Kamis, 20 Maret 2014

Untuk Kepala MA: Form Supervisi Kepala

Assalamualaikum Wr. Wb.

Berikut saya kirimkan Instrumen Supervisi Kepala terhadap Aktivitas Mengajar Guru (Download Di Sini)

Jadwal Supervisi Kepala adalah 19 s.d 29 Maret 2014.

File ini terdiri dari 5 worksheet, yaitu: Akademik, Interview, Rencana Pembelajaran (RP), KBM dan Evaluasi.

Semua File ini diprint-out dan dperbanyak sesuai kebutuhan jumlah Guru.

Bulan April 2014, Saya akan melakukan evaluasi terhadap hasil supervisi Kepala terhadap guru tersebut.

Mohon dipersiapkan Jadwal Supervisi, form penilaian supervisinya dan bukti fisik yang mendukung.

Jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan, harap menghubungi saya: mulyawan77@gmail.com.

Terima Kasih.

Sabtu, 08 Maret 2014

SEKOLAH UNTUK APA?

Rhenald Kasali: tentang sekolah: Sindo 7 Juli 2011

Aku TIDAK anti sekolah; apa lagi kalau yang dimaksud sekolah adalah belajar. Belajar itu WAJIB dalam agama yang kuanut untuk itu setiap individu; berkaki dua, empat, merangkak, terbang, merayap, berjalan itu WAJIB belajar! Tapi dengan makin mengkapitalisasinya institusi pendidikan sekarang-sekarang ini; sekolah itu pilihan; tapi belajar TETAP wajib! Walaupun belajar itu kewajiban setiap mahluk; gerakan wajib belajar 9 tahun buat aku konteksnya harus dibaca bahwa setiap anak BERHAK mendapatkan pendidikan; jadi pemerintah wajib MENYEDIAKAN sarana yang baik.

Tulisan profesor Rhenald Kasali yang membandingkan pendidikan kita dengan Selandia Baru, Malaysia, Belanda sungguh menarik dan seperti biasa mencerahkan. Alhamdulillah.

Sindo 7 Juli 2011 - SEKOLAH UNTUK APA?

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.

Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.

Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.

Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.

Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.

Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.

Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.

Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.

Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.

Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.

Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan,stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.

Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.

Rhenald Kasali

Ketua Program MMUI

Jumat, 07 Maret 2014

Untuk Kepala MA: Instrumen Monitoring UAM-BN 2013/2014

Untuk memudahkan Madrasah dalam menentukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelasanaan UAM-BN 2013/2014, Mohon untuk mendownload instrumen Monitoring UAM-BN 2013/2014 (Klik di sini).

Mohon kerjasamanya agar pelaksanaan UAM-BN 2013/2014 terlaksana dengan baik, lancar dan tertib, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.

Terima Kasih

Kamis, 06 Maret 2014

Untuk Kepala MA: Permohonan Rekap Data Guru MA Sertifikasi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dalam rangka implementasi dan tindak lanjut dari Permendikbud Nomor 62 Tahun 2013 tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan dan Pemerataan Guru (klik di sini), maka dimohon kepada Bapak/Ibu kepala MA untuk mengisi Rekap Data Guru (sebagaimana Terlampir, download di sini), kemudian setelah lengkap, softcopynya diemailkan ke: mulyawan77@gmail.com dan diprint out, ditandatangan kepala MA dan distempel Madrasah yang bersangkutan.

Jika telah selesai diisi dengan benar, harap menghubungi via SMS ke nomor 0856.5911.7577 untuk konfirmasi Penyerahan hardcopy, paling lambat Sabtu, 15 Maret 2014.

Data guru yang diisi adalah data guru yang disertfikasi di MA yang menjadi satminkal guru tersebut.

Data ini diharapkan dapat menjadi data otentik yang bertujuan dapat diketahui jumlah yang benar berapa guru yang disertifikasi, linier atau tidak dengan ijazah yang dimiliki, termasuk linier tidaknya mata pelajaran yang disertifikasi dengan ijazah yang dimiliki.

Terima Kasih atas perhatian dan kerja sama yang baik.

Ayo... ke Madrasah, Insya Allah lebih Baik.

Wassalamu'alaikum Wr., Wb.

