umat ini bukan penghafal sejarah, tapi penyala masa depan.



Seri 1 *Mengenang Cak Nur: Membaca Kembali Api Intelektual untuk Pendidikan Islam Masa Kini*



*Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha*

Ada Ada satu nama yang seakan tak bisa dilewatkan ketika kita bicara tentang gerakan intelektual Islam Indonesia di abad ke-20: Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur. Ia bukan pendidik dalam pengertian teknis, bukan pula pengasuh pesantren yang setiap hari bergelut dengan kurikulum, kelas, dan raport. Tapi ia adalah guru bangsa—seseorang yang memantik api berpikir dalam gelapnya stagnasi keislaman dan keindonesiaan.

Namun, seiring berlalunya waktu, nama Cak Nur perlahan surut dari ingatan generasi baru. Bahkan di kalangan civitas akademika lembaga pendidikan Islam, pemikiran Cak Nur tidak selalu menjadi rujukan utama. Mungkin karena ia terlalu "berani", terlalu "liberal", atau karena tema-tema yang ia geluti dianggap bukan ranah pendidikan formal.

Padahal jika kita tengok lebih dalam, ide-ide Cak Nur adalah sumber daya intelektual yang kaya, yang bisa menjadi semangat dan arah bagi pembaruan pendidikan Islam di era ini.

*Cak Nur: Antara Tradisi dan Transformasi*

Cak Nur tumbuh dari rahim pesantren, lalu terbang ke langit akademik modern, dari Ciputat hingga ke Chicago. Ia menjembatani dua dunia yang seringkali dianggap bertentangan: keislaman tradisional dan pemikiran modern.

Salah satu gagasannya yang terkenal adalah ungkapan: "Islam, yes. Partai Islam, no." Sebuah pernyataan yang membuat gempar, tetapi justru membuka jalan panjang diskusi tentang hubungan Islam dan politik, Islam dan negara, bahkan Islam dan pendidikan.

Bagi Cak Nur, Islam adalah nilai spiritual dan etis yang harus menjadi ruh dalam setiap aspek kehidupan, bukan sekadar atribut formal yang dikemas dalam institusi politik atau birokrasi. Maka, kalau kita tilik lebih jauh, pendidikan Islam pun harus dimaknai sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar transmisi dogma.

Dalam kuliah-kuliahnya, Cak Nur sering mengutip Iqra' sebagai fondasi epistemik pendidikan Islam. Tapi ia tak berhenti pada pengertian harfiah “membaca”, melainkan membawanya kepada semangat pembebasan intelektual. Ia menyitir kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Ajari anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Sebuah pesan yang menjadi pondasi penting untuk reformasi pendidikan Islam hari ini.

*Pendidikan Islam: Antara Sakralisasi Masa Lalu dan Tantangan Masa Depan*

Salah satu kritik utama Cak Nur terhadap umat Islam adalah kecenderungan untuk mensakralkan masa lalu secara membabi buta. Ia menilai bahwa kebesaran sejarah Islam sering kali hanya menjadi mitos, bukan inspirasi untuk perubahan.

Begitu pula dalam pendidikan Islam. Banyak lembaga yang begitu menjaga bentuk formal, seragam syar’i, kurikulum yang penuh hafalan, dan narasi sejarah Islam yang selektif—tapi kehilangan daya hidup dalam membentuk pribadi yang berpikir kritis, terbuka, dan bertanggung jawab.

Cak Nur justru mendorong kita untuk belajar dari substansi Islam, bukan bentuknya. Ia kerap mengangkat istilah al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah (melestarikan nilai lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Inilah prinsip pendidikan Islam yang sejati menurutnya: dinamis, progresif, dan berpijak pada kemaslahatan.


*Spirit Cak Nur dalam Pendidikan Islam Kontemporer*

Jika kita ingin membangun lembaga pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman, semangat Cak Nur bisa menjadi jembatan ideologis dan praksis.

