Senin, 14 September 2026

Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibuk menghitung dosa orang lain. Shalatnya bagaimana? Jamaahnya bagaimana? Bajunya bagaimana? Masjidnya di mana?

Saya sendiri kadang berpikir, kalau urusan agama hanya dipakai untuk memeriksa orang lain, jangan-jangan kita lupa bahwa yang paling dekat untuk diperiksa sebenarnya adalah diri sendiri.

Sebab Rasulullah saw. pernah menyampaikan sebuah hadis yang membuat saya cukup lama merenung:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Perhatikan kalimatnya. Rasulullah tidak mengatakan tali Islam akan putus sekaligus. Satu demi satu. Perlahan-lahan. Seperti orang yang menarik benang dari kain. Mula-mula kita tidak terlalu memperhatikan. Lama-lama kainnya berubah bentuk.

Begitu pula kehidupan beragama.

Ada nilai yang mulai kita tinggalkan. Amanah tidak lagi dianggap penting. Kejujuran bisa dinegosiasikan. Keadilan tergantung siapa yang berperkara. Ilmu agama dipelajari untuk mendapatkan gelar, bukan untuk mendapatkan kebijaksanaan. Kekuasaan dicari dengan segala cara, lalu setelah mendapatkannya kita sibuk mencari pembenaran.

Yang menarik, manusia biasanya tidak merasa dirinya sedang kehilangan agama.

Ia masih memakai identitas agama.

Masih mengucapkan salam.

Masih datang ke pengajian.

Masih memasang ayat di dinding.

Masih marah kalau agamanya dikritik.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari kehidupannya.

Di sinilah hadis tadi terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.

Tali pertama bisa terlepas, lalu tali kedua. Kemudian tali ketiga. Namun manusia masih merasa aman karena masih memegang tali yang lain.

Sampai akhirnya tinggal shalat.

Rasulullah saw. juga bersabda:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلَاةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Kalau begitu, shalat sebenarnya adalah persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam.

Shalat adalah hubungan.

Hubungan manusia dengan Allah.

Dan dari hubungan itu seharusnya lahir hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia.

Saya sering merasa ada sesuatu yang lucu dalam kehidupan kita. Kita bisa berdebat berjam-jam mengenai hukum sesuatu, tetapi lima menit sebelum azan selesai kita masih sibuk mencari sandal.

Kita bisa sangat marah ketika orang lain dianggap merendahkan agama, tetapi kita sendiri kadang dengan ringan merendahkan manusia.

Kita rajin berbicara tentang masyarakat Islam yang ideal, tetapi tetangga sebelah rumah mungkin tidak pernah merasakan kebaikan kita.

Di sinilah agama menjadi menarik sekaligus menantang. Agama bukan hanya soal bagaimana kita berdiri di hadapan Allah. Agama juga menguji bagaimana kita berdiri di hadapan manusia.

Al-Qur’an menggambarkan pandangan orang yang menganggap hidup hanya berhenti di dunia:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Ayat ini membuat saya berpikir tentang zaman kita. Dunia modern memberi kita banyak hal. Teknologi berkembang. Informasi bergerak sangat cepat. Manusia bisa berbicara dengan orang di benua lain hanya dalam hitungan detik.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab oleh teknologi: untuk apa manusia hidup?

Telepon pintar semakin pintar. Manusia belum tentu.

Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.

Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia, tetapi kadang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati sendiri.

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik membayangkan agama hanya dalam bentuk slogan besar tentang hukum, politik, ekonomi, atau kekuasaan. Semua itu penting. Tetapi agama juga harus hadir dalam perkara yang lebih sederhana: apakah kita amanah, apakah kita adil, apakah kita jujur, apakah kita mampu menahan diri, dan apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh kehilangan rujukan moral. Kekuasaan membutuhkan amanah. Perbedaan membutuhkan kebijaksanaan. Perselisihan membutuhkan rujukan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi.

Tetapi saya kira ada satu hal yang perlu kita ingat. Jangan menjadikan pembicaraan tentang hukum Allah sebagai alasan untuk merasa diri paling suci. Kita boleh memperjuangkan nilai Islam. Kita boleh menginginkan masyarakat yang lebih religius. Tetapi cara memperjuangkannya tetap harus menunjukkan akhlak Islam.

Kalau kita berbicara tentang keadilan sambil berlaku tidak adil, orang akan bingung.

Kalau kita berbicara tentang kasih sayang sambil gemar mencaci, orang akan bertanya.

Kalau kita berbicara tentang Islam tetapi kehadiran kita membuat orang lain takut, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.

Agama seharusnya membuat manusia lebih manusiawi.

Mungkin itu pula sebabnya saya lebih suka memulai pembicaraan tentang shalat dari diri sendiri.

Bukan bertanya, “Mengapa mereka tidak shalat?”

Tetapi, “Mengapa saya masih sering menunda shalat?”

Bukan, “Mengapa mereka tidak berjamaah?”

Tetapi, “Apakah saya sudah merasakan kebutuhan untuk bertemu Allah?”

Bukan, “Mengapa masyarakat semakin jauh dari agama?”

Tetapi, “Apakah perilaku saya membuat agama terasa dekat bagi orang lain?”

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam.

Imam Ahmad juga memberikan peringatan yang senada. Orang yang meremehkan shalat berarti meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan shalat orang lain. Saya juga tidak ingin terlalu sibuk mengukurnya.

Yang saya tahu, saya sendiri masih harus banyak belajar.

Belajar agar shalat tidak hanya selesai dalam lima waktu, tetapi juga meninggalkan bekas dalam perilaku.

Belajar agar setelah mengucapkan salam, kita tidak kembali menjadi manusia yang suka menyakiti.

Belajar agar sujud tidak hanya membuat dahi menyentuh sajadah, tetapi juga membuat kesombongan sedikit turun.

Sebab mungkin yang paling mengkhawatirkan bukan ketika kita kehilangan banyak hal sekaligus.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika kita kehilangan agama sedikit demi sedikit, sementara kita merasa semuanya masih baik-baik saja.

Sampai akhirnya tinggal satu tali.

Tali terakhir.

Namanya shalat.

Semoga tali itu tetap kita pegang.

Sebab kalau tali terakhir itu pun terlepas, kepada siapa lagi kita akan kembali?

Ketika Dua Dirham Menjadi Soal Besar: Pelajaran Rasulullah tentang Korupsi dan Amanah


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada kisah yang selalu membuat saya berhenti sejenak ketika membaca hadis tentang ghulul. Nilainya hanya dua dirham. Bukan harta dalam jumlah besar. Bukan pula kekayaan yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Hanya beberapa manik-manik yang nilainya sangat kecil. Tetapi Rasulullah ﷺ memandang persoalan itu dengan keseriusan yang luar biasa.

عن زيد لن خالد الوجهات رضي الله عنه قال،
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَٰلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيْهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ، مَا يَسْوِي دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

"Seorang sahabat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam wafat pada hari (perang) Khaibar, lalu hal itu diberitahukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Maka beliau bersabda:

'Shalatkanlah jenazah teman kalian!'

Wajah para sahabat pun berubah (keheranan/kecewa karena biasanya Rasulullah yang memimpin shalat jenazah).

Lalu beliau bersabda:

'Sesungguhnya teman kalian telah berkhianat di jalan Allah (ghulul).'

Kami pun memeriksa barang-barangnya, dan ternyata kami menemukan manik-manik milik Yahudi, yang nilainya tidak lebih dari dua dirham."

(HR. Abu Dawud, no. 2713; Ahmad, no. 16316)

Saya membaca hadis ini bukan sekadar sebagai cerita tentang seorang sahabat pada masa perang. Saya justru merasa hadis ini seperti cermin yang diarahkan kepada kehidupan kita hari ini. Sebab persoalan utama dalam hadis ini bukan manik-manik. Persoalannya adalah amanah.

Rasulullah ﷺ tidak sedang mengatakan bahwa benda seharga dua dirham itu dapat dibandingkan dengan korupsi bernilai miliaran rupiah. Yang hendak ditegaskan adalah sesuatu yang lebih mendasar. Harta yang bukan hak kita tetap bukan hak kita, berapa pun nilainya.

Di sinilah kadang-kadang kita mengalami persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan uang. Kita sering memiliki kemampuan untuk membenarkan kesalahan karena nilainya kecil. "Ah, cuma sedikit." "Tidak akan terasa." "Semua orang juga melakukan." Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sanalah kebiasaan buruk dapat memperoleh tempat.

Saya membayangkan betapa kerasnya pendidikan moral yang diberikan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak melarang para sahabat menyalatkan jenazah tersebut. Beliau hanya tidak ikut menjadi imam. Seolah-olah ada pesan yang sangat dalam: masyarakat tetap harus mengurus jenazah seorang Muslim, tetapi umat perlu mengetahui bahwa pengkhianatan terhadap amanah bukan perkara ringan.

Bagi saya, tindakan Rasulullah ﷺ itu memperlihatkan cara pendidikan yang sangat manusiawi. Beliau tidak sedang mempermalukan seseorang untuk memuaskan kemarahan. Beliau sedang mendidik masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan moral.

Kalau hari ini kita berbicara tentang korupsi, barangkali kita terlalu sering membayangkan angka-angka besar. Miliaran. Triliunan. Proyek besar. Anggaran negara. Jabatan tinggi. Padahal penyakitnya bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Mengambil uang kas sedikit demi sedikit. Memanfaatkan kendaraan lembaga untuk urusan keluarga tanpa izin. Mengubah angka laporan agar terlihat bagus. Memotong dana kegiatan dengan alasan "sekadar uang lelah". Semua mungkin terlihat kecil ketika berdiri sendiri.

Tetapi amanah memang tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal.

Al-Qur'an mengingatkan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Ada satu kata yang menurut saya penting dalam ayat tersebut: "أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ", sedang kamu mengetahui.

Artinya, persoalan pengkhianatan amanah sering kali bukan karena kita tidak tahu. Kita tahu bahwa itu salah. Kita tahu uang itu bukan milik kita. Kita tahu fasilitas itu diberikan untuk kepentingan lembaga. Kita tahu laporan itu seharusnya jujur. Tetapi pengetahuan tersebut kadang kalah oleh kesempatan dan kepentingan pribadi.

Di situlah hati manusia diuji.

Saya pernah melihat bahwa dalam kehidupan organisasi, persoalan yang paling sulit bukan selalu soal kemampuan seseorang. Kadang justru soal bagaimana seseorang bersikap ketika tidak ada yang melihat. Ketika memegang uang yang bukan miliknya. Ketika memiliki kewenangan yang tidak diawasi. Ketika mempunyai kesempatan mengambil sesuatu tanpa diketahui orang lain.

Karakter seseorang sering terlihat bukan ketika dia sedang diawasi, melainkan ketika dia merasa aman untuk berbuat apa saja.

Hadis tentang dua dirham ini membuat saya berpikir bahwa membangun budaya antikorupsi seharusnya dimulai dari pendidikan tentang amanah. Anak-anak perlu belajar bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya tetap salah meskipun kecil. Mahasiswa perlu memahami bahwa plagiarisme kecil tetap merupakan ketidakjujuran akademik. Pegawai perlu memahami bahwa manipulasi kecil dalam laporan tetap merupakan pengkhianatan. Pemimpin perlu menyadari bahwa menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi juga merupakan bentuk penyimpangan amanah.

Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat tinggi untuk belajar tentang integritas.

Mungkin justru di ruang-ruang kecil kehidupan kita, latihan itu dimulai. Mengembalikan uang kembalian yang berlebih. Tidak mengklaim pekerjaan orang lain. Tidak memalsukan kehadiran. Tidak menggunakan uang lembaga untuk kepentingan pribadi. Tidak mengambil hak orang lain hanya karena tidak ada yang mengetahui.

Perkara-perkara kecil itulah yang membentuk kebiasaan.

Saya juga belajar dari hadis ini bahwa ukuran dosa tidak selalu dapat dibaca dari harga barang. Dua dirham mungkin kecil secara ekonomi. Tetapi pengkhianatan yang menyertainya memiliki dimensi moral yang jauh lebih besar.