Pengawas MA,

Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd

NIP. 19770507 200003 1 001

Selasa, 01 Oktober 2013

Menjadi Pemimpin yang Bertanggung Jawab

Dalam teori manapun, baik Islam atau pun Barat, konsep kepemimpinan dan pemimpin selalu diawali dari pembicaraan mengenai individu manusia. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan sangat bergantung pada indvidu manusia itu sendiri. Mengapa hal tentang pemimpin dan kepemimpinan tidak pernah surut dari pembahasan? jawabannya mudah. karena tidak ada satupun dalam kehidupan manusia yang bisa dilepaskan dari persoalan pemimpin dan kepemimpinan. Islam mengenal istilah jamaah. kebersamaan dalam jamaah sangat dianjurkan bahkan terkesan wajib, demi tercapainya tujuan yang lebih luas dan lebih besar. Namun yang banyak dilupakan orang adalah bahwa bertanggungjawab adalah hakikat dari seorang pemimpin. Bertanggung jawab merupakan unsur terpenting dalam aspek pemimpin dan kepemimpinan. Bertantanggung jawab terhadap amanah adalah beban pertama yang seharusnya dijalani oleh manusia sebagai pemimpin bagi dirinya sendirinya. Itulah sebabnya, ketika hasrat menjadi pemimpin (formal) begitu menggebu-gebu dimiliki manusia hanya dengan niatan ingin berkuasa, ingin terkenal, ingin mendapatkan jabatan dan kedudukan, bukan bekerja dan melayani yang dipimpinnya, bukannya mengabdi dan menjadi hamba bagi yang dipimpinnya, maka pasti akan melahirkan pemimpin yang tidak bertanggung jawab. mengambil tanggung jawab untuk menjadi pemimpin berarti bersedia untuk mengorbankan waktunya untuk yang dipimpinnya, mengorbankan hartanya untuk yang dipimpinnya, mengorbankan tenaganya untuk yang dipimpinnya dan mengorbankan dirinya untuk yang dipimpinnya. seharusnya tidak mudah menjadi pemimpin. begitupun tidak akan ada orang yang mau jadi pemimpin jika ia tahu bahwa tanggung jawabnya itu sangat besar. namun bukan berarti ketika beratnya itu tidak memiliki dampak. kebaikan dan reward yang diberikan pada pemimpin yang bertanggung jawab sangat besar. penghargaan yang diberikan manusia pun juga akan sangat besar. apalagi reward yang akan diberikan tuhan. jika begitu semua yang mau menjadi pemimpin seharusnya meniatkan untuk menjaga amanah secara bertanggung jawab. tanggung jawab melahirkan hak dan kewajiban. jadilah pemimpin yang siap mempertanggungjawabkan apa yang menjadi kepemimpinannya.

Sabtu, 21 September 2013

RADAR SUKABUMI DAN MADRASAH: PENCITRAAN POSITIF BAGI PENDIDIKAN ISLAM

Oleh:

Dr. Mulyawan SN, M.Ag., M.Pd

Ketua I PGM Kab. Sukabumi

Sudah menjadi pengetahuan umum, jika pers memiliki peranan signifikan terhadap perkembangan dan pertumbuhan bangsa. Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), pada tahun 1802 menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers Amerika Serikat.

Media pers (cetak, radio, televisi, online – selanjutnya disebut media atau pers) sesungguhnya merupakan kepanjangan tangan dari hak-hak sipil publik atau hak rakyat. Di negara yang menganut demokrasi, di mana kekuasaan di tangan rakyat, publik punya hak kontrol terhadap kekuasaan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Hal itu sebagaimana adagium dalam dunia politik yang sangat terkenal, yang diangkat dari kata-kata Lord Acton, sejarawan Inggris (1834 – 1902), “The power tends to corrupt, the absolute power tends to absolute corrupt” (Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak).

Sebagai konsekwensi dari hak kontrol tersebut, segala hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak (publik, rakyat) harus dapat diakses (diinformasikan, diketahui) secara terbuka dan bebas oleh publik, dalam hal ini pers.

Ada Apa dengan Radar Sukabumi dan Madrasah?

Yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bukan tentang peran pers, kekuasaan dan lain sebagainya. Tapi tentang pers yang bernama Radar Sukabumi, Koran harian yang sedang anda baca ini, dengan Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam. Apa hubungan Radar Sukabumi dan Madrasah, khususnya dalam konteks Sukabumi, baik di kota ataupun Kabupaten? Hubungannya, tentu baik-baik saja!

Sebagai media cetak harian (juga online), Radar Sukabumi menjadi bacaan rutin dan diperlukan oleh masyarakat Sukabumi. Tegline Radar Sukabumi: Kuat Karena Mengakar (di media cetak), dan Media Lokal Terpercaya (versi online), seakan ingin mengukuhkan keberadaan Radar Sukabumi di kalangan masyarakat sebagai satu-satunya media yang mampu menjadi penyampai informasi terpercaya ke semua kalangan di Sukabumi hingga ke pelosok daerah.

Secara pribadi saya pembaca setia Radar Sukabumi. Bagi saya yang sehari-hari bergelut di dunia Madrasah (karir sebagai guru dan Pengawas Madrasah, aktivis organisasi Profesi “Persatuan Guru Madrasah” di Kabupaten Sukabumi, dan dosen di perguruan tinggi agama Islam), tampilnya Radar Sukabumi di tengah-tengah masyarakat Sukabumi, sudah pasti memberikan nuansa lain terhadap pendidikan Islam, khususnya madrasah.

Alasan

Mengapa itu bisa terjadi? Ahmad Tafsir, Guru Besar UIN SGD Bandung dan sekaligus guru penulis, pada awal tahun 1990-an pernah menyatakan: mencari sekolah Islam (Madrasah) yang baik, sama sulitnya dengan mencari sekolah non muslim yang buruk !! Walaupun Beliau sendiri meralat pernyataannya itu di awal tahun 2000-an.