Pertama, menempatkan akal dan ilmu sebagai instrumen utama pengabdian kepada Tuhan. Cak Nur menolak dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Baginya, semua ilmu yang membawa manusia pada kebaikan dan kebijaksanaan adalah bagian dari perintah Tuhan.

Kedua, membangun tradisi dialogis dalam belajar. Cak Nur meneladani model pendidikan Nabi Muhammad yang tidak otoriter, melainkan partisipatif. Ia percaya bahwa pendidikan bukan penyeragaman, tapi pembebasan. Bukan dogma, tapi dialektika.

Ketiga, mengusung nilai inklusif dan keberagaman. Dalam pandangan Cak Nur, pendidikan Islam tidak boleh terjebak dalam eksklusivisme identitas. Ia harus menjadi wadah semua kalangan untuk tumbuh bersama dalam semangat tauhid yang memanusiakan.


*Mengenalkan Kembali: Bukan Mengkultuskan*

Tentu, tidak semua pemikiran Cak Nur bisa diterima tanpa kritik. Bahkan beberapa pemikir kontemporer menyebutnya terlalu dekat dengan sekularisme Barat atau menabrak pakem-pakem fiqh klasik. Namun, justru dalam ruang itulah pendidikan kita bisa belajar tentang pentingnya berani berpikir.

Generasi muda muslim hari ini lebih dekat dengan TikTok daripada tafsir, lebih kenal fashion daripada fiqh. Maka, mengenalkan kembali tokoh seperti Nurcholish Madjid bukan untuk mengkultuskan, tapi untuk menyambungkan benang sejarah intelektual yang kaya kepada mereka.

Kita butuh narasi besar. Bukan hanya tentang kejayaan Islam abad ke-7, tapi juga tentang gagasan-gagasan yang relevan dengan realitas hari ini. Dalam hal ini, Cak Nur adalah bagian penting dari narasi itu.


*Menutup Pintu Ketertinggalan, Membuka Jendela Harapan*

Pendidikan Islam di Indonesia menghadapi tantangan besar: disparitas mutu, kekeringan metodologi, hingga keterasingan dari dunia nyata. Tapi selama semangat para pemikir besar seperti Cak Nur masih dibaca dan direnungkan, selalu ada harapan.

Cak Nur pernah berkata, "Jangan warisi abu dari api, tapi warisilah apinya." Pesan ini sangat relevan untuk kita hari ini. Jangan sekadar mewarisi simbol-simbol kejayaan Islam, tapi warisilah semangat berpikir, keberanian bertanya, dan ketekunan mencari kebenaran.

Maka mari kita baca ulang karya-karya Cak Nur, bukan sebagai doktrin, tapi sebagai percikan api. Dari sana, mungkin akan tumbuh satu generasi baru, yang mencintai Islam dengan hati terbuka, yang berpikir kritis tanpa kehilangan adab, dan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan jihad intelektual.

*Penutup*

Memperkenalkan kembali Nurcholish Madjid kepada generasi kini bukan semata mengenang tokoh besar. Ini adalah ikhtiar untuk membangun kembali semangat pendidikan Islam yang hidup, terbuka, dan bergerak maju. Kita tidak perlu sepakat atas semua pikirannya, tapi kita tidak boleh melupakannya.

Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pemikirnya. Dan umat yang cerdas adalah umat yang terus menyalakan api berpikir, bukan mewarisi abunya.


--------------------------------------
*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan pengabdian sebagai: 
- Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
- Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
- Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
- Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
- Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
- Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
- Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

(2) Ketika Kharisma Menyembunyikan Bahaya: Mengungkap Sisi Gelap Kepemimpinan Narsistik


Oleh: 
*Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd*
Dosen Tetap pada Prodi S2 Manajemen Pendidikan Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

====================

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti rapat strategis di sebuah lembaga yang sedang bersiap menyambut pimpinan baru. Begitu orangnya masuk ruangan, atmosfer langsung berubah. Tegas, percaya diri, dan kharismatik. Ia tak butuh waktu lama untuk memukau semua yang hadir. Suaranya mantap, gesturnya presisi, dan visinya terdengar seperti angin segar bagi organisasi yang sudah lama stagnan. Saya sendiri sempat berpikir, akhirnya, seseorang yang tahu apa yang dia lakukan.