Karena yang rusak bukan hanya nilai barang. Yang rusak adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan rusak, sebuah organisasi dapat kehilangan fondasi. Sekolah kehilangan kepercayaan. Kampus kehilangan marwah. Lembaga sosial kehilangan simpati. Pemerintahan kehilangan legitimasi. Bahkan keluarga dapat retak ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi dapat saling percaya.

Barangkali karena itu Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran yang begitu tegas. Jangan meremehkan sesuatu hanya karena nilainya kecil. Jangan menganggap pelanggaran amanah sebagai perkara sepele hanya karena jumlahnya sedikit.

Saya tidak sedang menunjuk siapa-siapa ketika menulis ini. Justru hadis ini pertama-tama saya rasakan sebagai teguran kepada diri sendiri. Sebab amanah tidak hanya berada di tangan pejabat, bendahara, pemimpin, atau pengelola anggaran. Setiap orang memiliki amanahnya sendiri.

Guru memiliki amanah. Dosen memiliki amanah. Orang tua memiliki amanah. Pemimpin memiliki amanah. Pengurus organisasi memiliki amanah. Bahkan seseorang terhadap waktu, ilmu, jabatan, dan kepercayaan orang lain juga memiliki amanah.

Mungkin kita tidak pernah mengambil manik-manik seharga dua dirham. Tetapi pertanyaannya lebih dalam: apakah pernah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita lalu berkata dalam hati, "Tidak apa-apa, toh kecil"?

Hadis ini mengajak saya untuk lebih takut pada kalimat tersebut.

Sebab korupsi yang besar mungkin bermula dari keberanian terhadap kesalahan yang kecil. Dan integritas yang besar juga bermula dari keberanian mengembalikan sesuatu yang sebenarnya bisa saja kita ambil.

Dua dirham akhirnya menjadi pelajaran yang jauh lebih mahal. Ia mengingatkan bahwa amanah tidak memiliki ukuran kecil atau besar. Amanah hanya mengenal satu pertanyaan: apakah sesuatu itu hak kita atau bukan?

Jika bukan hak kita, maka meninggalkannya adalah bentuk kejujuran.

Dan mungkin di situlah agama bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar membuat kita takut kepada hukuman, tetapi membuat kita malu mengambil sesuatu yang bukan milik kita, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Karena boleh jadi manusia tidak melihat.

Tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan pandangan.

Ketika Tali Terakhir Itu Bernama Shalat

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sesuatu yang sering kita anggap sederhana, padahal sesungguhnya sangat menentukan arah hidup seorang Muslim. Namanya shalat. Lima kali sehari. Waktunya sudah ditentukan. Gerakannya juga sudah diajarkan. Anehnya, sesuatu yang begitu rutin justru sering menjadi perkara yang paling mudah ditunda.

Saya teringat sebuah hadis yang menggambarkan keadaan umat manusia dengan sangat tajam. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad 5: 251)

Hadis ini membuat saya merenung. Rasulullah tidak menggambarkan runtuhnya kehidupan beragama sebagai sebuah peristiwa yang terjadi sekaligus. Ia menggambarkannya seperti tali yang terurai satu per satu. Ada sesuatu yang hilang, kemudian sesuatu yang lain menyusul.

Dalam kehidupan nyata, kita mungkin pernah menyaksikan proses semacam itu. Mula-mula seseorang mulai menganggap nilai agama tidak terlalu penting. Kemudian amanah mulai longgar. Kejujuran dianggap sebagai pilihan. Keadilan menjadi slogan. Ilmu agama dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan berjalan tanpa ruh. Ekonomi mengejar keuntungan tanpa memperhatikan halal dan haram. Politik kehilangan etika. Budaya lebih sibuk mengejar popularitas daripada membangun martabat manusia.

Tetapi selama shalat masih dilakukan, masih ada satu tali yang dipegang.

Itulah sebabnya hadis tersebut terasa begitu kuat. Shalat disebut sebagai tali yang terakhir terlepas. Artinya, dalam keadaan paling jauh sekalipun, masih ada pintu untuk kembali. Masih ada hubungan yang belum sepenuhnya putus antara manusia dan Tuhannya.

Saya kira di sinilah kita perlu berhati-hati. Hadis ini jangan dijadikan alat untuk mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu perjalanan batin seseorang. Ada orang yang shalatnya masih berantakan, tetapi hatinya sedang berjuang kembali. Ada pula orang yang tampak sangat religius, tetapi masih bergulat dengan kejujuran, kesombongan, dan kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, persoalan shalat sebaiknya pertama-tama kita tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah shalat kita masih menjadi kebutuhan atau sekadar kewajiban administratif kepada Tuhan?

Ada hadis lain yang semakin menguatkan renungan ini:

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.”

(HR. Al Hakim At Tirmidzi)

Saya membaca hadis ini bukan sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Justru sebaliknya. Ia seperti cermin. Kalau shalat adalah sesuatu yang terakhir tersisa, maka kita harus bertanya: ketika yang lain mulai hilang dari kehidupan kita, apakah shalat masih benar-benar kita jaga?

Sebab shalat seharusnya tidak berhenti di atas sajadah.

Kalau seseorang rajin shalat tetapi masih mudah mengambil hak orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan. Kalau seseorang tekun beribadah tetapi mudah memfitnah, mungkin ada yang belum selesai dalam penghayatan shalatnya. Kalau kita berdiri menghadap Allah, lalu setelah salam kembali menzalimi manusia, tentu ada jarak antara ritual dan kesadaran.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan tentang cara pandang manusia yang kehilangan orientasi akhirat:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mungkin problem terbesar manusia modern bukan karena tidak memiliki agama. Problemnya adalah agama sering berhenti sebagai identitas. Kita punya nama Islam, tetapi belum tentu nilai Islam menjadi cara berpikir dan cara hidup.

Kita bisa melihatnya dalam banyak bidang. Ketika hukum kehilangan keadilan, ekonomi kehilangan etika, politik kehilangan amanah, pendidikan kehilangan keteladanan, dan kebudayaan kehilangan adab, agama akhirnya tinggal menjadi ornamen.

Al-Qur’an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Namun, saya juga belajar bahwa membicarakan agama tidak cukup dengan mengatakan bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan slogan. Kehidupan jauh lebih rumit. Yang kita perlukan adalah menghadirkan nilai agama dalam keadilan, amanah, kejujuran, kasih sayang, ilmu, dan tanggung jawab.

Di sinilah shalat mempunyai makna yang sangat penting. Ia mengingatkan manusia berkali-kali dalam sehari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta. Ada Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan.

Karena itu, jangan sampai tali terakhir itu pun kita lepaskan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

من ضيعها فهو لما سواها أضيع

“Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya.”

Imam Ahmad juga mengingatkan bahwa orang yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Kadar perhatian seseorang terhadap Islam dapat dilihat dari kadar perhatiannya terhadap shalat.

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan nasihat kepada orang lain. Rasanya lebih pantas jika saya menutupnya dengan pertanyaan kepada diri sendiri.

Apakah saya masih menjaga shalat ketika tidak ada yang melihat?

Apakah shalat sudah membuat saya lebih jujur?

Apakah setelah salam saya menjadi manusia yang lebih aman bagi orang lain?

Sebab mungkin persoalannya bukan sekadar apakah kita masih shalat. Persoalannya adalah apakah shalat masih menjaga kita.

Jika suatu hari banyak tali dalam kehidupan kita mulai terlepas, semoga tali terakhir itu tidak ikut putus.

Semoga ia tetap bernama shalat.

Menjadi Perantara Kebaikan, Tanpa Ribet Jadi Pahlawan

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

,عن أَبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أتاهُ طَالِبُ حَاجَةٍ أقبَلَ عَلَى جُلَسَائِهِ، فَقَالَ: ((اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي الله عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا أحبَّ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., berkata:
"Rasulullah Saw. itu apabila didatangi oleh seseorang yang meminta hajat, maka beliau menghadap semua kawan-kawan duduknya, kemudian bersabda:
"Berilah pertolongan padanya, nescayalah engkau semua mendapatkan pahala dan Allah Swt akan memutuskan apa-apa yang disenanginya atas lisan nabiNya."
(Muttafaq 'alaih)

Ada satu kebiasaan kecil dalam hidup kita yang sering dianggap sepele. Kita membantu orang lain dengan cara yang sangat sederhana. Kadang hanya menyampaikan pesan. Kadang sekadar mengenalkan seseorang kepada orang lain. Kadang hanya bilang, “coba hubungi si A, mungkin dia bisa bantu.” Selesai. Tidak ada seremoni. Tidak ada tepuk tangan.

Padahal, dalam hadis ini, Nabi justru mengangkat hal sederhana itu menjadi sesuatu yang besar. Bukan karena hasilnya. Tapi karena keberanian untuk ikut ambil bagian dalam kebaikan.

Menariknya, Nabi tidak mengatakan, “pastikan masalahnya selesai.” Nabi hanya mengatakan, “berilah pertolongan, kalian akan mendapat pahala.” Artinya jelas. Yang dihitung bukan sukses atau gagal. Tapi kemauan untuk terlibat.

Di sini kita sering keliru. Kita terlalu sibuk menimbang hasil. Kalau kira-kira tidak berhasil, kita mundur. Kalau tidak yakin bisa membantu, kita diam. Bahkan kadang pura-pura tidak tahu. Padahal bisa jadi, justru di situlah ladang pahala yang sedang lewat.

Nabi memberi pelajaran yang sangat manusiawi. Kita tidak diminta jadi penyelesai semua masalah. Kita hanya diminta jadi jembatan. Itu saja.

Dan jembatan itu tidak pernah ditanya apakah dia sampai ke tujuan atau tidak. Dia hanya menjalankan fungsinya, menghubungkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang sebenarnya punya akses, punya relasi, punya kemampuan, tapi memilih diam. Alasannya sederhana. Takut repot. Takut tidak berhasil. Atau takut disalahkan kalau ternyata gagal.

Padahal, kalau kita renungkan, kegagalan itu bukan urusan kita. Itu wilayah Allah.

“Dan Allah Swt pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya.”

Kalimat ini seperti mengingatkan kita. Ada batas antara usaha manusia dan keputusan Tuhan. Kita bergerak di wilayah usaha. Hasil bukan milik kita.

Lalu Al-Qur’an menguatkan prinsip ini:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

"Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.
(QS. An-Nisa : 85)

Ayat ini tidak menyebutkan bahwa syafaat itu harus berhasil. Yang disebut hanya satu, “memberikan syafaat yang baik.” Maka ia mendapat bagian. Selesai.

Ini menarik. Karena dalam logika modern, kita sering diajari berpikir efektif. Semua harus terukur. Semua harus ada hasil. Bahkan kebaikan pun kadang dihitung dengan angka.

Padahal agama mengajarkan sesuatu yang lebih halus. Ada nilai pada proses. Ada pahala pada niat yang bergerak. Ada keberkahan pada langkah kecil yang mungkin tidak terlihat.

Di sisi lain, ada juga pesan yang cukup halus tapi penting. Islam tidak mendorong budaya meminta-minta. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.
(QS. Al Baqoroh : 273)

Ayat ini seperti memberi gambaran. Ada orang yang butuh, tapi tidak meminta. Mereka menjaga harga diri. Di sinilah peran kita menjadi penting. Kita tidak menunggu diminta. Kita peka.

Di titik ini, menjadi perantara kebaikan bukan lagi soal membantu orang yang datang. Tapi juga mencari orang yang tidak datang.

Ini pekerjaan sunyi. Tidak viral. Tidak banyak yang melihat. Tapi justru di situlah letak keikhlasannya.

Gaya hidup hari ini sering membuat kita sibuk dengan urusan sendiri. Kita punya alasan. Pekerjaan banyak. Target menumpuk. Waktu terbatas. Tapi di tengah itu, sebenarnya selalu ada ruang kecil untuk menjadi jembatan.

Kadang hanya butuh satu kalimat.
Kadang hanya butuh satu nomor telepon.
Kadang hanya butuh satu rekomendasi.