Dalam salah satu kuliahnya, waktu penulis mengikuti program magister, beliau menyatakan bahwa perkembangan Madrasah ke depan di era global, akan menjadi pilihan utama dan bukan lagi alternatif bagi ummat Islam. Kenapa? Karena banyak madrasah yang sudah bagus. Baik dari sisi kualitas pembelajaran, guru, fasilitas, bahkan prestasi akademik baik siswa atau pun gurunya. Kelebihan madrasah adalah adanya nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam berbagai aspek. Munculnya Madrasah Terpadu, Sekolah Islam terpadu, lulusan madrasah diterima di perguruan tinggi favorit, menjadi bukti madrasah bisa berprestasi. Bahkan nilai ujian nasional pun, madrasah bisa berbangga diri jika disejajarkan dengan sekolah.

Namun sayang, informasi tentang bagusnya madrasah kurang maksimal terekspos. Madrasah yang bagus itu (baik tingkat Raudlatul Athfal/RA, Madrasah Diniyyah (MD), Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madarasah Tsanawiyyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) ada di sekitar kita. Di kota dan Kabupaten Sukabumi, sudah banyak madrasah yang berprestasi baik tingkat lokal, regional dan juga nasional. Sementara masyarakat dan pemerintah harus tahu hal tersebut.

Peran Strategis Radar Sukabumi

Di mana peran stategis Radar Sukabumi? Dalam hal ini pasti sudah bisa ditebak. Radar Sukabumi menjadi media antara lembaga madrasah, masyarakat dan pemerintah. Madrasah harus dan akan senantiasa meningkatkan kualitas dirinya. Masyarakat sebagai sumber input, akan secara bangga memasukkan anak-anaknya ke madrasah. Mengapa pemerintah dilibatkan? Karena Pemerintah (baik pusat ataupun pemerintah daerah) sebagai user dan penentu kebijakan dan anggaran harus mengetahui peran madrasah bagi bangsa ini.

Peran yang dimainkan Radar Sukabumi ini tentu harus direspon positif oleh pihak madrasah untuk lebih berbenah diri memperbaiki kualitasnya. Sebagai bagian dari anak bangsa, komunitas madrasah pun memiliki kontribusi yang positif terhadap bangsa dan Negara dalam menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki akhlak mulia, memiliki kemampuan/kompeten, jiwa nasionalisme dan memiliki kemampuan hidup di masyarakat. Orientasi madrasah yang tidak hanya bersifat duniawi tetapi juga ukhrowi, menjadi alasan mengapa madrasah menjadi penting untuk dipilih sebagai lembaga pendidikan anak bangsa menuju cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Sepengetahuan penulis, rata-rata instansi pemerintah, lembaga-lembaga formal, organisasi masyarakat, partai politik, lembaga pendidikan termasuk madrasah, menjadi pelanggan setia Koran Radar Sukabumi. Segmen pembaca dan pelanggan Koran Radar Sukabumi yang luas dan banyak, menjadi magnet sekaligus peluang untuk madrasah agar bisa memposisikan dan menginformasikan prestasi dan aktivitas di madrasahnya melalui Koran radar Sukabumi.

Penutup

Dalam minggu kedua bulan September 2013 ini, penulis merasa bangga, banyak madrasah yang diekspos secara positif dengan berbagai keunggulannya di Koran Radar Sukabumi. Hal ini tentu pertanda baik bagi pencitraan madrasah kepada masyarakat Sukabumi dan pemerintah kota dan kabupaten Sukabumi. Tentu ini hanya akan terjadi bila para pengelola madrasah memiliki keinginan untuk berfikir dan bersikap positif terhadap keberadaan Koran Radar Sukabumi sebagai media penyampai informasi yang aktual di Sukabumi.

Dengan semangat reformasi, keberadaan Radar Sukabumi menjadi signifikan untuk terjadinya proses pencitraan positif bagi kebaikan keberadaan madrasah sebagai bentuk akutabilitas publik. Koran Radar Sukabumi yang bersifat lokal tetapi memiliki akses yang global, menjadi pemikat masyarakat untuk membacanya. Semoga Radar Sukabumi tetap eksis dan menjadi pilihan utama bagi pembaca masyarakat Sukabumi sehingga berdampak positif bagi pencitraan madrasah.

Ayo ke Madrasah, Insya Allah lebih baik !

Kamis, 12 September 2013

the second internstional symposium on madrasah in global context

Pada hari selasa,3 s.d 5 September 2013 balai penelitian dan pengembangan kementerian Agama RI menggelar The Second International Symphosium on Madrasah in Global Context. Acara pembukaan dilaksanakan di Aula utama Kementerian Agama oleh Wapres Boediono.

10 SDGs | Budaya Kerja Positif yang Dimulai dari Kepemimpinan Kuat

Oleh: Mulyawan Safwandy NugrahaK etua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi Direktur Research and Literacy Institute (RLI) Dosen UIN Sunan Gunung D...