Namun, seperti banyak kisah yang terlalu sempurna di awal, ternyata pesona itu menyimpan sesuatu. Tiga bulan kemudian, suasana rapat mulai berubah. Pertanyaan-pertanyaan sederhana dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Kritik disambut dengan sinis, bahkan di beberapa kasus, mereka yang vokal mulai “diparkir” atau dikucilkan secara halus. Semuanya menjadi lebih kaku, lebih sunyi. Orang-orang mulai menjaga jarak. Dan pemimpin yang dulu dielu-elukan, kini mulai menciptakan suasana kerja yang penuh tekanan, bahkan rasa takut.

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam banyak organisasi, baik swasta maupun publik, pemimpin narsistik kerap tampil seperti penyelamat di awal kemunculannya. Mereka tahu betul bagaimana mencuri perhatian, memanipulasi persepsi, dan membentuk citra “pemimpin kuat” yang sangat menjual di zaman yang terobsesi dengan performa dan pencitraan. Dalam istilah psikologis, mereka menunjukkan gejala *Narcissistic Personality Disorder (NPD)* — gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa superioritas yang berlebihan, kebutuhan konstan akan pujian, serta kurangnya empati terhadap orang lain.

Masalahnya, dalam dunia yang makin cepat dan penuh tekanan, tipe pemimpin seperti ini justru sering naik daun. Mereka adalah _great presenters, bukan necessarily great leaders_. Mereka pintar membuat janji, menyusun narasi besar, bahkan mengatur suasana agar terlihat selalu dalam kendali. Namun di balik layar, mereka sulit menerima kritik, cenderung mengambil keputusan impulsif demi pencitraan, dan membentuk lingkungan kerja yang tidak sehat.

Saya teringat sebuah percakapan ringan dengan seorang rekan kerja. Ia berkata, “Bosku sekarang hebat sih… tapi capek banget kerja bareng dia.” Ketika saya tanya kenapa, ia menjelaskan bahwa setiap hari seperti berada di panggung. Semua harus tampak sempurna. Tak ada ruang untuk salah, apalagi diskusi terbuka. Segala keputusan mutlak dari atas. “Ini bukan kerja tim lagi, tapi drama tunggal,” katanya sambil tertawa getir.

Menurut Jean Twenge dan W. Keith Campbell (2009), budaya narsisme tumbuh subur di tengah masyarakat yang sangat mementingkan pencitraan dan validasi eksternal. Media sosial, budaya personal branding, bahkan sistem kerja yang terlalu fokus pada hasil jangka pendek, turut menyuburkan iklim ini. Dalam konteks kepemimpinan, ini jadi berbahaya. Karena bukan hanya pemimpin yang ‘bermasalah’ yang perlu dikritisi, tetapi juga sistem yang memberi ruang dan penghargaan pada gaya kepemimpinan toksik.

Tokoh kepemimpinan seperti Simon Sinek pernah berkata, “Pemimpin hebat tidak menciptakan pengikut, mereka membentuk pemimpin baru.” Ini adalah kutipan yang penting untuk diingat. Seorang pemimpin sejati akan fokus membangun tim, menciptakan ruang aman, dan memfasilitasi pertumbuhan orang lain—bukan sekadar memoles citra pribadinya. Kepemimpinan bukanlah soal menjadi pusat perhatian, tetapi tentang bagaimana membuat orang lain merasa mereka bagian penting dari perjalanan bersama. Untuk hal ini, saya sendiri punya pendapat: _Pemimpin yang tidak tergantikan adalah pemimpin yang bisa digantikan._

Saya pernah bekerja dalam dua lingkungan lembaga yang sangat kontras. Yang satu dipimpin oleh figur dominan dan narsistik; yang lainnya oleh pemimpin yang tenang, kolaboratif, dan empatik. Di tempat pertama, setiap minggu terasa seperti bertahan di tengah badai ego. Di tempat kedua, suasana lebih sederhana, lebih manusiawi. Tapi anehnya, hasil kerjanya jauh lebih produktif. Mengapa? Karena orang merasa aman untuk berpikir, mencoba, dan berbuat salah tanpa dihukum.