Selesai.

Tidak perlu jadi tokoh besar. Tidak perlu punya jabatan tinggi. Tidak perlu dikenal banyak orang. Cukup punya kepedulian.

Dan yang menarik, ketika kita mulai terbiasa membantu dengan cara seperti ini, kita sedang melatih diri. Melatih kepekaan. Melatih keberanian. Melatih keikhlasan.

Karena tidak semua bantuan itu terlihat hasilnya. Tidak semua usaha itu langsung berbuah. Tapi setiap langkah itu dicatat.

Dalam banyak kasus, justru orang yang sering menjadi perantara kebaikan ini hidupnya terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya sedikit. Tapi karena hatinya tidak sempit.

Ia tahu satu hal. Hidup ini bukan soal menjadi pusat segalanya. Tapi menjadi bagian dari aliran kebaikan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, dari langkah kecil itu Allah membuka pintu-pintu lain. Pertemuan baru. Rezeki baru. Kemudahan yang tidak kita rencanakan.

Bukan karena kita hebat. Tapi karena kita mau ikut dalam arus kebaikan.

Hadis ini sederhana. Tapi kalau dijalankan, dampaknya luas. Ia mengubah cara kita melihat bantuan. Ia mengubah cara kita menilai peran diri.

Kita tidak lagi menunggu jadi orang penting untuk berbuat baik. Kita cukup jadi orang yang mau bergerak.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan ajaran ini. Tidak rumit. Tidak berat. Tapi dalam.

Menjadi perantara kebaikan, ternyata tidak butuh jadi siapa-siapa. Cukup jadi manusia yang peduli.

Jumat, 21 November 2025

10 SDGs | Budaya Kerja Positif yang Dimulai dari Kepemimpinan Kuat



Oleh: Mulyawan Safwandy NugrahaK

etua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi

Direktur Research and Literacy Institute (RLI)

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung



Saya masih ingat, suatu pagi beberapa tahun lalu, saya tiba di sebuah madrasah di Sukabumi. Jam baru menunjukkan pukul tujuh, tapi halaman sekolah sudah ramai. Guru-guru menyambut siswa di gerbang, beberapa sedang memeriksa kebersihan kelas, sementara kepala sekolah berdiri di tengah lapangan dengan sapu di tangan. Ia tidak memberi perintah, tapi ikut bekerja. Ia menyapu halaman yang masih basah karena embun.

Pemandangan itu sederhana, tapi saya tahu itu bukan hal biasa. Banyak kepala sekolah memimpin dari ruangannya. Tapi di sini, pemimpin hadir di lapangan. Bukan hanya memberi instruksi, tapi menjadi contoh hidup tentang arti bekerja dengan hati. Di situlah saya belajar satu hal penting: budaya kerja positif tidak dimulai dari aturan atau slogan di dinding, tapi dari teladan seorang pemimpin.


Budaya kerja adalah ruh yang menggerakkan lembaga. Ia tidak tertulis di papan visi-misi, tapi hidup dalam perilaku sehari-hari. Dalam lembaga pendidikan Islam, budaya kerja seharusnya mencerminkan nilai-nilai dasar Islam: kejujuran, tanggung jawab, ketekunan, dan kasih sayang. Namun sering kali, nilai itu hanya menjadi retorika. Di atas kertas semua tampak ideal, tapi di lapangan, semangatnya tidak terasa.

Saya pernah mengunjungi sekolah lain yang fasilitasnya lengkap dan dikelola secara modern, tapi suasananya kaku. Guru datang terlambat, rapat dimulai molor, dan koordinasi antarbagian tidak terbangun. Kepala sekolahnya pandai berbicara tentang visi besar, tapi jarang turun ke lapangan. Sekolah itu terlihat rapi dari luar, tapi di dalamnya tidak ada energi positif. Semua berjalan karena kewajiban, bukan kesadaran.

Dari pengalaman itu saya belajar, budaya kerja positif tidak akan tumbuh bila pemimpinnya tidak konsisten memberi contoh. Dalam Islam, konsep kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang tanggung jawab moral. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, kepemimpinan bukan hak istimewa, tapi amanah.


Kepemimpinan yang kuat bukan berarti keras atau dominan. Kekuatan sejati justru terletak pada kejelasan arah, integritas, dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan. Pemimpin yang kuat tahu kapan harus tegas, dan kapan harus mendengar. Ia tidak membangun kekuasaan dengan rasa takut, tapi dengan rasa percaya.

Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, kepala sekolah atau pimpinan yayasan adalah pusat gravitasi. Ia mempengaruhi seluruh dinamika kerja, dari cara guru mengajar hingga semangat staf kebersihan menjalankan tugas. Seorang pemimpin yang datang tepat waktu, menghargai rapat, dan menepati janji, tanpa perlu bicara banyak pun sudah menanamkan budaya kerja positif.

Saya pernah berbicara dengan seorang guru di madrasah yang cukup maju di Jawa Tengah. Ia berkata, “Kami disiplin bukan karena takut, tapi karena malu pada kepala sekolah.” Saya tanya kenapa. Ia menjawab, “Karena beliau selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.” Bagi saya, itu kepemimpinan yang kuat. Tidak banyak bicara, tapi berpengaruh besar.


Budaya kerja positif tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh sistem, tapi dipelihara oleh manusia. Pemimpin yang ingin membangun budaya kerja sehat perlu memahami tiga hal penting: nilai, komunikasi, dan keteladanan.

Pertama, menegaskan nilai yang menjadi dasar bersama.
Lembaga pendidikan Islam harus berani menentukan nilai-nilai inti yang akan menjadi panduan perilaku. Misalnya, kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai ini tidak cukup hanya diumumkan di awal tahun ajaran, tapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Misalnya, guru yang terlambat tidak langsung ditegur, tapi diajak memahami makna amanah. Atau staf administrasi yang bekerja cepat diberi apresiasi terbuka agar yang lain terinspirasi.

Kedua, membangun komunikasi yang manusiawi.
Saya sering menemukan sekolah yang semua komunikasi bersifat satu arah. Kepala sekolah bicara, guru mendengarkan. Akibatnya, suasana kerja terasa seperti instruksi, bukan kolaborasi. Padahal, budaya kerja positif tumbuh dari percakapan yang jujur. Kepala sekolah perlu membuka ruang dialog, mendengar aspirasi guru, dan memberi umpan balik tanpa menghakimi.

Di satu sekolah Islam di Surabaya, setiap Jumat sore kepala sekolah mengadakan “ngopi bareng” dengan guru. Tidak ada agenda formal. Mereka bercerita tentang pengalaman di kelas, kadang juga curhat tentang beban kerja. Dari situ muncul banyak ide kecil yang kemudian menjadi inovasi besar. Kepala sekolahnya berkata, “Kalau kita mau sekolah sehat, mulai dari ngobrol yang sehat.”

Ketiga, menjadi teladan dalam hal etika dan semangat kerja.
Tidak ada budaya kerja positif tanpa keteladanan. Pemimpin yang ingin menegakkan disiplin harus terlebih dulu menunjukkan kedisiplinan. Pemimpin yang ingin menumbuhkan kejujuran harus berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-16 tentang tata kelola yang adil, transparan, dan berintegritas.

Kepemimpinan pendidikan Islam yang kuat sejalan dengan semangat SDGs: menciptakan institusi yang tangguh dan berkeadilan. Jika lembaga pendidikan Islam mampu menerapkan prinsip kepemimpinan yang transparan, akuntabel, dan partisipatif, maka budaya kerja positif akan tumbuh alami.


Tentu, membangun budaya kerja positif tidak terjadi dalam semalam. Ia butuh waktu dan konsistensi. Ada masa-masa di mana perubahan terasa lambat, bahkan menimbulkan resistensi. Guru bisa saja merasa lelah, staf bisa merasa diabaikan, dan kepala sekolah pun mungkin kehilangan semangat. Di saat seperti itu, pemimpin perlu kembali pada niat awal: untuk apa ia memimpin.

Saya pernah berbincang dengan seorang kepala madrasah yang hampir menyerah. Ia berkata, “Saya sudah berusaha menegakkan disiplin, tapi selalu ada yang melanggar. Saya jadi capek.” Saya menatapnya dan berkata pelan, “Mungkin karena mereka belum melihat makna di balik disiplin itu.” Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali ke madrasah itu. Ada perubahan kecil tapi nyata. Ia mulai mengganti cara pendekatannya. Setiap rapat ia mengawali dengan cerita inspiratif, bukan teguran. Ia berbagi kisah tentang nilai kerja keras, tentang niat, tentang barakah dalam pekerjaan. Perlahan, suasana kerja membaik. Guru mulai datang lebih awal, siswa lebih tertib, dan senyum lebih sering terlihat di wajah mereka.

Saya belajar dari situ, bahwa budaya kerja positif tidak dibangun dengan tekanan, tapi dengan makna. Ketika orang memahami alasan di balik aturan, mereka akan bekerja bukan karena takut, tapi karena sadar.


Ada satu kalimat yang saya suka dari John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan. Ia berkata, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Pemimpin bukan hanya tahu arah, tapi juga berjalan dan menunjukkan jalan. Dalam lembaga pendidikan Islam, prinsip ini sangat relevan. Kepala sekolah bukan hanya pengelola, tapi juga pembentuk karakter lembaga.

Ia harus berani menegakkan nilai-nilai, menjaga keadilan, dan menginspirasi semua pihak untuk bekerja lebih baik. Kepemimpinan yang kuat tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, tapi seberapa dalam pengaruhnya terhadap perilaku orang-orang di sekitarnya.

Ketika pemimpin menjadi sumber energi positif, budaya kerja pun ikut bergerak. Guru bekerja dengan senang hati, staf administratif bekerja dengan rasa bangga, dan siswa belajar dalam suasana yang hangat. Semua itu tidak bisa dibeli atau diperintah. Ia tumbuh dari kepercayaan.


Saya percaya, lembaga pendidikan Islam yang ingin maju harus menempatkan pembangunan budaya kerja sebagai prioritas utama. Karena budaya kerja yang positif akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan. Sekolah yang memiliki semangat kolektif, disiplin yang manusiawi, dan komunikasi yang terbuka akan jauh lebih tangguh menghadapi tantangan zaman.

Apalagi di era pasca-pandemi ini, tantangan lembaga pendidikan semakin kompleks. Guru dituntut beradaptasi dengan teknologi, siswa menghadapi tekanan sosial yang lebih tinggi, dan orang tua menuntut hasil yang cepat. Di tengah tekanan itu, hanya budaya kerja yang positif yang bisa menjaga semangat kebersamaan.

SDGs menekankan pentingnya kerja layak dan pertumbuhan ekonomi (Goal 8), serta lembaga yang kuat dan damai (Goal 16). Dua poin itu bisa dimulai dari sekolah. Jika lembaga pendidikan Islam bisa membangun ekosistem kerja yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai, maka ia bukan hanya menjalankan ajaran Islam, tapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.


Saya sering merenung, bahwa inti dari budaya kerja positif adalah rasa memiliki. Ketika guru merasa sekolahnya adalah bagian dari dirinya, ia akan menjaga dengan sepenuh hati. Ketika pemimpin memperlakukan stafnya dengan hormat, mereka akan bekerja dengan semangat.

Dan semua itu bermula dari satu hal: kepemimpinan yang kuat, bukan dalam arti berkuasa, tapi dalam arti berjiwa besar. Pemimpin yang kuat adalah yang mampu menyalakan semangat, bukan sekadar menegakkan aturan. Ia hadir tidak untuk menaklukkan, tapi untuk menggerakkan.

Dalam pendidikan Islam, kekuatan sejati pemimpin tidak terletak pada posisi, tapi pada pengaruh kebaikannya. Karena sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Nilai seseorang diukur dari apa yang ia lakukan dengan kekuasaan yang dimilikinya.”

Maka, jika seorang kepala sekolah mampu menggunakan kekuasaannya untuk menumbuhkan budaya kerja yang positif, ia tidak hanya berhasil sebagai manajer, tapi juga sebagai pendidik sejati.