Kita sering terjebak dalam kesalahan menilai kepemimpinan dari tampilan luar. Padahal, sebagaimana dalam hubungan pribadi, yang paling penting bukanlah bagaimana seseorang terlihat di depan publik, tapi bagaimana mereka memperlakukan orang-orang terdekatnya—dalam hal ini, timnya sendiri. Karisma bisa memikat, tapi empati-lah yang menyatukan.

Ini bukan berarti semua pemimpin percaya diri adalah narsistik. Namun, penting bagi kita sebagai masyarakat, organisasi, bahkan sebagai individu yang suatu saat mungkin akan memimpin, untuk bertanya: Apakah saya (atau kita) terlalu mudah terpesona oleh penampilan luar? Apakah kita memberi ruang bagi mereka yang bijak, meski tidak flamboyan? Apakah kita ikut mendukung sistem yang menghargai hasil semata, tanpa peduli bagaimana cara mencapainya?

Perubahan dimulai dari kesadaran. Dari kemampuan untuk melihat lebih dalam, melewati lapisan pencitraan, dan menilai esensi kepemimpinan sejati: keberanian untuk jujur, kekuatan untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Karena dunia yang semakin kompleks seperti sekarang tidak membutuhkan lebih banyak pemimpin narsistik. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang bisa membimbing dengan hati, bukan memimpin dengan topeng yang penuh make-up. Jangan sampai terjadi: wajah putih karena rajin pakai skin care, tapi leher tetap saja coklat/sawo matang.

Hijrah: Ketika manusia berproses untuk lebih menjadi Manusia

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Setiap kali memasuki bulan Muharram, saya teringat satu pertanyaan lama yang entah siapa yang pertama kali lontarkan: kenapa kalender Islam dimulai dari hijrah, bukan dari kelahiran Nabi Muhammad, atau turunnya wahyu pertama? Orang-orang sering menjawab dengan bahasa yang sangat agamis—simbol perjuangan, awal peradaban, dan seterusnya. Tapi saya punya jawaban sederhana: karena orang Islam, dari dulu sampai sekarang, memang suka pindah-pindah. Cuma sayangnya, sering lupa tujuan.


Hijrah itu memang penting. Tapi jangan buru-buru membayangkan sesuatu yang berat dan dramatis. Kita ini kadang terlalu sibuk mengurusi hijrah orang lain: “Wah, dia udah hijrah tuh... pakai gamis... Pakai hijab....jenggotan... mantap!” Tapi lupa ngaca—sudah hijrah dari nyinyir ke berpikir belum? Sudah hijrah dari gampang tersinggung ke gampang tertawa belum?


Saya tidak sedang mengecilkan makna hijrah. Tapi justru ingin mengingatkan bahwa makna hijrah itu sangat luas, bahkan bisa sangat pribadi. Nabi Muhammad saja, waktu hijrah ke Madinah, tidak bawa bala tentara. Beliau hanya ditemani Abu Bakar. Itu pun sembunyi-sembunyi. Tidak ada status Instagram bertuliskan “Bismillah, hijrah.” Jadi, kalau ada orang berubah pelan-pelan, jangan buru-buru bilang belum hijrah. Bisa jadi dia justru sedang dalam proses paling dalam.


Orang suka lupa, bahwa hijrah juga bisa berarti: berhenti menyakiti orang lain. Berhenti merasa paling benar. Berhenti merasa surga itu milik kelompok sendiri. Itu juga hijrah, meskipun tidak kelihatan dari pakaian luar. Hijrah adalah berpindah dari sempit ke lapang, dari keras ke lembut, dari sok tahu ke tahu diri.


Saya pernah bilang dalam satu ceramah santai, yang kadang lebih banyak ketawanya daripada isinya“Agama itu untuk membebaskan manusia, bukan menakut-nakutinya.” Jadi kalau cara kita beragama justru bikin orang takut, cemas, dan merasa makin jauh dari Tuhan, ya kita perlu hijrah. Bukan dari agama, tapi dari cara memahaminya.


Di masa seperti sekarang, hijrah bukan cuma soal pribadi. Bangsa ini juga perlu hijrah. Dari kebisingan debat tak berujung menuju suasana saling mendengar. Dari saling curiga ke saling memahami. Dari kata-kata kasar di kolom komentar ke tindakan nyata di dunia nyata. Percuma status sosial media panjang-panjang kalau di warung masih enggan antri dan buang sampah sembarangan.


Kadang saya berpikir, kita ini terlalu serius dalam hal-hal yang tak penting, dan terlalu santai dalam hal-hal yang genting. Hijrah itu artinya tahu mana yang perlu ditertawakan, dan mana yang harus disikapi dengan hati-hati. Jangan semua masalah dianggap urusan iman, tapi juga jangan semua urusan iman dianggap bahan candaan.


Kalau kita mau jujur, hidup ini memang penuh perubahan. Bahkan tubuh kita pun berubah tanpa kita sadari. Maka pertanyaannya bukan “mau berubah atau tidak?”, tapi “mau berubah ke arah mana?” Orang bisa berubah jadi lebih keras, lebih kejam, lebih egois. Maka hijrah adalah upaya sadar untuk berubah menjadi lebih manusia—lebih pengertian, lebih lembut, lebih bisa tertawa.


Satu hal yang saya pelajari dari banyak orang bijak: orang yang makin dalam ilmunya, justru makin tenang. Tidak mudah marah, tidak mudah menghakimi. Maka saya kira, hijrah juga berarti berpindah dari dangkal ke dalam. Bukan cuma paham ayat, tapi paham makna. Bukan cuma fasih berdoa, tapi juga lembut hatinya.


Kalau mau jujur lagi, sebagian dari kita ini sudah terlalu lama hidup dalam rutinitas. Bangun, kerja, pulang, rebahan, scroll medsos, lalu tidur. Begitu terus. Kita perlu hijrah, bukan ke tempat lain, tapi ke versi diri kita yang lebih sadar. Sadar bahwa hidup ini singkat, dan terlalu berharga untuk diisi dengan marah-marah tiap hari.


Jadi ya sudah, tak usah muluk-muluk. Tahun baru hijriyah ini, mari kita hijrah pelan-pelan. Dari kebiasaan menunda ke disiplin. Dari mulut yang tajam ke hati yang hangat. Dari semangat membenci ke semangat memperbaiki. Kalau pun belum bisa semua, ya tidak apa-apa. Yang penting terus berjalan. Karena seperti kata Gus Dur: “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dan hijrah, pada akhirnya, adalah cara kita belajar menjadi manusia yang lebih baik.



---


Bio Penulis:

Mulyawan Safwandy Nugraha

Akademisi yang percaya bahwa humor, akal sehat, dan sedikit ngopi bisa membuat hidup lebih ringan. Fokus kajian pada manajemen, kepemimpinan, Pendidikan dan Pembelajaran. Menulis untuk menyampaikan yang berat dengan cara yang bersahabat. Sesekali menulis di antara tugas sebagai editor dan reviewer Jurnal utk mengoreksi artikel ilmiah serta sebagai ayah yang menemani anak-anaknya yang makin dewasa.