Dan mungkin, di sanalah letak keberkahan sebuah lembaga pendidikan Islam: ketika semua orang bekerja bukan karena takut, tapi karena cinta.

11 SDGs | Mewujudkan Madrasah ramah anak untuk semua

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 

Saya masih ingat satu pagi ketika saya datang lebih awal ke sebuah madrasah di pinggiran kota. Udara masih lembap. Suara anak-anak mulai terdengar dari kejauhan. Saya melihat seorang siswa duduk sendirian di pojok halaman. Ia memegang tasnya dengan erat seakan sedang menahan sesuatu. 

Ketika saya menghampirinya, ia hanya berkata pelan bahwa ia malas masuk kelas hari itu. Tidak ada penjelasan lain. Tatapannya cukup untuk membuat saya berpikir panjang tentang arti sebuah tempat belajar yang benar-benar aman dan nyaman bagi anak seusianya.

Saya kemudian mengobrol dengan beberapa guru. Mereka bilang anak itu memang sering menyendiri. Tidak pernah bermasalah. Tidak pernah membuat gaduh. Tetapi ia sering menjadi sasaran ejekan kecil yang sering dianggap sepele oleh teman-temannya.

 Mendengar itu saya terdiam. Saya sadar bahwa madrasah bisa tampak baik-baik saja dari luar. Namun bagi sebagian siswa, ruang kelas bisa terasa seperti tempat yang membuat mereka menahan napas sepanjang hari.

Saya berjalan menyusuri koridor sambil mencoba membayangkan apa yang dirasakan anak-anak yang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Di koridor itu saya melihat beberapa guru tersenyum pada siswa yang lewat. Ada juga yang sedang terburu-buru menuju kelas. Suasana itu menenangkan. Tetapi saya tahu kenyamanan tidak hanya datang dari senyum guru. Kenyamanan lahir dari budaya yang mampu membuat anak merasa dirinya aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Saya percaya bahwa kepemimpinan madrasah memegang kunci utama. Kepala madrasah yang peka biasanya mampu menangkap sinyal kecil sebelum masalah terjadi. Ia hadir bukan hanya di ruang rapat. Ia hadir di tengah anak-anak. Ia menyapa mereka seperti orang tua yang ingin memastikan semua anak baik-baik saja. Kehadiran seperti itu menular. Guru menjadi lebih hangat. Anak-anak lebih berani bercerita.

Saya pernah melihat perubahan besar di sebuah madrasah hanya karena kepala sekolahnya rutin mengadakan waktu khusus mendengarkan siswa. Sederhana saja. Sepuluh menit setiap pagi sebelum kelas dimulai. Siswa yang ingin bercerita boleh datang tanpa membuat janji. Saya menyaksikan bagaimana ruang kecil itu mengubah cara anak memandang sekolah. Banyak anak merasa lebih dihargai karena ada tempat untuk suara mereka.

Saya juga melihat betapa pentingnya membangun lingkungan fisik yang mendukung kenyamanan. Madrasah tidak harus megah. Tidak harus penuh ornament. Cukup bersih. Cukup terang. Cukup teratur. Ruang kelas yang rapi membuat anak lebih tenang. Taman kecil di pojok sekolah bisa menjadi tempat anak melepas penat. Hal-hal sederhana ini sering terabaikan, padahal dampaknya sangat besar untuk kesehatan mental siswa.

Ada satu kelas yang saya kunjungi pernah terasa begitu bising meski gurunya sudah berusaha keras mengatur. Setelah berdiskusi, kami mencoba menata ulang letak meja dan kursi. Ternyata perubahan kecil itu membuat anak lebih mudah fokus. Guru juga lebih mudah berinteraksi. Saya belajar bahwa rasa aman kadang muncul dari hal-hal teknis sederhana. Tidak selalu harus lewat regulasi besar.

SDG’s mengingatkan kita bahwa pendidikan berkualitas hanya bisa tercapai bila anak berada dalam lingkungan yang aman. Aman dari kekerasan. Aman dari perundungan. Aman dari tekanan sosial yang tidak seharusnya mereka tanggung. Banyak lembaga pendidikan Islam sudah memahami ini. Namun sering kali mereka berhenti pada aturan tertulis. Padahal siswa membaca bahasa tubuh. Mereka melihat contoh. Mereka menilai suasana dengan intuisi yang lebih tajam dari yang kita bayangkan.

Saya pernah berbincang dengan seorang siswi yang awalnya sering menangis sepulang sekolah. Ternyata ia tidak nyaman dengan teman sebangkunya. Bukan karena konflik besar. Hanya karena temannya sering mengambil barangnya tanpa izin. Guru mengira itu hanya candaan. Namun bagi anak itu, hal kecil itu menimbulkan kecemasan yang terus menumpuk. Setelah guru memindahkan tempat duduknya, ia terlihat jauh lebih tenang. Dari situ saya belajar bahwa rasa aman bersifat sangat personal. Satu siswa mungkin baik-baik saja. Siswa yang lain mungkin sedang menahan sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Madrasah bisa membangun rasa aman dengan memperkuat budaya saling menghormati. Guru perlu memberi contoh bagaimana berbicara dengan lembut. Teman sebaya perlu belajar melihat perasaan orang lain. Lingkungan seperti ini tidak tercipta dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan. Dari rutinitas yang dibentuk pelan-pelan. Dari keputusan sehari-hari yang menghargai martabat setiap anak.

Saya percaya lembaga pendidikan Islam memiliki modal spiritual yang kuat untuk membangun kenyamanan. Nilai kasih dan amanah sudah tertanam dalam ajaran agama. Kita hanya perlu menerjemahkannya menjadi tindakan yang konsisten. Misalnya dengan membiasakan guru membuka kelas dengan satu menit hening. Atau dengan mengajak siswa menutup pelajaran dengan doa yang membuat mereka merasa diperhatikan oleh guru.

Saya sering melihat perubahan besar datang dari guru yang mampu melihat lebih dalam. Guru yang sabar mendengarkan. Guru yang berani menegur dengan cara yang tidak melukai. Guru yang tahu kapan harus menahan suara dan kapan harus merangkul siswa yang rapuh. Guru seperti ini membuat madrasah terasa seperti rumah kedua.

Ketika madrasah berhasil menciptakan budaya aman, maka pembelajaran jadi lebih hidup. Anak-anak lebih aktif bertanya. Mereka lebih mudah bekerja sama. Mereka berani mencoba hal baru tanpa takut ditertawakan. Lingkungan yang nyaman memberi mereka kesempatan untuk berkembang secara utuh. Tidak hanya dalam aspek akademik. Tapi juga dalam karakter.

Saya selalu percaya bahwa madrasah bisa menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Nilai adab. Nilai saling menghormati. Nilai tanggung jawab. Tetapi semua itu butuh ruang yang aman. Tidak mungkin anak belajar tentang kasih sayang jika setiap hari mereka takut salah. Tidak mungkin mereka belajar percaya diri jika lingkungan tidak memberi kesempatan untuk tumbuh.

SDG’s menempatkan keamanan dan kenyamanan sebagai bagian penting dari pendidikan yang berkualitas. Madrasah yang aman berarti madrasah yang tidak menutup mata terhadap masalah kecil. Madrasah yang nyaman berarti madrasah yang menyiapkan ruang tumbuh bagi setiap anak tanpa terkecuali.

Saya membayangkan generasi muda yang tumbuh dari madrasah seperti itu. Mereka membawa lembutnya pengalaman belajar. Mereka membawa kemampuan memahami orang lain. Mereka tumbuh dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri karena mereka pernah berada di ruang yang menerima mereka apa adanya.

Saya yakin madrasah bisa menjadi tempat yang seperti itu. Tempat yang menjaga hati. Tempat yang memberi rasa aman. Tempat yang membuat anak datang setiap pagi dengan langkah yang ringan. Sebab ketika anak merasa aman, mereka akan belajar dengan penuh ketulusan. Dan ketika itu terjadi, pendidikan Islam benar-benar menjadi cahaya bagi kehidupan mereka.


____________
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2012. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Pahlawan Baru di Tengah Riuh Zaman


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 


Hari Pahlawan lahir dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Hari itu, rakyat melawan pasukan bersenjata lengkap. Kota terbakar oleh keberanian. Banyak yang gugur, tapi semangat mereka menyalakan nyala yang tak padam: bahwa kemerdekaan hanya berarti jika ada keberanian untuk menjaganya. Karena itu, Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan ajakan untuk menyalakan kembali nilai-nilai pengorbanan, keberanian, dan tanggung jawab.


Namun zaman berubah. Medan perjuangan tidak lagi di medan perang. Kini musuh bangsa tidak berbentuk tentara penjajah. Ia hadir dalam rupa yang lebih halus: korupsi kecil yang dianggap lumrah, berita palsu yang memecah warga, ketidakpedulian sosial, dan keengganan untuk berbuat baik tanpa pamrih. Di sinilah nilai kepahlawanan diuji dalam bentuk baru. Tidak dengan senjata, melainkan dengan kejujuran, kepedulian, dan konsistensi dalam hal-hal kecil.


Anda bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang memilih antre ketika banyak yang ingin diserobot. Ada yang menolak “uang pelicin” meski butuh. Ada yang tetap disiplin bekerja walau tidak diawasi. Tindakan kecil seperti itu mungkin tidak viral, tapi di situlah letak keberanian moral. Menjadi pahlawan kini berarti mampu melawan godaan untuk curang, sekalipun sistem seolah membiarkannya.


Di sisi lain, kepahlawanan masa kini juga hidup dalam gerakan merawat bumi. Anak muda membersihkan sungai, menanam pohon, atau mengurangi sampah plastik. Mereka sadar bumi sedang sakit, dan tanggung jawab memperbaikinya tidak bisa ditunda. Keberanian mereka adalah bentuk baru dari cinta tanah air. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa sekop, sapu, dan kesadaran.


Lihat juga guru-guru di pelosok negeri. Mereka berjalan jauh, mengajar dengan alat seadanya, kadang tanpa listrik, tapi tetap datang setiap pagi. Mereka menyalakan harapan di mata anak-anak. Mereka mungkin tak masuk berita, tapi dari ruang kelas sederhana itulah masa depan bangsa disemai. Dalam ketulusan itu, Anda bisa melihat makna sejati dari pengabdian.


Tenaga kesehatan di puskesmas kecil pun menjalani hari-hari panjang dengan fasilitas terbatas. Mereka menambal luka, menenangkan pasien, dan menjaga kehidupan. Di tengah sistem yang kadang tidak adil, mereka memilih tetap bertahan. Keberanian seperti ini tidak heboh, tapi nyata.


Relawan bencana datang ke lokasi ketika yang lain menjauh. Mereka bekerja di tengah debu, banjir, atau longsor. Mereka tak selalu punya cukup logistik, tapi mereka punya niat untuk menolong. Mereka hadir sebagai wajah kemanusiaan. Setiap kali bencana datang, mereka menunjukkan bahwa bangsa ini masih punya hati yang hidup.


Di rumah, orang tua menjadi pelindung anak dari banjir informasi digital. Mereka mendampingi, mendengar, dan mengarahkan. Mereka tidak hanya menjaga anak agar pintar, tapi juga agar tetap manusiawi. Di tengah dunia yang sibuk mengejar kesuksesan, tugas seperti ini sering luput dari perhatian, padahal sangat menentukan.


Peneliti energi bersih bekerja dalam senyap di laboratorium. Mereka meneliti panel surya, baterai, dan teknologi ramah lingkungan. Mereka tahu bahwa kemandirian bangsa ditentukan oleh kemandirian energi. Mereka mungkin tidak memakai seragam tempur, tapi kerja keras mereka menentukan masa depan.


Anak muda yang melawan hoaks juga bagian dari barisan pahlawan baru. Mereka memeriksa data, meluruskan kabar palsu, dan menjaga agar masyarakat tetap rasional. Di tengah banjir informasi dan polarisasi politik, mereka menjaga api kebenaran agar tidak padam.


Pelaku UMKM berjuang tanpa banyak dukungan. Mereka membuka usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menopang ekonomi keluarga. Dalam kesederhanaan, mereka menolak menyerah. Mereka menunjukkan bahwa keberanian bukan hanya soal perang, tapi juga soal bertahan hidup dengan jujur.


Pegiat literasi membuka ruang baca di kampung. Mereka meminjamkan buku, mengajak anak berdiskusi, dan menyalakan rasa ingin tahu. Mereka tahu perubahan besar dimulai dari kemampuan membaca dan berpikir. Dari ruang sempit itu, masa depan sedang disiapkan.


Nilai kepahlawanan di era sekarang bukanlah sesuatu yang jauh. Ia hidup di sekitar Anda. Di ruang kelas, puskesmas, laboratorium, warung kecil, dan perpustakaan sederhana. Kepahlawanan bukan lagi milik yang mati di medan perang, tapi milik mereka yang tetap hidup untuk memperbaiki keadaan, sedikit demi sedikit.


Peringatan Hari Pahlawan bukan ajakan untuk bernostalgia, melainkan undangan untuk introspeksi. Apakah Anda masih punya keberanian untuk jujur ketika mudah untuk menipu? Apakah Anda masih peduli ketika lingkungan rusak? Apakah Anda masih mau menolong tanpa disorot kamera?


Kepahlawanan sejati tidak memerlukan seremoni. Ia tumbuh dalam kesadaran bahwa hidup ini bernilai jika memberi manfaat. Jadi, di tengah riuh zaman, ketika segala hal bergerak cepat dan banyak orang sibuk mencari perhatian, Anda bisa memilih jalan sebaliknya. Jalan yang tenang, sederhana, tapi penuh makna. Jalan orang-orang yang bekerja tanpa pamrih, berbuat tanpa suara, dan mencintai tanpa syarat.


Mereka inilah pahlawan baru di tengah riuh zaman. Dan siapa pun bisa menjadi bagian dari mereka, mulai dari langkah kecil yang Anda ambil hari ini.

----

Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Menjadi pahlawan baru di era kekinian


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 


Hari Pahlawan lahir dari pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Kota itu terbakar oleh tekad mempertahankan martabat sebagai bangsa merdeka. Banyak yang gugur. Banyak yang terluka. Namun dari keberanian itu, lahirlah satu pesan yang terus hidup: ada saat ketika seseorang perlu berdiri, meskipun hasilnya tidak pasti. Semangat ini yang ingin diingat setiap tahun.

Ketika Anda melihat ke masa kini, medan perjuangan bergeser. Tidak ada dentuman meriam. Tantangannya lebih senyap. Banyak hadir dalam bentuk pilihan kecil yang terjadi setiap hari. Anda mungkin tidak menyadarinya. Tapi di situlah ruang nilai kepahlawanan diuji.

Anda melihatnya saat seseorang memilih jujur meski tidak ada yang melihat. Saat seseorang tetap antre meskipun ada peluang mempercepat proses lewat jalan yang tidak benar. Langkah kecil ini terasa sederhana, tetapi menahan diri seperti itu membutuhkan keberanian batin. Keberanian semacam ini tidak selalu mendapat tepuk tangan. Namun justru itu yang membuatnya berarti.

Lingkungan juga menjadi ruang ujian zaman ini. Sungai kotor, udara berdebu, dan sampah plastik menumpuk. Di tengah kondisi ini, anak-anak muda memilih turun tangan. Mereka membersihkan sungai, menanam pohon, dan mengurangi sampah sekali pakai. Mereka tidak menunggu instruksi. Mereka bergerak karena merasa bertanggung jawab. Dari sana, Anda melihat bahwa kepahlawanan hari ini sering lahir dari kesadaran, bukan perintah.

Di sekolah terpencil, guru tetap hadir meski fasilitasnya terbatas. Ada yang berjalan jauh. Ada yang mengajar di ruang yang tidak layak. Mereka jarang disorot. Namun banyak masa depan dibentuk di ruang kelas kecil itu. Komitmen seperti ini lahir dari keyakinan bahwa setiap anak punya hak belajar yang sama. Anda tidak bisa mengabaikan nilai kemanusiaan yang bekerja di balik pengorbanan mereka.

Tenaga kesehatan di puskesmas kecil juga menjaga kehidupan dalam diam. Mereka bekerja dengan alat seadanya. Mereka sering menjadi tempat pertama dan terakhir yang mencari pertolongan. Mereka tetap hadir meski kelelahan. Anda bisa melihat bahwa keberanian tidak selalu muncul dalam situasi dramatis. Kadang ia tumbuh dari rutinitas yang dijalani dengan hati yang teguh.

Relawan bencana datang ketika banyak orang menjauh. Mereka mengangkat, mengevakuasi, memeluk warga yang panik. Mereka bekerja di antara puing dan lumpur. Indonesia hidup berdampingan dengan risiko bencana. Karena itu, kehadiran relawan selalu membuat orang merasa tidak sendirian. Dalam wajah mereka, Anda melihat bentuk kasih sayang yang paling nyata.

Di rumah, orang tua mendampingi anak menghadapi banjir informasi digital. Mereka menjaga agar anak tetap waras di tengah dunia yang cepat. Tidak ada sorotan kamera, tetapi banyak pembentukan karakter terjadi di tengah percakapan kecil sebelum tidur. Tugas ini sunyi, tetapi berat.

Peneliti energi bersih bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka mencoba hal yang sama ratusan kali hingga satu percobaan membuahkan hasil. Upaya ini memberi harapan bahwa bangsa bisa mandiri energi. Di ruang laboratorium yang sepi itu, mereka menyiapkan masa depan yang lebih stabil.

Anak muda yang melawan hoaks juga menjadi penjaga akal sehat publik. Mereka memeriksa data, membetulkan informasi, dan menolak ikut arus yang membingungkan masyarakat. Ini tugas yang melelahkan. Namun mereka tetap melakukannya karena mereka tahu bahwa kebenaran perlu pembela.

Pada saat yang sama, pelaku UMKM tetap bertahan meski ekonomi sering tidak ramah. Mereka membuka usaha kecil. Mereka menciptakan pekerjaan baru. Mereka berjuang untuk keluarganya. Dari mereka lahir ketahanan ekonomi yang membuat banyak orang tetap bisa makan.

Pegiat literasi membuka ruang baca kecil di kampung. Mereka meminjamkan buku, mengajak anak berdiskusi, dan memberi ruang aman untuk bertanya. Dari tempat sederhana itu, Anda melihat bahwa masa depan bangsa kadang tumbuh dari ruangan sempit dengan rak buku seadanya.

Menghidupkan nilai kepahlawanan di era sekarang bukan soal menunggu momen besar. Anda cukup memilih satu tindakan yang membuat hidup orang lain lebih ringan. Anda berkata jujur meski tidak ada yang memaksa. Anda membantu orang tanpa berharap balas. Anda merawat lingkungan. Anda menjaga nalar publik. Anda melindungi anak dari tekanan digital.

Setiap tindakan itu mungkin kecil. Namun setiap bangsa berdiri dari hal-hal kecil yang dilakukan banyak orang secara konsisten. Hari Pahlawan tidak meminta Anda menjadi seperti mereka yang gugur di 1945. Hari ini hanya meminta Anda bertanya pada diri sendiri: langkah apa yang bisa Anda ambil agar dunia di sekitar Anda sedikit lebih baik.

Jika Anda ingin versi yang lebih panjang atau ingin menyesuaikan untuk media tertentu, saya bisa bantu lanjutkan.

----
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Syukur yang Membentuk Pahlawan di Sekitar Kita

Oleh: *Mulyawan Safwandy Nugraha*

Setiap 10 November, saya selalu teringat cerita yang ayah saya ulang sejak kecil. Beliau bilang, kemerdekaan ini bukan datang tiba-tiba. Ada banyak orang yang menahan takut. Ada yang meninggalkan rumah. Ada yang tidak kembali. Dulu saya hanya mendengar sambil lalu. Tapi semakin bertambah umur, saya mulai merasa cerita itu bukan sekadar kisah masa lalu. Itu ajakan agar saya melihat hidup ini dengan rasa syukur. Allah memberi kita kemerdekaan melalui tangan banyak hamba yang dipilih. Kita tinggal meneruskan amanahnya.

Saat membaca lagi surat Ali Imran ayat 169, saya merasa ayat itu menegur saya secara pribadi. Allah bilang bahwa mereka yang gugur di jalan kebaikan itu hidup di sisi-Nya. Ayat itu membuat saya sadar bahwa keberanian selalu punya tempat khusus. Rasulullah juga pernah menyampaikan bahwa manusia terbaik adalah yang paling membawa manfaat. Kalimat ini terdengar sederhana. Tapi makin sering saya renungi, semakin terasa berat tanggung jawabnya.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi seorang guru di daerah pinggiran Sukabumi. Ruang kelasnya kecil. Kursinya tidak sama tinggi. Tapi beliau mengajar dengan semangat seperti sedang mengajar di sekolah terbaik. Saya duduk sebentar di pojok ruangan. Melihat beliau menenangkan murid yang menangis. Mengajak yang lain membaca iqra. Di situ, saya merasa sedang melihat rahmat Allah bekerja lewat seseorang yang mungkin tidak pernah disebut di berita. Saya pulang dengan rasa malu. Juga rasa syukur.

Di puskesmas kecil, saya pernah menemani saudara yang berobat. Tenaga kesehatannya bekerja tanpa banyak alat. Tapi mereka tetap ramah. Tetap sabar. Saya melihat seorang perawat yang tidak berhenti tersenyum sejak pagi. Saya tanya, apa tidak lelah. Beliau hanya bilang, semua orang datang ke sini karena sedang kesulitan. Kalau saya ikut murung, siapa yang menguatkan mereka. Saya merasa itu kalimat yang sederhana tapi berat. Kadang orang seperti ini membuat saya kembali ingat bahwa Allah menolong manusia lewat tangan manusia lain.

Pernah juga saya bertemu relawan bencana. Waktu itu tanah longsor menutup akses jalan. Mereka baru turun dari lokasi evakuasi. Tubuh mereka penuh lumpur. Tapi wajah mereka seperti orang yang baru saja mendapat hadiah. Mereka bilang, selama ada orang yang berhasil diselamatkan, semua lelah hilang. Saya pulang sambil terdiam. Umar bin Khattab pernah berkata bahwa siapa pun yang membantu orang lain, ia sedang membantu dirinya sendiri di hadapan Allah. Saya melihat makna itu dalam wajah para relawan.

Orang tua saya sendiri menjadi pengingat lain tentang syukur. Mereka mendidik kami tanpa teori panjang. Mereka hanya memastikan rumah tetap menjadi tempat kami belajar tentang iman dan tanggung jawab. Saya masih ingat ibu menutup gawai saya saat saya mulai kecanduan layar. Beliau bilang, hati itu mudah kosong. Jangan biarkan kosong terlalu lama. Nasihat itu baru terasa setelah dewasa.

Beberapa teman saya bekerja di bidang energi bersih. Mereka sering bercerita tentang penelitian yang gagal berhari-hari. Tapi mereka terus ulangi. Mereka bilang bangsa ini butuh energi yang lebih sehat. Saya melihat kerja keras itu sebagai bentuk ibadah. Dalam Alquran, Allah memuji orang yang menimbang akibat dari tindakan. Saya merasa penelitian mereka termasuk dalam nasihat itu.

Saya juga menyaksikan anak muda yang setiap hari memeriksa kabar palsu di media sosial. Mereka rela menelusuri data agar masyarakat tidak terperangkap fitnah. Saya pernah duduk bersama salah satu dari mereka. Katanya, kalau tidak ada yang menjaga kebenaran, masyarakat bisa rusak. Kalimat itu terdengar berat, tapi memang benar.

UMKM di sekitar rumah saya juga memberi pelajaran sendiri. Mereka bangun toko dini hari. Mereka layani pelanggan dengan jujur. Mereka bertahan meski pendapatan naik turun. Rasulullah pernah memuliakan pedagang yang jujur. Saat melihat mereka, saya merasa sedang melihat orang yang diam-diam menjalankan sabda itu.