Minggu, 25 September 2022

Benar Ternyata, Menulis itu butuh Konsistensi

Bagi sebagian orang mungkin menulis bukan hal yang penting. Bahkan boleh jadi, bukan sesuatu yang harus jadi prioritas. Bagi Aku, menulis itu kehidupan. Menulis itu membangun peradaban. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menjadi bermanfaat sebalin melahirkan warisan yang everlasting

Saya kehilangan tahun 2021 untuk menulis di blog ini. Dan itu tercatat di blog ini. Duh...kemana aja selama ini ya.. Ternyata, untuk kasusku, alasannya hilang arah, tidak fokus, sibuk ngurusi yang boleh jadi ga penting.

Akhirnya, harus diakui. Memang Menulis itu butuk Konsistensi. Bukan hanya kata-kata penuh retorika tanpa karya nyata. Semoga, Aku bisa lanjutkan menulis ini jadi tradisi baik.

Aamiin    

Minggu, 06 Desember 2020

Menjaga integritas ASN Kementerian Agama di Era New Normal

Integritas adalah mantra utama bagi tiap ASN Kementerian Agama. Kata Integritas menjadi bagian penting untuk menunjukkan bagaimana ASN Kementerian Agama berproses menjalankan Tusi (Tugas dan Fungsi)-nya. Integritas pula yang dijadikan nilai dasar pertama dalam Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika setiap ASN Kementerian Agama harus benar-benar memperhatikan dan menginternalisasi nilai Integritas tersebut dalam berbagai suasana dan zaman, termasuk di Era New Normal.


Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan manusia dalam berbagai aspek nilai, peradaban dan budaya manusia. Ada yang bergeser dan secara massif mulai ada kebiasaan baru di sekitar kita. Penggunaan masker, jaga jarak, rajin mencuci tangan, menghindari kerumunan, dll adalah hal-hal baru yang seharusnya menjadi kebiasaan dan budaya baru. Dalam aktivitas belajar dan bekerja, penggunaan Zoom Cloud Meeting, Webex, Google Meet dll, telah menjadi media aplikasi yang biasa digunakan selama era pandemi Covid-19.


Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak Covid-19 ini. Termasuk di antaranya kebijakan Work From Office (WFO) dan Work From Home (WFH). Belum lagi dengan kebijakan Menteri Agama untuk tiap Eselon 1 dan II agar serapan anggaran yang teruang dalam DIPA bisa mencapai 75%. Hal ini tentu menuntut semua pihak di internal Kementerian Agama untuk betul-betul peduli dan sigap dengan tidak abai terhadap nilai-nilai integritas sebagai ASN.


Di era kenormalan baru, ASN Kementerian Agama dituntut mengaktualisasikan nilai integritas dengan mengembangkan tiga hal. Pertama, penguatan dan internalisasi nilai Iman dan takwa. Nilai integritas merupakan nilai pertama dan menjadi pondasi bagi nilai lainnya dari Nilai-Nilai Kementerian Agama. Dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan, seorang ASN akan selalu diingatan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Setiap ibadah harus diniatkan dengan ketulusan hati untuk mengabdi. Bukan hanya persoalan gaji atau reputasi. Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual agama memengaruhi gaya kepemimpinan, peningkatan motivasi berprestasi, turunnya korupsi dan meningkatnya kinerja. Walaupun tidak dipungkiri, ada juga kasus yang anomali ketika berbicara implementasi agama dan kehidupan sosial. Tapi, sebagai warga negara yang memegang teguh Pancasila dan seorang yang beragama, sudah seharusnya nilai-nilai agama yang mewujud dalam keimanan dan ketakwaan, harus tetap hidup dan terjaga di setiap masa.



kedua, kapasitas dan kompetensi digital dalam penggunaan IT dengan nilai2-nilai yang ada di dalamnya. Saat ini, orientasi nilai integritas akan lebih kuat jika tiap ASN menggunakan teknologi dengan efektif, efisien, bijak dan produktif. Tidak dipungkiri, godaan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang berbau 'having fun', hedonisme, atau ukuran prestise sangat kental terjadi.