Saya beberapa kali mampir ke taman bacaan kecil yang dikelola teman saya di kampung. Rak bukunya tidak banyak. Tapi anak-anak datang dengan mata berbinar. Teman saya bilang, kalau satu anak saja membaca dengan senang, itu sudah cukup. Ibnu Mas’ud pernah bilang bahwa kebodohan adalah gelap yang panjang. Saya melihat taman bacaan kecil itu sebagai lampu kecil yang Allah titipkan kepada seseorang yang bersedia menyalakannya.

Semua pengalaman kecil ini membuat saya merasa bahwa pahlawan tidak selalu lahir dari situasi besar. Banyak pahlawan hadir dalam hidup kita setiap hari. Mereka tidak pakai seragam. Mereka tidak pidato. Mereka hanya melakukan kebaikan karena hatinya terpanggil. Ketika Allah menitipkan kebaikan pada seseorang, hasilnya selalu terasa. Anda tinggal melihat lebih dekat.

Hari Pahlawan mengajak kita berhenti sebentar. Mengingat bahwa apa pun yang kita miliki hari ini adalah bagian dari rahmat Allah. Juga hasil kerja banyak orang yang mungkin tidak pernah kita kenal. Tugas kita sederhana. Jangan biarkan amanah itu berhenti di tangan kita. Lanjutkan dengan langkah kecil. Dengan kejujuran. Dengan bantu orang yang sedang kesulitan. Dengan menjaga akal sehat dan lingkungan.

Jika langkah itu dilakukan dengan hati yang bersyukur, mungkin di mata orang lain itu kecil. Tapi di sisi Allah, bisa jadi itu lebih besar dari yang kita kira.

-----
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Wakil ketua Tanfidziah PCNU Kota Sukabumi. Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah


Jejak Sunyi KH Ahmad Sanusi dan Cara Kita Menjadi Pahlawan Hari Ini



Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha 


Saya selalu merasa ada yang berbeda setiap melewati kawasan Gunungpuyuh, Sukabumi. Udara terasa lebih tenang. Jalanan tidak terlalu bising. Di tengah suasana itu, saya sering teringat satu nama yang lahir dari kota kecil ini. KH Ahmad Sanusi. Ulama. Pejuang. Pendidik. Sosok yang memilih jalan berat pada zamannya. Saya tumbuh besar tanpa benar-benar mengenalnya. Baru setelah dewasa saya mulai membaca kisahnya. Rasanya seperti menemukan kembali ruang sejarah yang selama ini lewat begitu saja.


Beliau pernah dipenjara kolonial karena gagasan. Pernah diasingkan ke Nusakambangan karena tulisan yang dianggap menggerakkan rakyat. Saya membayangkan malam-malam panjangnya. Sunyi. Gelap. Tidak ada jaminan esok akan lebih baik. Tapi beliau tetap menulis. Tetap mengajar. Tetap menyalakan harapan orang-orang di sekelilingnya. Dalam satu catatan, ia mengatakan bahwa ilmu harus dibawa ke mana saja, bahkan ketika berada dalam tekanan. Saya membaca itu pelan-pelan sambil menelan ludah. Rasanya seperti menampar kesadaran saya sendiri.


Saya teringat pada satu ayat. Allah berfirman bahwa Dia akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Ayat itu terasa dekat ketika membayangkan perjuangan KH Sanusi. Beliau tidak membawa senjata. Beliau membawa ilmu yang hidup. Ilmu yang membuat rakyat berani berdiri tegak. Dari hadits, saya juga ingat pesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Saya merasa dua pesan itu menyatu dalam dirinya. Tidak bising. Tidak banyak bicara. Tapi dampaknya sampai hari ini.


Kadang saya bertanya pada diri sendiri. Bagaimana caranya kita menghormati pahlawan seperti beliau. Apakah cukup dengan mengingat tanggal. Membuat spanduk. Atau menulis satu dua kalimat di media sosial. Jawabannya tidak sederhana. Saya yakin kita menghormati mereka dengan memperbaiki diri. Dengan menghidupkan nilai yang mereka jaga. Nilai kejujuran. Ketabahan. Keberanian mengambil sikap saat banyak orang memilih diam.


Saya sering merasa malu. Kita hidup lebih nyaman. Kita punya banyak fasilitas. Kita bebas berbicara. Tapi kadang kita takut bersuara ketika melihat ketidakadilan. Takut dianggap berbeda. Takut tidak diterima. Padahal para pahlawan dulu justru memilih risiko itu. Mereka tidak menunggu situasi aman. Mereka bergerak karena merasa ini tanggung jawab. Saya membatin, mungkin inilah jarak paling besar antara kita dan mereka.


Namun saya juga percaya setiap zaman punya medan juangnya sendiri. Hari ini kita tidak berperang di Surabaya. Kita tidak dibuang ke Nusakambangan. Tapi kita menghadapi godaan korupsi. Informasi yang simpang siur. Konflik di sekolah. Keretakan sosial. Lingkungan yang rusak. Kebiasaan menyalahkan tanpa mau memperbaiki. Tantangan ini tidak kecil. Butuh keberanian juga. Sama seperti keberanian menolak tunduk pada kolonial.


Di ruang kerja saya, ada foto lama KH Ahmad Sanusi yang saya cetak kecil. Gambarnya agak buram. Saya sengaja tidak menggantinya. Setiap melihatnya, saya seperti diajak kembali ke nilai paling sederhana. Anda tidak harus sempurna untuk memberi manfaat. Anda cukup jujur. Tulus. Mau belajar. Mau berbuat. Satu langkah kecil bisa jadi cahaya untuk orang lain. Saya mengingat pesan Imam Al Ghazali. Beliau pernah menulis bahwa seseorang baru benar-benar hidup saat ia hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya.


Sukabumi punya warisan itu. Bukan hanya bangunan. Tapi teladan. Saya ingin menulis ini dengan rasa syukur. Allah menghadirkan orang-orang pilihan seperti KH Ahmad Sanusi. Allah memberi bangsa ini contoh nyata bahwa perjuangan tidak selalu terlihat heroik. Kadang justru hadir lewat kesabaran panjang. Lewat bacaan malam. Lewat tangan yang terus menulis. Lewat suara yang tetap lembut meskipun tekanan datang bertubi-tubi.


Setiap kali Hari Pahlawan tiba, saya tidak lagi sibuk mencari quote motivasi. Saya cukup bertanya pada diri sendiri. Apa yang bisa saya perbaiki hari ini. Apa yang bisa Anda perbaiki hari ini. Mungkin ini cara paling sederhana menjaga warisan Sukabumi. Warisan seorang ulama yang hidupnya tidak mencari sorotan. Tapi justru memberi cahaya untuk banyak orang. Jika kita bisa menjaga satu nilai saja dari teladannya, saya rasa itu sudah langkah kecil yang berarti.


Itulah cara saya mengenang KH Ahmad Sanusi. Di tengah hidup yang serba cepat ini, saya ingin tetap ingat bahwa sejarah bangsa ini pernah dijaga oleh orang-orang yang berjalan pelan tapi pasti. Orang-orang yang yakin kebaikan tidak selalu butuh panggung. Saya berharap tulisan sederhana ini bisa membuat Anda berhenti sejenak. Menarik napas. Merenung. Dan merasa lebih dekat dengan nilai yang pernah beliau jaga.


--------

Mulyawan Safwandy Nugraha, pegiat literasi dan Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan berkhidmat sebagai staf pengajar di program Pascasarjana institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumi (Inkhas).

Senin, 14 Juli 2025

Seri ke-4 *Menghindari Kultus di Lembaga Pendidikan Islam: Kepemimpinan Partisipatif ala Islam*


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, Peneliti dan Pengabdi pada lembaga pendidikan Islam Swasta, Dosen UIN SGD Bandung, dan ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia. Berpengalaman mengelola Jurnal Ilmiah Bereputasi. 

---000---
Ada satu fenomena yang kerap tak disadari tapi sangat merusak dalam lembaga pendidikan Islam: kultus individu. Seorang pimpinan lembaga pendidikan Islam baik formal dan nonformal, diposisikan begitu tinggi, nyaris tidak bisa disanggah. Semua kebijakan tergantung pada satu orang. Bila ia berhalangan, nyaris seluruh sistem berhenti. Jika ia diganti, banyak yang seakan kehilangan arah.

Kita menyebutnya pemimpin, padahal kadang ia menjelma seperti raja kecil. Ini bukan hanya problem struktural, tapi juga problem teologis dan pendidikan moral.

---000---

*Cak Nur dan Penolakan terhadap Pemimpin yang Tidak Bisa Dikritik*

Nurcholish Madjid dalam banyak tulisan dan ceramahnya menolak keras segala bentuk pengkultusan individu dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa salah satu krisis besar dalam dunia Islam adalah ketika umat berhenti berpikir dan hanya mengikuti satu otoritas tunggal tanpa kritis.

|“Islam bukan agama kultus. Setiap Muslim dituntut berpikir, bersikap kritis, dan tidak terjerumus dalam penghambaan kepada manusia.”| (Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)

Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, peringatan ini menjadi sangat relevan. Lembaga pendidikan Islam yang sehat bukan yang bergantung pada satu figur, tapi yang membangun budaya partisipatif dan shared leadership, kepemimpinan yang dibagi, bukan dimonopoli.

---000---
*Bahaya Kultus dalam Sekolah*

Kultus bukan hanya terjadi ketika guru atau siswa memuja pemimpin sekolah secara verbal. Ia juga terjadi ketika:
1) Tidak ada mekanisme musyawarah yang berjalan;
2) Kritik dianggap pembangkangan;
3) Pujian terhadap pemimpin menjadi kewajiban sosial;
4) Semua kebijakan bersumber dari satu kepala tanpa diskusi terbuka

Kultus akan mematikan inisiatif guru, mengubur keberanian siswa, dan merusak suasana belajar. Sekolah berubah menjadi tempat seragam secara pikir dan perilaku. Tidak ada ruang berbeda pendapat, dan akhirnya, tidak ada proses belajar yang sejati.

---000---

*Islam Mendorong Kepemimpinan yang Terbuka*

Dalam Al-Qur’an, kita dapati prinsip dasar kepemimpinan Islam dalam firman Allah:

| “...dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.”| (QS. Ali Imran [3]: 159)

Cak Nur mengaitkan ayat ini dengan tradisi demokrasi dalam Islam. Ia menyebut bahwa musyawarah adalah sarana utama untuk menghindari otoritarianisme dalam kepemimpinan.

| “Islam sejak awal menekankan prinsip musyawarah, karena dari situlah nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab sosial tumbuh.”| (Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)

---000---
*Membangun Kepemimpinan Partisipatif di Sekolah*

Kepemimpinan partisipatif bukan berarti semua orang harus sepakat dalam semua hal. Tapi ia membuka ruang agar setiap orang dilibatkan, dihargai pendapatnya, dan diberi ruang tumbuh.

Berikut prinsip-prinsip praktis yang bisa diterapkan:

1. Musyawarah dalam pengambilan kebijakan
Bentuk tim kerja dari guru dan staf yang aktif mengusulkan dan mengevaluasi kebijakan.

2. Forum kritik terbuka. Adakan sesi rutin di mana guru dan murid bisa memberi masukan kepada manajemen tanpa takut dihukum.


3. Rotasi dan regenerasi kepemimpinan. Kepemimpinan yang sehat tidak melekat seumur hidup pada satu orang. Ada ruang regenerasi dan distribusi tanggung jawab.

4. Hilangkan “zona eksklusif” pemimpin. Kepala sekolah bukan tokoh tak tersentuh. Ia harus hadir dalam ruang guru, ruang kelas, dan diskusi murid.

---000---

*Pemimpin yang Membebaskan, Bukan Mendominasi*

Cak Nur menegaskan bahwa Islam adalah agama pembebasan, termasuk dari penindasan struktural dan pemusatan otoritas.

|“Kekuasaan dalam Islam adalah amanah. Dan amanah berarti tanggung jawab sosial yang harus dijalankan secara terbuka dan adil.”| (Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)

Pemimpin di lembaga pendidikan Islam seharusnya tidak menciptakan ketergantungan, tapi membangun sistem yang bisa berjalan walaupun ia tidak hadir. Ia membimbing orang lain untuk bisa menggantikannya. Ia melatih, bukan menaklukkan. Ia memerdekakan, bukan menguasai.

---000---
*Penutup*

Pemimpin yang baik tidak dibentuk oleh banyaknya pujian, tetapi oleh kemampuannya mendengarkan, membuka ruang partisipasi, dan menjaga kepercayaan. Sekolah Islam yang sehat adalah sekolah yang demokratis, bukan feodal. Yang mendidik dengan nilai, bukan dengan ketakutan.

Maka jika kita ingin mewujudkan pendidikan Islam yang benar-benar membebaskan, langkah pertama adalah membebaskan lembaga kita dari pengkultusan, dan membangun kepemimpinan yang membagi peran, bukan menguasai peran. 

Dari semua uraian di atas, tidak berlebihan kiranya, jika Saya mengambil simpulan: Jika Anda ingin menjadi Pemimpin yang Tidak Tergantikan, maka Anda harus bisa digantikan. Tentang simpulan ini, tentu akan saya ulas pada pembahasan lain waktu.

Minggu, 13 Juli 2025

Kegiatan Juri Madrasah Award 2018







Hijrah: Ketika Waktu Mengajak Kita Jadi Lebih Manusia


Oleh: 
*Mulyawan Safwandy Nugraha*

Setiap kali 1 Muharram tiba, saya seperti diingatkan oleh sesuatu yang halus tapi tajam: waktu tak pernah berhenti. Ia terus berjalan, pelan-pelan tapi pasti, meninggalkan siapa pun yang tak mau bergerak. Tahun baru Islam bukan tentang perayaan meriah. Tidak ada suara petasan, tidak ada gegap gempita. Tapi di sanalah justru letak kekuatannya: ia mengajak kita merenung diam-diam, tapi dalam.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, kalau dipikir-pikir, bukan peristiwa yang heboh. Tidak ada pasukan besar, tidak ada bentrokan dahsyat. Tapi dari situlah Islam memulai fondasi peradabannya. Jadi saya sering berpikir, mungkin hidup kita pun butuh momen kecil tapi menentukan. Bukan lompatan besar, tapi langkah sadar ke arah yang lebih baik.

Kita sering terjebak dalam rutinitas. Bangun pagi, kerja, pulang, lalu tidur. Ulang lagi besok. Lama-lama kita seperti mesin. Produktif, tapi tak selalu merasa hidup. Di titik itu, hijrah bisa menjadi tanda seru: hei, masihkah kamu menjadi manusia, atau sekadar menjalani hidup secara otomatis?

Hijrah, buat saya, bukan soal pindah rumah atau ganti pekerjaan. Tapi soal keberanian meninggalkan hal-hal yang membuat jiwa kita mati pelan-pelan: iri hati, dendam lama, rasa malas yang dibungkus santai. Bahkan kadang, hijrah itu cuma sekadar diam saat ingin membalas. Atau menahan komentar sarkas yang sebenarnya sudah di ujung lidah.

Setiap tahun baru, saya punya kebiasaan kecil: mencatat pertanyaan untuk diri sendiri. Misalnya, “Apakah saya lebih sabar dari tahun lalu?” atau, “Kenapa saya masih mudah kesal pada hal remeh?” Jawabannya sering kali menyebalkan. Tapi dari situlah proses perubahan bisa dimulai. Kalau tidak jujur pada diri sendiri, kita akan terus bersembunyi di balik topeng.

Agama, dalam pemahaman saya, adalah undangan untuk terus bertumbuh. Bukan sekadar taat, tapi juga tangguh. Tuhan tak menuntut kita menjadi sempurna, tapi Dia ingin kita terus belajar menjadi lebih baik. Dan proses itu sering kali sepi, melelahkan, dan tak terlihat orang. Tapi percayalah, nilainya justru ada di sana.

Kadang saya merasa, banyak orang tampak sibuk, tapi sebenarnya bingung. Banyak yang kelihatan bahagia, tapi kosong. Kita mengejar banyak hal, tapi lupa untuk menengok ke dalam. Hijrah bisa jadi momen jeda. Bukan berhenti, tapi menyesuaikan arah. Seperti kapal yang menyetel ulang kompas sebelum melanjutkan pelayaran.

Saya teringat ucapan seorang teman: “Yang bikin hidup berat itu bukan masalah, tapi cara kita meresponnya atau menanggapinya.” Kalimat sederhana, tapi dalam. Barangkali kita tak perlu mengubah dunia luar. Cukup ubah cara kita memandangnya. Dan itu, juga bagian dari hijrah.

Dalam konteks yang lebih luas, bangsa ini juga butuh hijrah. Dari ujaran kebencian ke dialog yang sehat. Dari politik identitas ke kerja sama. Dari saling curiga ke saling dukung. Kita tak bisa berharap perubahan kalau tak ada keberanian untuk beranjak. Perubahan sosial selalu dimulai dari kesadaran personal.

Hijrah bukan soal meninggalkan sesuatu, tapi menuju sesuatu. Bukan lari dari kenyataan, tapi mendekat ke makna. Tuhan memberi waktu bukan supaya kita sekadar tua, tapi supaya kita tumbuh. Dan pertumbuhan itu, kalau boleh jujur, kadang menyakitkan. Tapi tetap lebih baik daripada diam dan membusuk.

Jadi, saat tahun baru ini datang, saya tak punya target muluk. Cukup satu: menjadi sedikit lebih baik dari kemarin. Lebih sabar, lebih jujur, lebih ringan memaafkan, lebih banyak waktu untuk anak dan isteri, lebih menyedikitkan waktu utk hal scroll Tiktok dan medsos lainnya. Karena itu semua, walau kecil, kalau dikumpulkan, bisa jadi fondasi untuk hidup yang lebih utuh. Dan itulah, saya kira, tujuan dari hijrah.


############
*) Akademisi dan pegiat pemikiran Islam transformatif. Tertarik pada isu Kepemimpinan, Manajemen, Pendidikan. Pengelola Jurnal Ilmiah Bereputasi dan Terakreditasi. Saat ini diamini sebagai Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia

*Sekolah Swasta dan Amanah Kecendekiaan: Refleksi atas Tanggung Jawab Bersama*


Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pengabdi pada lembaga pendidikan swasta, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia

Dalam pemikiran Islam klasik, pendidikan adalah bagian dari amal jariyah yang paling agung. Ia tak hanya menyangkut warisan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter manusia dan peradaban. Karena itu, pendidikan tak semestinya dipandang sebagai ladang mencari keuntungan, melainkan ladang pengabdian. Kita mengenal pepatah Arab kuno: al-'ilmu bila 'amalin kasy-syajari bila tsamarin. Artinya, ilmu tanpa pengamalan ibarat pohon tanpa buah. Begitu pula sekolah: tanpa keikhlasan dan kompetensi, ia akan gersang, meskipun tampak besar dan megah.

Negara memang berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. Ini adalah amanat konstitusi yang bersifat mutlak. Tidak ada kewajiban bagi masyarakat untuk menggantikan peran negara. Namun, dalam sejarah Islam maupun Indonesia, peran masyarakat dalam pendidikan adalah manifestasi dari kesadaran spiritual dan sosial. Lihatlah bagaimana pesantren tumbuh jauh sebelum republik ini berdiri. Itu bukan karena perintah negara, tetapi karena kesadaran moral untuk mencerdaskan umat.

Namun, bila masyarakat ingin mendirikan sekolah, maka itu harus dengan kesadaran bahwa mereka sedang mengambil peran kenabian: membimbing, mendidik, dan mencetak generasi. Peran ini mulia, namun juga berat. Maka tidak cukup hanya dengan semangat. Semangat tanpa ilmu adalah seperti kapal tanpa kemudi. Mendirikan sekolah memerlukan visi yang jernih, strategi yang matang, dan sumber daya yang memadai. Niat saja tak cukup. Dalam Islam, niat harus beriring dengan istikamah dan itqan, ketekunan dan kesungguhan untuk menghasilkan yang terbaik.

Sayangnya, di banyak tempat, kita justru melihat sekolah-sekolah didirikan dengan motivasi yang beragam, sebagian di antaranya bersifat duniawi. Sekolah menjadi sarana penghidupan, bukan pengabdian. Bahkan dalam beberapa kasus, sekolah dijalankan seperti perusahaan keluarga: anak, istri, dan kerabat dekat semua mendapat peran strategis, tanpa memperhatikan kompetensi. Guru menjadi buruh murah, murid menjadi objek pemasukan. Ini tentu mencederai ruh pendidikan.

Pemerintah pun punya bagian kesalahan. Dalam banyak kasus, izin pendirian sekolah diberikan dengan sangat mudah, tanpa kajian tentang kesiapan yayasan dari sisi anggaran, SDM, dan kapasitas manajerial. Maka wajar bila kemudian banyak sekolah swasta terseok-seok di tengah jalan, tak sanggup menggaji guru dengan layak, dan akhirnya tutup atau berubah fungsi.

Namun kita tidak boleh terus menerus saling menyalahkan. Dalam masyarakat madani yang sehat, semua pihak harus bersedia muhasabah, melakukan introspeksi. Sekolah swasta tidak boleh terus berada di posisi menuntut afirmasi, subsidi, atau jatah bantuan dari negara. Ia harus tumbuh dengan kemandirian. Dan kemandirian itu akan tumbuh jika kepemimpinan lembaga diserahkan pada orang-orang berilmu dan berintegritas.

Saat ini, masyarakat semakin cerdas. Mereka memilih sekolah bukan karena jarak atau promosi, tetapi karena mutu. Maka, jalan satu-satunya adalah berbenah. Sekolah swasta harus memperkuat tata kelola, meningkatkan kapasitas guru, memperbaiki sistem rekrutmen, memperhatikan kompensasi dan kesejahteraan tenaga pendidik, serta membangun budaya belajar yang sehat dan merdeka. Inilah bentuk ijtihad zaman kini: memaknai pendidikan sebagai amanah intelektual dan spiritual.

Yayasan sebagai penyelenggara sekolah semestinya menjadi rahmah bagi lembaga, bukan beban. Ia seharusnya seperti seorang ayah yang melindungi, membimbing, dan merawat anak yang dilahirkannya. Bukan seperti pemilik perusahaan yang menuntut keuntungan dari anak perusahaannya.

Pada akhirnya, jika sekolah dikelola dengan _niyyah_ yang benar, dengan amanah yang kokoh, dan dengan ilmu yang memadai, maka bukan hanya lembaga itu yang tumbuh, tetapi juga para pelakunya. Kesejahteraan pun akan datang, bukan diminta, tapi mengalir sebagai buah dari keberkahan.

Sebagaimana kata Imam al-Ghazali, kebaikan dunia ini bersumber dari dua hal: ilmu dan pendidikan. Jika keduanya rusak, maka rusaklah dunia ini seluruhnya. Maka kita semua, negara, masyarakat, guru, dan yayasan, punya peran yang tak bisa dihindari. Mari kita jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Wallahu 'a'lamu.

Seri 3 *Kepemimpinan Transformatif dan Spirit Iqra’: Menjadi Kepala pada lembaga Pendidikan Islam yang Mencerahkan*


Oleh: *Mulyawan Safwandy Nugraha*

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, Pendidik, Peneliti dan Pengabdi yang saat ini menjadi Dosen UIN SGD Bandung, Institut KH Ahmad Sanusi Sukabumi, STAI Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi.


Dalam Al-Qur’an, wahyu pertama yang turun bukan perintah salat, bukan zakat, bukan pula membangun lembaga atau negara. Yang pertama justru satu kata sederhana namun revolusioner: “Iqra", artinya bacalah.

Maksud lebih luas: Bacalah dunia, bacalah dirimu, bacalah realitas. Kata ini tidak hanya menandai lahirnya agama Islam secara tekstual, tetapi juga menandai arah dasar peradaban Islam: bahwa agama ini dibangun di atas kesadaran, pemahaman, dan perubahan. Maka, kalau kita bicara tentang kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam, pertanyaan dasarnya bukan lagi sekadar “siapa yang memimpin?” tapi “apakah kepemimpinan itu mencerdaskan?”