 

Alih-alih digunakan untuk mengerjakan tugas kantor, malah terlena waktu untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak perlu. Sebagai ASN Kementerian Agama, perlu kiranya memperhatikan integritas diri dengan menjaga kapasitas dan kualitas diri di era teknologi. Namun, teknologi hanya alat. Penentunya tetap manusia. Akan dibawa kemana Teknologi itu dimanfaatkan dan digunakan, akan sangat tergantung preferensi, nilai, dan orientasi manusia itu sendiri. sebagai seorang ASN, teknologi harus bisa mendukung kinerja dan penuntasan beban kerja. Sehingga kediriannya sebagai seorang ASN yang berintegritas tidak luntur, hanya karena dampak teknologi yang kadang atau cenderung menggoda kita untuk tidak sesuai dengan tujuan awalnya.


Ketiga, penguatan dan konsisten terhadap nilai dan budaya bangsa. Untuk bagian ketiga ini, era kenormalan baru merupakan batu ujian yang harus dihadapi oleh kita. Jangan sampai terjadi, integritas ASN Kementerian Agama dipertanyakan; hanya karena memiliki sikap dan pandangan yang ambigu. ASN Kementerian Agama seharusnya tetap fokus pada tugas dan fungsi kita sebagai ASN yang berintegritas. Hindari sikap dan praktik kerja yang tidak sejalan dengan pemerintah secara vertikal. Jaga dan rawat nilai dan budaya bangsa untuk menjadi nilai seorang ASN yang moderat terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

 

Di era new normal ini, diperlukan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat secara kolektif dalam mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker ketika keluar rumah, menghindari kerumuman, jaga jarak aman (physical distancing), cuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir atau hand sanitizer, dan mengonsumsi vitamin dan makanan yang bergizi. 

 

Adanya kesadaran mematuhi berbagai ketentuan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum Mengikuti perkembangan berita terkait dengan kasus pandemi Covid-19 yang mengenai jumlah korban yang terpapar, sembuh dan meninggal pemberitaannya terus di-update oleh media TV dan media cetak. Hal-hal tersebut adalah ilustrasi tentang aktualiasasi nilai integritas di era New Normal dalam konteks nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme. 

 

Menjadi ASN di Kemenag haruslah disyukuri dengan penghayatan yang benar. Menjaga integritas di kementerian ini tidak mudah. Saat ini, saudara-saudara kita ada yang harus kerja keras bertahan hidup karena di PHK dari pekerjaannya. Di era new normal ada saudara-saudara kita yang tidak normal kehidupannya. 

 

Di saat saudara kita banyak yang dirumahkan dari pekerjaannya karena Pandemic Covid-19, kita masih bisa menikmati pekerjaan sebagai ASN dengan nyaman. Mungkin jika ada pilihan, maka lebih baik kita lelah bekerja, daripada lelah mencari kerja. Dan, jika masih ada yang mengeluh dengan status ASN ini, entah karena kecilnya gaji, pangkat yang rendah, padatnya volume kerja, atau apapun itu, semoga bukan kita.

 

MSN


Minggu, 24 Mei 2020

Lebaran tahun ini memang beda

Kita semua sedang mengalami kegembiraan dalam menjalani lebaran. Biasanya begitu. Tapi tidak tahun ini. Ya..tahun 2020 justru membuat kita menjadi beda. Ada Covid-19 di sekitar kita.

Virus Corona telah menjadikan kita belajar. Bahwa makhluk hidup yang sangat kecil ini telah mengubah wajah dan prilaku warga dunia. Termasuk saat menghadapi lebaran.

10 SDGs | Budaya Kerja Positif yang Dimulai dari Kepemimpinan Kuat

Oleh: Mulyawan Safwandy NugrahaK etua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi Direktur Research and Literacy Institute (RLI) Dosen UIN Sunan Gunung D...