*Iqra’ Sebagai Ruh Kepemimpinan Pendidikan*

Kepemimpinan transformatif adalah kepemimpinan yang membebaskan. Ia tidak mengandalkan otoritas struktural, tapi kekuatan inspirasi. Pemimpin transformasional tidak sekadar menyuruh dan memerintah, tapi menyulut kesadaran pada mereka yang ia pimpin.

Dan bukankah ini juga yang dilakukan Rasulullah SAW? Beliau memimpin bukan dengan kekerasan, bukan dengan teriakan. Beliau hadir dengan akhlak, dengan pembacaan realitas sosial yang dalam, dan dengan harapan. Inilah yang membedakan antara pemimpin administratif dan pemimpin visioner.

Nurcholish Madjid, atau Cak Nur, sering menekankan bahwa kesadaran keagamaan harus ditopang oleh kesadaran rasional dan moral

|“Kesadaran keagamaan itu seyogianya berdiri di atas landasan rasional dan moral. Tanpa itu, agama bisa menjelma menjadi kekuatan gelap.”|
(Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)


Maka pemimpin pendidikan Islam hari ini harus mampu menanamkan spirit Iqra’ bukan hanya pada siswa, tapi pertama-tama pada dirinya sendiri dan seluruh jajarannya.

*Cak Nur dan Misi Kemanusiaan Pendidikan*

Cak Nur tidak menulis banyak tentang manajemen pendidikan dalam makna teknis, tapi pemikirannya sangat kaya untuk dibaca sebagai inspirasi perubahan struktural dan kultural dalam lembaga pendidikan. Ia menolak bentuk-bentuk keberagamaan yang hanya simbolik. Bagi Cak Nur, agama harus menjadi jalan untuk menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya.

Kalau kita mengelola sekolah Islam hanya sebagai tempat mengajar hafalan, tanpa membuka ruang dialog, berpikir kritis, dan tumbuhnya karakter, maka sejatinya kita sedang mengkhianati semangat wahyu pertama itu.

| “Islam adalah agama kemanusiaan, bukan hanya dalam arti sebagai sistem nilai untuk manusia, tetapi karena Islam memang ditujukan untuk pembebasan dan pemanusiaan.”|
(Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)

Dalam konteks pendidikan, membebaskan berarti mengantar siswa dan guru dari ketakutan menuju keberanian berpikir; dari ketergantungan menuju kemandirian; dari dogma menuju pemahaman.

*Membaca Zaman, Menjawab Tantangan*

Kepemimpinan transformatif lahir dari kemampuan membaca konteks. Dalam istilah Cak Nur, kita harus “beragama secara rasional dan historis.”
(Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)

Artinya, nilai-nilai Islam harus dihadirkan secara kontekstual, menjawab tantangan zaman, bukan membungkus diri dalam nostalgia romantik masa lalu.

Mari kita jujur: banyak lembaga pendidikan Islam hari ini lebih sibuk pada tampilan luar. Seragam panjang, jargon religius, parade hafalan. Tapi tak ada ruang bertanya, tak ada ruang ragu, apalagi ruang berdialog. Semuanya digerakkan oleh ketakutan akan kehilangan identitas.

Padahal, Cak Nur justru percaya bahwa iman yang kokoh tumbuh dari proses berpikir, bukan dari penggiringan paksa.

| “Agama, bagi saya, adalah keikhlasan total—bukan ketakutan.”|
(Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)

Maka pemimpin di lembaga pendidikan Islam harus hadir sebagai pembaca zaman. Ia harus tahu bahwa generasi hari ini tidak bisa disamakan dengan generasi dua dekade lalu. Cara mereka belajar, bertanya, memprotes, dan mencari makna, jauh berbeda.

*Tiga Pilar Kepemimpinan ala Spirit Iqra’*

1. Keberanian untuk Berubah
Pemimpin transformatif tidak takut meninjau ulang kurikulum, membuka diskusi, atau menghapus praktik-praktik yang kaku dan mengekang.

2. Kemampuan Mendengar dan Belajar
Dalam surah Az-Zumar [39:18], Allah berfirman:
“Sampaikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
Mendengar adalah seni kepemimpinan yang jarang diajarkan.

3. Keteladanan dalam Berpikir
Pemimpin sekolah yang membaca, merenung, dan menulis akan lebih mudah menghidupkan budaya belajar. Ia tidak perlu memerintah—cukup memberi teladan.

*Menutup Sekat Antara Ilmu dan Iman*

Salah satu warisan penting dari Cak Nur adalah gagasannya tentang integrasi ilmu dan iman. Ia menolak dikotomi ilmu dunia dan ilmu agama.

|“Seluruh ilmu, bila diarahkan pada kemaslahatan dan kebajikan, adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.”|
(Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)

Kepala di lembaga pendidikan Islam yang terinspirasi semangat ini tidak akan menempatkan guru matematika sebagai pelengkap, atau siswa IPA sebagai kurang religius. Semua bidang ilmu diberi panggung dan kehormatan yang sama, selama dipandu dengan nilai-nilai ilahiah.

*Penutup*

Spirit Iqra’ adalah seruan perubahan. Dan dalam konteks pendidikan, perubahan itu dimulai dari yang paling atas: dari pemimpinnya. Kalau kepala sekolah tidak berubah, lembaga pun akan sulit tumbuh.

Maka mari kita tiru Cak Nur, bukan dalam gaya atau penampilan, tapi dalam semangatnya: membaca zaman, menjawab tantangan, dan tak pernah berhenti belajar.

Karena pada akhirnya, pendidikan Islam bukan soal gedung dan seragam, tapi soal ruh dan arah. Dan kepemimpinan transformasional adalah mereka yang mampu menyalakan arah itu, bersama yang mereka pimpin.

_Wallahu 'a'lamu._p

Seri 2. *Api yang Memimpin: Kepemimpinan Pendidikan Islam dalam Sorotan Cak Nur*



Oleh: *Mulyawan Safwandy Nugraha*

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, Pendidik, Peneliti dan Pengabdi yang saat ini menjadi Dosen UIN SGD Bandung, Institut KH Ahmad Sanusi Sukabumi, STAI Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi.


*Awwalan*
Kadang-kadang, kita lupa bahwa lembaga pendidikan Islam bukan hanya tempat menghafal ayat dan menanamkan kedisiplinan. Ia adalah ruang hidup tempat ide, semangat, dan nilai tumbuh atau layu. Dalam ruang itu, siapa yang memimpin—dan bagaimana cara ia memimpin—menentukan arah dan napas lembaga tersebut.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan satu pengakuan sederhana: saya merindukan pemimpin lembaga pendidikan yang tidak hanya bisa mengelola rapat dan absen guru, tapi yang punya api. Api berpikir, api batin, dan api keberanian untuk berjalan di jalan yang sulit, demi satu hal: memanusiakan manusia lewat pendidikan.

Dan ketika saya menyebut “api”, saya teringat kepada seorang tokoh yang dalam banyak hal jauh dari dunia teknis pendidikan, tapi justru mewariskan semangat yang relevan bagi kepemimpinan pendidikan Islam saat ini: Nurcholish Madjid, atau Cak Nur.

*Bukan Soal Gaya, Tapi Soal Pandangan Dunia*

Cak Nur tidak pernah menjadi kepala sekolah. Ia juga tidak pernah mengelola yayasan pendidikan. Ia Pernah menjadi Rektor di universitas Paramadina, sebuah kampus dengan ciri khas cakNur, excellent. Tapi pemikirannya tentang Islam yang membebaskan, mencerahkan, dan memanusiakan justru terasa sangat menyentuh jantung persoalan pendidikan Islam hari ini.

Ia pernah berkata: “Agama itu harus menjadi sumber pencerahan, bukan kegelapan; pembebas, bukan penindas.” Lalu, saya bertanya dalam hati: berapa banyak pemimpin lembaga pendidikan Islam yang sungguh-sungguh menjadikan diri mereka sebagai sumber cahaya? Berapa banyak yang tidak sekadar mengelola bangunan fisik dan agenda tahunan, tapi juga menjaga nyala batin lembaga yang ia pimpin?

Kepemimpinan dalam pendidikan Islam, dalam semangat Cak Nur, bukanlah soal karisma, sertifikat, atau jabatan. Ia adalah amanah. Dan amanah itu harus dijiwai oleh niat untuk melayani, bukan menguasai; membimbing, bukan menaklukkan.

*Kepemimpinan Adalah Ibadah*

Sayangnya, kita masih menjumpai pemimpin lembaga pendidikan Islam yang mendefinisikan kepemimpinan seperti manajer pabrik: mengatur, mengawasi, dan menekan target. Lembaga dijalankan seperti mesin. Guru dianggap operator. Murid adalah produk. Dan yang paling sering diabaikan: nilai.

Padahal dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah bentuk ibadah. Nabi Muhammad SAW sendiri menggambarkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab besar: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”

Ini bukan ungkapan untuk menakut-nakuti. Tapi pengingat bahwa memimpin sekolah berarti memimpin kehidupan banyak orang, dari guru, staf, hingga murid-murid yang mungkin di rumahnya tidak pernah punya ruang untuk tumbuh. Maka, jika seorang kepala sekolah tidak punya kesadaran spiritual, ia akan mudah tergelincir dalam formalitas dan kekuasaan yang hampa.

*Cak Nur dan Pemimpin yang Tidak Gagap Zaman*

Salah satu warisan besar dari Cak Nur adalah keberaniannya untuk tidak gagap zaman. Ia membaca dunia modern bukan dengan kecurigaan, tapi dengan keterbukaan. Ia tidak menolak Barat mentah-mentah, tapi memilah: mana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan mana yang tidak.

Ini penting dalam konteks pendidikan Islam hari ini. Pemimpin lembaga pendidikan Islam harus berhenti alergi pada perubahan. Mereka harus siap berdialog dengan teknologi, metode pembelajaran baru, dan tuntutan zaman. Tapi dengan satu syarat: tidak kehilangan akar.

Kepemimpinan yang baik bukanlah yang hanya bisa berkata “kita harus berubah”, tapi yang bisa menjelaskan mengapa harus berubah dan bagaimana tetap menjaga nilai-nilai Islam di tengah perubahan itu. Ini bukan perkara mudah, tapi sangat mungkin jika pemimpinnya punya “api berpikir” seperti yang Cak Nur wariskan.

*Memimpin Dengan Hati yang Tumbuh*

Barangkali, salah satu kutipan Cak Nur yang paling dalam maknanya bagi saya adalah ini: “Agama, bagi saya, adalah keikhlasan total.” Dan dari sana saya belajar bahwa memimpin lembaga pendidikan Islam dengan ikhlas berarti memimpin dengan hati yang terus tumbuh.

Bukan hati yang keras dan mudah menghakimi. Tapi hati yang peka, yang tahu kapan harus mendengar, kapan harus mengambil keputusan, dan kapan harus memaafkan.

Karena pada akhirnya, yang paling diingat dari seorang pemimpin bukan target tahunan, bukan akreditasi, bukan pembangunan aula. Tapi apakah ia pernah sungguh-sungguh menjadi teladan, memberi ruang tumbuh bagi bawahannya, dan membuat lembaganya menjadi tempat yang hidup.

*Akhir Kata*

Kita tidak kekurangan pemimpin formal di lembaga pendidikan Islam. Tapi kita sering kekurangan pemimpin yang berani membawa cahaya, bukan hanya menyalakan lampu.

Kepemimpinan bukan soal besar kecilnya lembaga, tapi soal besar kecilnya niat, gagasan, dan keberanian untuk menyalakan api. Dan dari Cak Nur, kita belajar: yang dibutuhkan umat ini bukan penghafal sejarah, tapi penyala masa depan.



Jangan Sampai Tali Terakhir Itu Ikut Putus

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ada orang yang kalau mendengar pembicaraan tentang shalat langsung sibu...